Dua remaja yang jenuh dengan sekolah tanpa sengaja menemukan sanggar wayang tua dan berkenalan dengan dalang perempuan terakhir beserta cucunya yang pendiam. Saat mereka berusaha menghidupkan kembali warisan budaya itu lewat teknologi digital, mereka perlahan menyadari bahwa pertemuan tersebut menyimpan rahasia yang melampaui batas waktu, kematian, dan warisan mimpi.
Anantari dan Kelana di Balik Kelir Digital
Karya : Nasyifa Ratasha
Ruang kelas terasa seperti sangkar yang sempit, dipenuhi oleh rumus larutan yang berputar-putar di papan tulis. Anantari menopang dagunya, rambutnya lepek karena keringat. Tangan kirinya memutar baut meja dengan obeng yang tampak tidak cocok berada di kelas sains. Guru di depan terus berbicara tentang rumus yang sama sekali tidak dipahami Anantari.
Kelana, sahabat baiknya, duduk dua kursi di sebelah kanan Anantari. Ia sudah lebih dulu menyandarkan kepala di atas lembar tugas. Tangannya menggambar tokoh kartun di halaman belakang buku kimia.
Bel istirahat meraung, membuat lorong menjadi ramai oleh remaja kelaparan. Namun, Anantari dan Kelana tidak ikut ke kantin. Mereka lebih memilih memanjat pagar belakang sekolah yang hanya setinggi bahu Anantari. Langkah mereka gesit karena takut tertangkap.
“Kita mau ke mana hari ini?” tanya Kelana sambil mengikat rambut ikalnya. “Jalan aja dulu,” jawab Anantari. Mereka menyusuri jalan yang aspalnya mulai mengelupas, melewati sawah yang mulai mengering, lalu masuk ke gang-gang sempit yang kumuh. Matahari bersinar galak, membuat mereka buru-buru mencari tempat berteduh.
Di ujung jalan, tepat di tikungan yang ditumbuhi rumput liar, berdiri sebuah rumah. Dindingnya terbuat dari kayu jati. Pintunya besar dengan bingkai tembaga yang sudah menghijau. Ukiran wayang terpahat di bingkai itu. Semar dengan perut bulatnya, Petruk dengan hidung panjangnya, Arjuna dengan busurnya, tapi semua telah kusam termakan hujan dan masa.
Pintu itu terkunci. Namun, seolah paham betul, Anantari menyelipkan obeng pipihnya ke celah lidah kunci sembari mendorongnya pelan. Pintu itu terbuka dengan suara panjang seperti napas sengau.
Cahaya matahari masuk, menyinari debu-debu yang menari bak diterpa lampu sorot. Bau kayu lapuk, kain yang jarang dijemur, dan sedikit aroma dupa yang samar menyambut mereka. Di dekat jendela, seorang nenek bersimpuh di tikar pandan, tangannya menusukkan jarum ke kain putih besar. Itu kelir, kain yang menjadi langit dan bumi dalam pertunjukan wayang.
Nenek itu menatap mereka. Wajahnya tegas meski berkeriput, rambutnya putih sempurna. Anantari sudah siap dimarahi, menyusun kalimat maaf di lidahnya. Tapi nenek dengan kain jarik itu hanya tersenyum tipis, lalu bertutur dengan suara serak yang hangat. “Mari duduk, Nduk.”
Di sudut ruangan, duduk seorang remaja laki-laki. Tangannya sibuk memegang pahat dan kulit kerbau, mengukir detail wayang. Rambutnya sebahu, kulitnya kuning langsat, hidungnya mancung, seimbang dengan mata tajamnya. Wajahnya tenang seperti tak tersentuh keramaian di sekitarnya.
Mereka duduk di dekat laki-laki itu. “Namaku Rahayu, ini cucuku, Arjuna.” Nenek itu menuang teh ke dalam dua cangkir tanah liat. “Kalian siapa? Tidak pernah kulihat wajah kalian di desa ini.” Kelana terdiam, mengamati kalender keluaran tahun 1957 bergambar Bukit Seroja yang tergantung di samping wayang Srikandi.
“Saya Anantari. Ini teman saya, Kelana. Kami dari SMA Negeri 1,” sambung Kelana. Rahayu mengangguk pelan, senyumnya hangat. “Sekolah… baguslah. Arjuna juga dulu sekolah, tapi sekarang belajar sama mbahnya saja. Wayang butuh tangan-tangan muda.” Anantari menatap wayang-wayang yang tergantung di dinding. “Nenek seorang dalang?”
“Dulu Mbah satu-satunya dalang perempuan di kabupaten ini,” kata Rahayu dengan mata berbinar. “Sanggar ini warisan keluarga, sudah berdiri selama empat generasi. Tapi sekarang sepi. Orang tidak sering datang. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.” Anantari dan Kelana mendengarkan Rahayu sembari menyesap teh.
