Akibat terlalu sibuk berkerja, Eca sampai menghiraukan ibunya. Eca harus menghadapi penyesalan terbesar dalam hidupnya saat pulang, yaitu mengetahui kabar bahwa ibunya telah tiada
Berikan Aku Satu Kesempatan lagi Untuk Mengulang Waktu
Alarm membuatku terbangun dari tidur penuh mimpi buruk. Saat aku terbangun, aku tidak langsung berdiri, aku melamun dulu. “Tink” Suara notifikasi masuk memecah lamunan ku. Aku pun menengok kearah ponselku. ‘Mama: Kamu hari ini pulang?’Oh ternyata pesan dari mamaku. Aku segera mengambil ponselku yang berada di meja samping tempat tidur. Aku membalas pesan itu, ‘Aku: Enggak tau deh mah, kalau kerjaan aku gak banyak, aku pulang’ Setelah membalas pesan tersebut, aku turun dari Kasur dan pergi ke dapur.
Sesampainya di dapur, aku mengambil segelas air putih lalu duduk di kursi yang ada di sana. ‘Masak telur ceplok aja deh’ Batinku, lalu beranjak bangun dari kursi tersebut. Aku meletakkan teflon di atas kompor, lalu menuangkan minyak di teflon dan menyalakan kompor. Setelah minyaknya panas, aku mengambil telor di kulkas dan memecahkan teluh tersebut ke teflon, lalu aku memasak telor tersebut hingga matang.
Sesudah telor tersebut matang, aku memasukkannya ke dalam tempat bekal, karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB. Sesudah menyiapkan sarapan untuk aku makan di kantor, aku pergi ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor. Aku sudah selesai bersiap untuk ke kantor. Sekarang sudah pukul 6.15 WIB, dan aku sudah memesan ojek online untuk berangkat ke kantor.
Kini aku sudah sampai di kantor, dan sekarang sudah pukul 07.15 WIB. Sesampai nya di mejaku, aku langsung membuka laptop dan melihat beberapa file yang harus dicek sambil memakan sarapanku. Sesudah sarapanku habis, aku langsung mengerjakan yang harus aku kerjakan.
Jam demi jam berlalu, kini sudah pukul 11.45 WIB yang berarti waktu sudah masuk waktu ishoma. Saat aku sedang merapihkan mejaku, ada yang mendatangiku. “Mba Eca, nanti jam 2 kita ada rapat dadakan ya, maaf banget, karena waktu nya tiba-tiba di ubah” Kata orang tersebut. “Tapi kak Lyn, aku ada laporan yang harus dikumpulin besok pagi” Jawab ku. “Aduh Ca, ini rapat nya penting banget, kalau kamu gak ikut, takutnya nama kamu dicoret dari tim” Kata kak Elyn. Aku hanya bisa mengangguk setuju sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
Waktu ishoma sudah habis. Aku pun bersiap untuk rapat dadakan itu. Kak Elyn menghampiri ku. “Udah siap Ca?” Tanyanya. “Udah kak, ayo” Ajakku dan dibalas anggukan olehnya. “Mba Eca tenang aja, kalau ikut rapat dadakan biasanya dapat bonus” Kata Kak Elyn sambil terus berjalan bersamaku menuju ruang rapat. Aku mengangguk sambil memberi pesan kepada ibuku. ‘Aku: Mah maaf aku gak bisa pulang minggu ini. Aku tiba-tiba ada rapat dadakan dari sekarang sampai jam 4 sore, terus nanti aku harus mengerjakan laporan yang dikumpulin besok, maaf ya mah’ Lalu aku mengaktifkan mode jangan gangu di ponselku.
Sesampainya aku dan Kak Elyn di ruang rapat, rapat pun langsung dimulai. Sesudah rapat, jam menunjukan pukul 16.05 WIB. Aku langsung balik ke mejaku dan bersiap pulang ke kosku.
Kini aku sudah sampai di kosku dan memainkan ponsel di kasur. Aku mematikan mode jangan ganggu di ponsel dan membuka pesan. Ternyata mamaku meneleponku berkali-kali. Aku pun menelepon mamaku dan diangkat olehnya. “Kenapa ma?” Tanyaku. “Kamu kapan bisa pulang ke rumah mama?” Tanya mamaku balik. “Minggu depan ya ma” Jawabku. “Kamu mah selalu gitu, kalau ditanya kapan pulang, pasti jawabnya minggu depan, eh pas hari-h nya malah gak datang” Kata mamaku. “Kan kalau aku gak datang aku kasih alasan” Ucapku. “Alasannya juga yang masuk akal, lagian aku kerja kek gini buat kita dan adek” Lanjutku. “Tapi percuma kalau kamu gak punya waktu buat mama!” Kata mamaku dengan nada marah. “Dulu mama bilang kalau aku harus cari uang yang banyak kalau mau bahagia. Tapi sekarang, kenapa mama malah nyuruh aku pulang disaat aku sedang mencari uang untuk kita bahagia?” Tanyaku. “Ya karna bahagia enggak selalu tantang uang” Jawabnya. “Tapi mama bahagia gak hidup dengan uang yang aku kasih?” Tanyaku lagi. “Ya bahagia, tapi percuma kalau kamu gak punya waktu buat mama” Jawab mamaku. “Nah itu, mama bahagia. Udah ya ma, aku ada laporan yang harus dikumpulkan besok” Ucapku lalu mematikan panggilan itu.
