Elana dan Cahaya Senja

Elana dan Cahaya Senja

Ketika senja menerpa pada bukit, seluruh warna dalam kulit kupu-kupu akan bersinar terang, terlebih lagi pada Elana. Ialah seekor kupu-kupu yang memilii kulit jingga seperti senja.

Namun dibalik keindahannya, ada seekor kupu-kupu lain yang iri dan mengubahnya menjadi buruk rupa.

Cerpen saya mengitkan untuk terus menerima perbedaan yang ada dalam diri sendiri, tidak usah iri kepada orang lain, karena diri kita juga punya kelebihannya.

Elana dan Cahaya Senja

Karya: Christian Alexander Firman

Di sebuah lembah yang dipenuhi hamparan bunga liar, hiduplah ribuan kupu-kupu dengan warna sayap yang beragam. Setiap warna menjadi lambang asal-usul dan identitas mereka. Ketika matahari pagi menyinari lembah, sayap-sayap itu memantulkan cahaya bak pelangi yang menari di udara.

Di antara mereka, hiduplah Elana, kupu-kupu cantik bersayap jingga yang memancarkan keindahan layaknya senja. Ia dikenal sebagai kupu-kupu yang ramah dan baik hati. Setiap pagi, Elana mengisap nektar bunga untuk memenuhi persediaan makanannya.

Setelah selesai mengumpulkan nektar, Elana segera mengantarkannya ke rumah Bibi Lala. Sebagai upah, ia menerima madu segar. Sore harinya, ia menghabiskan waktu dengan berbincang dan bermain bersama teman-temannya. Saat senja menyelimuti lembah, tubuh Elana selalu berkilau indah, seolah menyatu dengan cahaya jingga di langit.

Keindahan dan kebaikan Elana membuat teman-temannya iri. Ke mana pun ia pergi, pujian selalu mengikutinya. Sementara itu, mereka merasa hanya menjadi pelengkap yang tak pernah diperhatikan. Rasa iri yang terus dipendam akhirnya berubah menjadi dengki hingga mereka sepakat menjebak Elana.

Mereka mendatangi rumah Nenek Disa, penyihir jahat yang tinggal di lembah itu. Banyak kupu-kupu pernah menjadi korban sihirnya. Mereka meminta ramuan yang dapat membuat tubuh Elana terasa gatal setiap kali senja tiba. Sebagai imbalannya, mereka menyerahkan serbuk sari yang telah mereka kumpulkan.

Keesokan harinya, Liona, teman dekat Elana, mengajaknya pergi ke bebatuan di ujung timur lembah. Di tempat itulah ia akan memberikan ramuan yang telah mereka beli. Cairan itu dituangkan ke dalam segelas madu. Tanpa curiga, Elana langsung meminumnya. Namun, tidak ada akibat yang langsung dirasakannya.

Saat senja mulai turun dan cahaya jingga menyelimuti lembah, tubuh Elana tiba-tiba terasa gatal luar biasa. Ia menggaruknya dengan keras hingga kulitnya yang semula berkilau berubah menjadi luka. Dari jendela kamar, teman-temannya hanya menatap dengan senyum puas. Elana menangis dan tidak berani keluar kamar.

Ibu Elana terkejut melihat perubahan pada tubuh putrinya.

“Apa yang terjadi, Elana?” teriaknya panik.

“Aku tidak tahu, Bu,” jawab Elana sambil terus menggaruk tubuhnya.

“Apa yang kamu makan?” tanya Ibu Elana dengan tenang.

“Aku tidak makan apa pun. Aku hanya meminum madu pemberian teman-temanku,” kata Elana.

“Baiklah, Ibu akan mencari obatnya. Ibu akan segera kembali,” ujar Ibu Elana sebelum meninggalkan kamar.

Setelah malam yang kelam itu, Elana baru menyadari bahwa sayapnya telah rusak. Ia merasa dirinya tidak akan lagi seindah senja. Ia hanya akan menderita setiap kali senja datang menyapa. Pagi itu, Elana tetap mengumpulkan nektar dengan perlahan karena tubuhnya masih sakit. Tidak ada lagi yang mengajaknya berbicara seperti dulu. Kini, semua kupu-kupu memandangnya dengan rasa jijik.

