Lilis memiliki sebuah pertanyaan. "Kali ini kemana lagi ia harus pulang?" Selama ini ia tak pernah menemukan jawabannya. Hingga pada suatu ketika, sebuah hal terjadi dalam hidupnya
Tentang Pulang
Kali ini, aku menatapnya. Memandang rintik air yang menutup pipinya. Mungkin kali ini aku disertai dengan keberuntungan. Mungkin tuhan memberikan jalannya. Jauhnya perjalanan telah membawaku kepadanya, walaupun hanya sekedip mata yang tersisa. Ia terlihat begitu sengsara. Mengapa ia bisa menjadi sesengsara ini? Hanya dengan dua pusara di hadapannya? Apakah semenyakitkan itu? Entahlah, aku tak pernah merasakan kehilangan yang semacam ini. Ia bersimpuh di hadapan dua pusara itu, memeluk salah satunya. Meninggalkan air mata di pusara yang masih basah. Lima jengkal langkah tersisa. Belum sempat aku mengambil kembali langkahku, teriakannya mengisi telingaku. “Apa yang kau lakukan disini, Bragas!” Aku tak menjawab, mungkin itu sebuah pengingat bahwa aku telah lama meninggalkannya. Aku mengambil langkah yang tersisa. Kurang satu langkah sebelum ia berdiri dan mendorong diriku hingga mundur beberapa langkah. Ia kembali berteriak. “Kau tidak dengar Bragas! Apakah kau memang tidak punya hati? Pergi!” Ia menutup wajahnya dengan dua tangannya yang masih berbau tanah. Aku tidak menjawab. Mengambil kembali langkah yang hilang. Aku sudah benar-benar berada di hadapannya. Memandang rambut panjangnya yang sepertinya sudah lama tidak dibersihkan. Aku mengulurkan tanganku, menurunkan tangannya. Ia melawan, mencoba melepaskan genggaman tanganku dengan sekuat tenaga. Sayangnya, itu sia sia. Ia terduduk kembali di tanah, aku terduduk di hadapannya. Ia kembali menangis, menundukkan kepalanya menghadap tanah yang gursang. Aku menggengam tangannya dengan tanganku, membersihkan bekas tanah yang ada. Ia mulai berbicara dengan suaranya yang selirih bisikan. “Aku tak lagi bisa pulang Bragas. Aku tidak bisa pulang. Kemana aku harus pulang? Sudah tak ada tempat bagiku di bumi ini. Kemana aku harus pulang Bragas! Aku tak bisa pulang. Tidak ada lagi yang Namanya pulang Bragas. Aku ingin pulang Bragas! Aku ingin pulang…” Ia kembali menangis, tangisannya semakin dalam. Saat ini, aku hanya dapat menjawab pendek. “Kau bisa pulang ke manapun yang kau mau Lis… Aku tak tau kau akan pulang ke mana. Tetapi kau bisa pulang Lis. Percayalah kepadaku. Pulanglah ke manapun yang kau mau. Pulanglah Lis, sebelum kau benar-benar pulang,” Ia menatapku dengan mata sembapnya. Aku memerhatikannya lekat, perlahan membawa tubuhnya ke dalam dekapanku. Tubuhnya menegang sejenak sebelum kembali memuntahkan air mata yang terisisa. Aku memeluknya erat, sebelum pagi menjemputnya.
Sinar matahari menyelinap dari balik tirai yang tak tertutup rapat. Aku terbangun menatap kosong apapun yang ada di hadapanku. Mengingat kembali pelukan yang diberikan Bragas kepadaku. Setelah aku tersadar, tubuhku langsung menegak, terduduk di atas ranjang. Aku menyapu sekitar, tak ada siapapun. Aku menyentuh pipiku yang basah. Apakah semua tadi hanyalah mimpi? Mengapa kali ini ia mendatangiku? Tangaku terulur, mengambil pigura kecil di atas meja. Aku menatapnya lamat-lamat. Sebuah foto saat aku dengan Bragas masih berumur 10 tahun. Ia sangat suka menjahiliku saat itu, dan entah mengapa hal itu membuatku ingin terus berada di sampinya. Aku mengusap foto itu. Berkata lirih. “Terima kasih atas segalanya Bragas.” Aku tersenyum kecil. “Selamat pulang,” Aku menaruh pigura foto itu kembali ke tempatnya dan pergi beranjak dari ranjang.











