Category: Submission

  • Tentang Pulang

    Tentang Pulang

    Lilis memiliki sebuah pertanyaan. "Kali ini kemana lagi ia harus pulang?" Selama ini ia tak pernah menemukan jawabannya. Hingga pada suatu ketika, sebuah hal terjadi dalam hidupnya

    Tentang Pulang

    Kali ini, aku menatapnya. Memandang rintik air yang menutup pipinya. Mungkin kali ini aku disertai dengan keberuntungan. Mungkin tuhan memberikan jalannya. Jauhnya perjalanan telah membawaku kepadanya, walaupun hanya sekedip mata yang tersisa. Ia terlihat begitu sengsara. Mengapa ia bisa menjadi sesengsara ini? Hanya dengan dua pusara di hadapannya? Apakah semenyakitkan itu? Entahlah, aku tak pernah merasakan kehilangan yang semacam ini. Ia bersimpuh di hadapan dua pusara itu, memeluk salah satunya. Meninggalkan air mata di pusara yang masih basah. Lima jengkal langkah tersisa. Belum sempat aku mengambil kembali langkahku, teriakannya mengisi telingaku. “Apa yang kau lakukan disini, Bragas!” Aku tak menjawab, mungkin itu sebuah pengingat bahwa aku telah lama meninggalkannya. Aku mengambil langkah yang tersisa. Kurang satu langkah sebelum ia berdiri dan mendorong diriku hingga mundur beberapa langkah. Ia kembali berteriak. “Kau tidak dengar Bragas! Apakah kau memang tidak punya hati? Pergi!” Ia menutup wajahnya dengan dua tangannya yang masih berbau tanah. Aku tidak menjawab. Mengambil kembali langkah yang hilang. Aku sudah benar-benar berada di hadapannya. Memandang rambut panjangnya yang sepertinya sudah lama tidak dibersihkan. Aku mengulurkan tanganku, menurunkan tangannya. Ia melawan, mencoba melepaskan genggaman tanganku dengan sekuat tenaga. Sayangnya, itu sia sia. Ia terduduk kembali di tanah, aku terduduk di hadapannya. Ia kembali menangis, menundukkan kepalanya menghadap tanah yang gursang. Aku menggengam tangannya dengan tanganku, membersihkan bekas tanah yang ada. Ia mulai berbicara dengan suaranya yang selirih bisikan. “Aku tak lagi bisa pulang Bragas. Aku tidak bisa pulang. Kemana aku harus pulang? Sudah tak ada tempat bagiku di bumi ini. Kemana aku harus pulang Bragas! Aku tak bisa pulang. Tidak ada lagi yang Namanya pulang Bragas. Aku ingin pulang Bragas! Aku ingin pulang…” Ia kembali menangis, tangisannya semakin dalam. Saat ini, aku hanya dapat menjawab pendek. “Kau bisa pulang ke manapun yang kau mau Lis… Aku tak tau kau akan pulang ke mana. Tetapi kau bisa pulang Lis. Percayalah kepadaku. Pulanglah ke manapun yang kau mau. Pulanglah Lis, sebelum kau benar-benar pulang,” Ia menatapku dengan mata sembapnya. Aku memerhatikannya lekat, perlahan membawa tubuhnya ke dalam dekapanku. Tubuhnya menegang sejenak sebelum kembali memuntahkan air mata yang terisisa. Aku memeluknya erat, sebelum pagi menjemputnya.

    Sinar matahari menyelinap dari balik tirai yang tak tertutup rapat. Aku terbangun menatap kosong apapun yang ada di hadapanku. Mengingat kembali pelukan yang diberikan Bragas kepadaku. Setelah aku tersadar, tubuhku langsung menegak, terduduk di atas ranjang. Aku menyapu sekitar, tak ada siapapun. Aku menyentuh pipiku yang basah. Apakah semua tadi hanyalah mimpi? Mengapa kali ini ia mendatangiku? Tangaku terulur, mengambil pigura kecil di atas meja. Aku menatapnya lamat-lamat. Sebuah foto saat aku dengan Bragas masih berumur 10 tahun. Ia sangat suka menjahiliku saat itu, dan entah mengapa hal itu membuatku ingin terus berada di sampinya. Aku mengusap foto itu. Berkata lirih. “Terima kasih atas segalanya Bragas.” Aku tersenyum kecil. “Selamat pulang,” Aku menaruh pigura foto itu kembali ke tempatnya dan pergi beranjak dari ranjang.

    Download Original File

  • Dusta Ibu Untukku

    Dusta Ibu Untukku

    Seringkali kita mengartikan kata istimewa sebagai kata bermakna positif. Namun, bagaimana jika di luar sana terdapat anak yang membenci kata itu?

    Download Original File

  • “Ucapkanlah, Raina!”

    “Ucapkanlah, Raina!”

    Bagaimana jika kesempatan yang paling kamu takutkan justru bisa mengubah hidupmu? "Ucapkanlah, Raina!" bercerita tentang Raina, seorang siswi pendiam yang selalu memilih bersembunyi di sudut kelas. Suatu hari, ia ditunjuk untuk mengikuti lomba pidato antarkelas. Di tengah rasa takut, keraguan, dan tekanan untuk tampil di depan banyak orang, Raina perlahan belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak merasa takut. Keberanian adalah tentang terus melangkah meski ketakutan itu ada. Dengan dukungan seorang guru yang percaya padanya, Raina menemukan suaranya, membangun kepercayaan diri, dan menyadari bahwa terkadang perubahan terbesar dimulai dari satu kata sederhana: ucapkanlah.