Saat terbang menuju rumah Bibi Lala, Elana terjatuh. Tubuhnya sangat lemah hingga ia tidak sanggup lagi membawa nektar yang telah dikumpulkannya. Untungnya, Bibi Lala melihat keadaan Elana dan segera menghampirinya.

“Apa yang terjadi denganmu? Parasmu tidak seindah biasanya,” tanya Bibi Lala.

“Aku dijahati oleh teman-temanku, Bi,” jawab Elana, lirih.

“Astaga, jahat sekali mereka. Lalu, apa yang kamu lakukan?”

Pertanyaan itu membuat Elana terdiam. Ia bahkan tidak mengerti mengapa teman-temannya tega melakukan hal sekejam itu.

“Baiklah, berikan nektar itu kepadaku. Kau akan semakin dipermalukan jika kupu-kupu lain melihatmu dalam keadaan seperti ini,” ujar Bibi Lala.

“Baiklah, Bi,” ucap Elana sambil mengepakkan sayapnya untuk kembali ke rumah.

Sore itu, berbeda dari hari-hari sebelumnya, Elana tidak lagi merasakan gatal yang menyiksa. Tubuhnya perlahan terasa lebih baik. Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Saat pintu dibuka, ternyata Ibu Elana datang bersama teman-temannya. Detak jantung Elana berdegup semakin cepat. Emosinya berkecamuk.

“Elana, kami datang untuk meminta maaf kepadamu,” ucap Nara.

“Ibu sudah mengetahui semuanya. Mungkin kamu masih membenci mereka. Namun, tidak semua luka harus terus disimpan di dalam hati,” ujar Ibu Elana dengan lembut.

“Maafkan kami, Elana. Kami melakukan perbuatan keji itu karena kamu selalu dipuji dan diperhatikan. Berbeda dengan kami,” ungkap Sira dengan penuh penyesalan.

Elana menunduk. Ia teringat semua rasa sakit yang pernah dialaminya: gatal yang menyiksa, tatapan jijik para kupu-kupu, dan malam-malam yang dipenuhi air mata.

Setelah menarik napas panjang, ia berkata,

“Aku memang terluka karena perbuatan kalian. Namun, jika aku terus menyimpan kebencian, aku tidak akan berbeda dengan kalian saat dipenuhi rasa iri. Aku memaafkan kalian, tetapi berjanjilah, jangan pernah mengulanginya lagi.”

Sebelum datang ke rumah Elana, ternyata teman-teman Elana sudah lebih dahulu menemui Nenek Disa. Dengan wajah penuh penyesalan, mereka memohon agar kutukan itu dilepaskan. Nenek Disa sempat menolak, namun setelah melihat ketulusan mereka mengakui kesalahan, ia akhirnya mencabut sihir yang telah diberikannya. “Ingatlah, setiap perbuatan buruk selalu membawa akibat. Jangan pernah mengulanginya,” ucap Nenek Disa.

Ketika senja mulai menyelimuti lembah, Elana merasakan tubuhnya tidak lagi dipenuhi rasa gatal. Luka-luka pada sayapnya perlahan menghilang, dan kilau jingga yang dahulu menghiasi tubuhnya kembali memancar. Elana menatap langit dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia kembali tersenyum.

Teman-temannya menundukkan kepala. Rasa iri yang dahulu memenuhi hati mereka telah berubah menjadi penyesalan. Mereka menyadari bahwa kebahagiaan tidak pernah lahir dari menjatuhkan orang lain, melainkan dari saling menghargai dan saling mendukung. Sejak hari itu, tidak ada lagi kupu-kupu yang merasa dirinya lebih indah ataupun lebih rendah.

Mereka belajar bahwa setiap warna sayap memiliki keistimewaannya masing-masing. Elana pun tidak lagi dikenang karena keelokan sayapnya, melainkan karena ketulusan hatinya yang mampu memaafkan orang-orang yang telah menyakitinya. Di bawah cahaya senja yang hangat, mereka terbang bersama mengelilingi lembah yang dipenuhi bunga-bunga liar.

Warna-warni sayap mereka berpadu menjadi pemandangan yang jauh lebih indah daripada kilau seekor kupu-kupu saja. Mereka akhirnya mengerti bahwa keindahan sejati bukanlah tentang siapa yang paling bersinar, melainkan tentang bagaimana setiap orang dapat saling menerangi.

Download Original File