Setelah mematikan panggilan itu, aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Sesudah mandi aku membuka laptop untuk mengerjakan laporan itu. Jam demi jam berlalu, dari langit yang oren berubah menjadi gelap pertanda waktu malam sudah tiba dan aku masih mengerjakan laporan itu di meja samping tempat tidur. Aku merenggangkan badanku sebentar lalu mengecek jam ‘Lah udah jam 10 malem, aduh belum selesai lagi, lanjut aja deh’ Batinku.
Alarm lagi-lagi membangunkan ku. Aku terbangun di meja dengan laptop yang sudah mati di depanku. ‘Aduh, ketiduran. Jam berapa sekarang?’ Ucapku di dalam hati sambil mengambil ponsel yang berada di sampingku. Jam menunjukkan pukul 6.00 WIB. “Aduh telat, mandi dulu deh, beli makannya di kantor aja” Ucapku lalu bergegas ke kamar mandi.
Kini aku sudah di kantor. “Pagi Mba Eca” Ucap seseorang yang tiba-tiba menghampiriku. “Pagi juga Mas Adi” Jawabku. “Laporan nya udah selesai Mba?” Tanya nya. “Udah Mas. Nanti jadi rapat kah?” Kataku. “Iya Mba. Jam 2 ya, di ruang rapat lantai 2” Jawabnya. Aku pun menganggukkan kepalaku. Waktu demi waktu berlalu. Tidak terasa, sekarang sudah jam 13.55 WIB. Aku bersiap-siap pergi keruang rapat. Sesampainya di ruang rapat, aku duduk di kursi yang tersedia.
Saat rapat akan mulai, tiba-tiba ponselku berdering. Namun, belum sempat aku mematikan telepon itu, aku dipanggil. “Mba Eca, kan udah dibilangin, kalu rapat ponselnya diaktifin mode jangan ganggu, jadi ketundakan rapat kita” Kata salah satu orang Satu orang di sana, aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Aku pun ijin keluar sebentar. Ternyata yang menelponku itu adalah mamaku. “Kenapa sih mah!? Aku sibuk banget, akukan udah bilang kalau aku pulangnya minggu depan. Aku matiin dulu ya, aku lagi rapat!” Ucapku lalu Kembali masuk kedalam ruangan rapat.
Selesai rapat, aku termenung di meja kerja ku. “Muka kamu kenapa kek sedih banget Ca?” Tanya seseorang yang berada di samping meja ku. “Aku tadi dimarahin karena ada yang menelponku saat akan memulai rapat, terus kerjaannya dikasih ke aku, padahal tugas aku bukan itu di tim” Jawabku dan orang yang di samping ku hanya menganggukan kepalanya.
Kini sudah waktunya pulang kantor, namun aku belum pulang, karena aku harus ngerjain kerjaan itu. Tiba-tiba, mamaku menelponku lagi. Aku pun mengangkatnya “Berisik mah, aku dikasih tugas yang itu bukan tugas aku karena mama nelpon aku tadi. Kepala aku pusing, diem dulu ya mah, aku pulang kok minggu depan” Ucapku lalu mematikan panggilan suara itu.
Hari demi hari berlalu, dan waktu yang aku tunggu-tunggu tiba juga. Aku sudah sampai dirumah mamaku. Namun, tidak ada yang menyambutku saat aku membuka pintu. Rumahku terlihat sangat sepi, tidak ada wangi masakan yang aku kenal, tidak ada usara cerewet yang memanggilku, dan tadi saat aku masuk, pintunya tidak dikunci.
Aku pun masuk ke kamar ibuku, di sana kosong tidak ada orang. Lalu aku masuk ke kamar adekku, di sana ada adekku yang hanya duduk di kasur dengan tatapan kosong. “Adek, mama mana?” Tanyaku, namun karena tak kunjung mendapatkan jawaban, aku mendorongnya pelan lalu bertanya lagi kepadanya. “Adek, mana mama?” Adekku melirik kearahku dengan tatapan sedih. “Mama udah gak ada kak” Jawabnya. “Jangan boong dek, gak lucu, mama mana?” Tanya ku, tidak percaya. “Mama beneran udah gak ada kak, mamah udah meninggal dua hari lalu” Ucap adekku dengan air mata yang mulai mengalir di wajahnya. Aku yang mendengar itu seketika terdiam. “Kenapa adek gak ngasih tau kakak?” Tanyaku dengan kecewa. “Adek gak tau harus bilang siapa, tetangga tau juga karena adek nangis di depan rumah” Jawabnya dengan terisak isak.
Aku hanya bisa menangis dan terus menangis. Air mata jatuh membasahi pipiku. Aku menuju ke kamarku dan duduk termenung, di sana aku mengingat kenanganku bersama mamaku. Dulu, saat aku menangis, beliau menghampiriku dan menenangkanku, sekarang tidak ada lagi yang menenangkanku. Aku mengambil Hadiah terakhir yang mamaku berikan kepada ku, yaitu boneka, boneka itu aku peluk sambil menangis. Aku menyesal kenapa bersikap kasar ke mama selama ini. Mungkin nada bicaraku sering menyakitinya, dan aku jarang menghabiskan waktuku untuknya. Aku sangat berharap, aku punya satu kesempatan lagi untuk mengulang semuanya….