Sejak siang itu, setiap kali Anantari dan Kelana membolos, mereka akan kembali ke sanggar. Mereka duduk bersila di lantai kayu yang sejuk, mendengar Rahayu bercerita. Kadang mereka mengantuk saat Rahayu bercerita, kemudian tenggelam dalam kisah wayang yang dituturkannya. Sanggar mengajari mereka banyak hal. Mulai dari memasang kelir wayang, menyalakan blencong, memegang gapit, hingga membersihkan kulit wayang.
Rahayu pernah bercerita tentang kisah karangannya. Mengisahkan Dewi Sekarsurya, putri dewa matahari yang sangat ingin menempuh pendidikan di desa manusia. Kelana membuat sketsa di atas kertas minyak yang diberikan Rahayu. “Ilmu itu, Nduk, bagaikan matahari. Ia tidak akan pilih-pilih siapa yang boleh menerima cahayanya. Kalau mereka berjuang mencarinya, pasti akan diterangi.” Anantari dan Kelana saling pandang, seperti tersentak sesuatu yang tidak terlihat.
Suatu malam, di kamar Anantari yang penuh dengan komponen elektronik bekas, kabel-kabel bertebaran di lantai. Anantari termenung memikirkan pertemuan mereka siang tadi. Pikirannya mengawang pada sanggar wayang Rahayu.
Mengingat air muka Rahayu yang tampak murung kala berkata, “Wayang itu hidup, Nduk, sanggar ini saksinya. Empat generasi berdiri, tokoh-tokoh bernapas berbagai watak di sini. Mereka membawa beragam kisah. Tapi anak-anak zaman sekarang lebih banyak menganggap warisan budaya hal yang kuno.” Kemudian muncul wajah Arjuna yang gusar begitu mengetahui neneknya ingin menjual sanggar karena mulai kehilangan peminat.
“Kita harus melakukan sesuatu,” sambung Kelana yang sejak tadi duduk di atas kasur, menggambar sketsa Dewi Sekarsurya di atas kertas buram. “Biar Mbah Rahayu tidak perlu menjual sanggarnya.” Anantari tidak menjawab. “Kita buat komik,” kata Kelana lagi. ”Cerita tentang Dewi Sekarsurya. Kita sebar di media sosial, biar orang-orang tahu Mbah Rahayu dan sanggarnya.”
“Kita tidak punya uang untuk biaya cetak,” jawab Anantari. “Tidak usah dicetak.” Anantari menatap Kelana dengan heran. “Komik digital, pakai laman web. Kamu bisa buat laman, kan?” Anantari menghela napas panjang. “Bisa, tapi pasti lambat. Berantakan juga.” Anantari tampak ragu. “Tapi, layak dicoba, sih.”
Mereka mulai sejak malam itu. Berulang kali Kelana mencoba membuat garis yang sesuai, tapi sedikit sulit karena layar ponselnya terdapat retakan. Anantari berkelahi dengan kode-kode yang hanya setengah ia pahami. Laman itu lambat sekali dimuat meski sinyal internet mereka stabil. “Jelek, ya?” gumam Anantari, matanya berdenyut setelah berjam-jam menghadap layar. “Yang penting jadi, namanya juga seadanya,” kata Kelana.
Dua minggu kemudian, komik berjudul Dewi Sekarsurya: Warisan Ilmu dari Timur yang hanya berjumlah enam belas halaman selesai. Gambarnya sedikit pecah-pecah, dialognya singkat, tapi cukup menguras tenaga mereka di pekan ujian itu. Di halaman terakhir terdapat foto pintu sanggar yang Kelana jepret diam-diam dan tulisan berisi sumber inspirasi mereka, Sanggar Wayang Rahayu. Mereka mengunggah dan menyebar tautannya ke akun media sosial.
Sejak itu, mereka lebih sering membuka laman web daripada mengoceh banyak hal pada Arjuna yang hanya diam sambil mengukir. Angka pengunjung laman yang tidak kunjung bertambah membuat mereka berdua frustasi. Hingga suatu pagi, setelah jam pertama selesai, hal tidak terduga terjadi. Adit, teman sekelas yang tidak terlalu dekat dengan mereka, menghampiri Kelana sambil membawa ponsel. “Eh, komik wayang ini beneran kalian yang buat?”
“Iya,” jawab Kelana, sedikit grogi. “Keren komiknya. Ini sanggarnya di mana? Aku mau ketemu langsung sama pengarangnya.” Anantari dan Kelana saling pandang. “Di desa belakang sekolah,” sebut Kelana. “Tikungan ketiga setelah sawah.” Adit mengangguk. “Besok Sabtu aku mau ke sana. Boleh, kan?” Kelana ragu. “Boleh,” jawab Kelana, meskipun hatinya sedikit gundah.
Sabtu sore, Adit mengirim pesan. “Kelana, kamu menipuku, ya? Sudah kucari keliling-keliling desa itu. Cuma ada satu sanggar, itu pun sudah lama tutup. Bangunannya sudah mau roboh,” tulis Adit. Kelana tampak bingung, tangannya gemetar begitu melihat gambar yang dikirim Adit. Terlihat jelas bangunan yang amat ia kenali, sedikit tampak lebih tua.