    Download Original File

  • Cahaya Kecil Ayah

    Cahaya Kecil Ayah

    Cerita pendek ini menampilkan dinamika emosional Cahaya yang berusaha untuk bersinar di depan umum serta Ayahnya yang selalu berada di dekatnya, memeluknya disaat ia sedih, dan mencubitnya saat Cahaya tengah dilanda oleh kegelisahan.

    Download Original File

  • Kapal Selam Yang Tidak Menyelam

    Kapal Selam Yang Tidak Menyelam

    Kapal, hanya satu kata. Namun, dengan satu kata itu Embul bisa menciptakan banyak pertanyaan dari benaknya. Embul tinggal di Bangka, tapi jauh sekali dari laut yang mengharuskannya untuk meredup rasa ingin tahunya. Embul pun hanya bisa membayangkan bahwa kapal itu pasti begitu hebat sampai bisa mengarungi laut yang luas. Sampai, sebuah kabar didengarnya. Seketika, Embul pun berlari kencang. Tidak peduli apakah kabar yang ia dengar nyata atau tidak, benar atau tidak. Yang Embul tahu, ia hanya harus berlari demi rasa ingin tahunya.

    Download Original File

  • Mejuah-juah, Sebelum Kita Menjadi Asing

    Mejuah-juah, Sebelum Kita Menjadi Asing

    Mejuah-juah, Sebelum Kita Menjadi Asing merupakan puisi yang menghadirkan suara Tanah Karo kepada generasi mudanya. Di tengah derasnya arus modernisasi, puisi ini mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus dibayar dengan hilangnya jati diri. Dengan memadukan bahasa Indonesia dan bahasa Karo beserta berbagai simbol budaya lokal, karya ini menjadi ungkapan kasih, kerinduan, sekaligus harapan agar setiap anak yang merantau tetap mengingat akar, budaya, dan tanah kelahirannya. Lebih dari sekadar puisi tentang kampung halaman, karya ini adalah ajakan untuk menjaga identitas budaya tanpa menghalangi langkah menuju masa depan.

    Download Original File

  • Dream Treehouse

    Dream Treehouse

    It’s about a girl who begins to lose sight of her own dreams, feeling defeated and unworthy. Until a memory—whether real or not—leads her to a dream treehouse. A treehouse that holds so many of her dreams, aspirations, and memories.

    Tentang seorang gadis yang mulai kehilangan impian sendiri, merasa kalah dan tidak layak. Hingga sebuah ingatan -yang entah itu nyata atau tidak- membawanya ke sebuah rumah pohon impian. Rumah pohon yang menyimpan begitu banyak impian, cita-cita, dan kenangannya.

    Download Original File

  • Timur, Barat, dan Lautan Mimpi

    Timur, Barat, dan Lautan Mimpi

    Jenna terbangun di dunia yang tidak dikenalnya. Saat berusaha untuk mencari jalan keluar, ia bertemu dengan Shawn, seorang laki-laki yang juga terjebak dengannya disana. Di tempat yang begitu asing, mereka mencoba bertahan dan saling berbagi. Apakah pada akhirnya mereka mampu kembali ke dunia asal mereka?

    Download Original File

  • Suatu Keajaiban di Kampung Pelangi

    Suatu Keajaiban di Kampung Pelangi

    Persahabatan 5 anak-anak diuji ketika menemukan sebuah bangunan tua di tempat terpencil. Bersama-sama, mereka memecahkan misteri dan bahkan menjalin pertemanan dengan seseorang yang tidak diduga.

    Download Original File

  • Janji untuk Jiwa Zamrud Khatulistiwa

    Janji untuk Jiwa Zamrud Khatulistiwa

    Janji untuk Jiwa Zamrud Khatulistiwa merupakan puisi tentang semangat generasi muda dalam merawat mimpi, persatuan, dan kecintaan terhadap Indonesia. Melalui perjalanan menuju panggung perjuangan, puisi ini menggambarkan tekad untuk terus berkarya, berproses, dan mengukir prestasi tanpa melupakan nilai kebersamaan. Di balik ambisi meraih kemenangan, terselip doa, rasa syukur, serta keyakinan bahwa keberhasilan sejati lahir dari kerja keras yang dipersatukan oleh semangat Bhinneka Tunggal Ika.

    Download Original File

  • Kelabu, Perayaan Karya Terakhir

    Kelabu, Perayaan Karya Terakhir

    Kelabu, Perayaan Karya Terakhir mengisahkan perjalanan seseorang yang berusaha berdamai dengan kehilangan. Di tengah langit kelabu, hujan, dan jalan yang terus dilalui, kenangan akan sosok yang telah tiada perlahan berubah menjadi ruang perenungan. Pertemuan dengan sebuah lukisan karya terakhir yang tersisa menjadi simbol bahwa cinta tidak selalu berakhir bersama perpisahan, melainkan hidup dalam ingatan dan karya yang ditinggalkan. Puisi ini mengajak pembaca menerima bahwa setiap perpisahan menyisakan luka, tetapi juga meninggalkan jejak yang akan selalu dikenang.

    Download Original File

  • 2.050 Shuttlecock

    2.050 Shuttlecock

    Kisah perjuangan remaja 12 tahun mengejar mimpi. Sampai dia bertemu sesuatu di 2.050.

    Download Original File