“Besok kita ke sanggar,” kata Anantari. “Pasti Adit berbohong pakai AI. Tidak mungkin sanggar itu lenyap begitu saja,” lanjutnya. “Bagaimana kalau yang dikatakannya betulan? Foto itu jelas sekali, Tari.” Anantari menggeleng, “Kita harus lihat sendiri.” Mereka berusaha menyangkal pesan Adit, tapi justru itu menjelaskan hal yang selalu ingin mereka tanyakan pada Rahayu. Mengenai jam kayu yang tak beranjak dari angka dua belas. Juga suasana sanggar yang selalu teduh meski terik di luar menyengat.
Esoknya sepulang sekolah, mereka mengendarai sepeda motor tua milik ayah Kelana ke desa itu. Oranye dan ungu menari di langit senja. Mereka berhenti di tikungan sanggar. Rumah itu masih persis berdiri di sana. Di halamannya, sesosok pria paruh baya sedang memotong rumput-rumput liar dengan parang.
“Kalian cari siapa?” tanyanya dengan suara berat. Tangannya menyeka keringat di pelipis dengan handuk kecil. “Kami… sering ke sini,” jawab Anantari ragu. “Kami mencari Mbah Rahayu dan Arjuna.” Mata pria itu menatap mereka sambil menyipit kepanasan.
“Duduk dulu, mari,” panggil bapak itu. Ia mengambilkan dua kursi plastik. “Mbah Rahayu itu buyut saya, sudah lama sekali meninggal. Arjuna bapak saya, juga sudah meninggal lima tahun lalu.” Kelana menutup mulut dengan tangan, matanya membelalak.
“Tapi kami baru bertemu mereka hari Senin kemarin,” bisik Anantari. Pria itu menghela napas, diam sebentar. “Saya Welas, anak Bapak Arjuna. Bapak saya besar di panti asuhan sejak Mbah Rahayu meninggal. Saya baru tahu warisan rumah ini setelah dapat surat dari lurah tahun lalu.” Ia menunjuk bangunan itu. “Dulu katanya ini sanggar wayang, tapi sudah kosong puluhan tahun. Saya mau renovasi dikit untuk dijual karena tidak ada yang mengurus sanggar ini.”
Anantari menatap rumah itu, mengingat kenangan di dalamnya. “Jangan dijual, Pak,” pinta Anantari tiba-tiba, suaranya lirih. “Kami bisa bantu urus.” Welas tertawa kecil yang tidak mengejek. “Kalian masih sekolah, Nduk. Urus sanggar butuh biaya dan waktu. Saya tidak punya uang untuk membayar pengurus sanggar.” Hening sejenak. “Kami bisa izin atau bolos. Lagi pula kami tidak minta dibayar, Pak,” kata Kelana. “Kami hanya ingin mempertahankan mimpi Mbah Rahayu dan Pak Arjuna, agar budaya ini tidak hilang.”
Angin sore membawa bau tanah basah. “Baik, nanti kita coba bicarakan. Tapi jangan bolos sekolah, pendidikan itu penting. Mbah saya pasti sedih kalau kalian bolos terus.” Anantari dan Kelana mengangguk. Mereka tertawa lega.
Beberapa tahun setelah kelulusan, mereka kembali ke desa itu. Kini tidak sedang membolos. Datang dengan sepeda motor yang lebih layak. Welas sudah menunggu di halaman rumah itu. “Nah, ini anak-anak muda yang mau urus sanggar,” ujar Welas kepada dua tukang yang sedang bekerja. Anantari dan Kelana tersenyum.
Sanggar itu tidak banyak berubah. Tradisi lamanya tetap ada, tapi sekarang berdiri dengan sentuhan inovasi mereka. Mesin robot dalang yang Anantari buat terkadang memanas, ia masih terus mengembangkannya. Anak-anak muda di desa mulai mempelajari cara mendalangi wayang untuk tampil di desa sebelah.
Animasi wayang milik Kelana ditampilkan dalam wujud tiga dimensi, tapi warnanya sering kali berkedip karena galat. Bersama pengurus lain, ia mengatur lampu LED agar kelir lebih berwarna. Laman mereka berkembang menjadi situs sanggar digital. Berkat itu, sanggar semakin ramai.
Di hari festival budaya, pengurus sanggar telah genap jumlahnya menjadi dua puluh orang. Pengunjung berdatangan dari berbagai daerah. Beberapa mempelajari wayang sambil menunggu pertunjukan dipersiapkan, sebagian lagi mengambil potret untuk diunggah di media sosial mereka.
Kini mereka tahu mengapa hari itu mereka dipertemukan dengan Rahayu dan Arjuna. Barangkali untuk mengirim warisan mimpi lewat pertemuan singkat. Tapi yang terpenting, cerita mereka tidak akan sirna. Tidak di tangan Anantari dan Kelana. Karena tradisi tidak mati, bersama mereka, ia bergerak