INGATKAN YANG KULUPAKAN

INGATKAN YANG KULUPAKAN

Percayakah kalian bahwa salah satu keajaiban terbesar yang dimiliki anak-anak adalah imajinasi? Ketika dunia terasa terlalu besar untuk mereka pahami, imajinasi datang tanpa diminta. Seolah jadi penyelamat yang setiap anak simpan dalam saku mereka.

Di sanalah versi kecil seseorang bertahan.

INGATKAN YANG KULUPAKAN

Rasanya, aku ketinggalan sesuatu. Apa, ya?

Koperku aman. Jam tangan sudah terpasang. Moe—kucing peliharaanku—sudah kuberi persediaan makanan yang cukup di wadahnya. Rumah juga sudah kukunci rapat-rapat. Oleh-oleh untuk Ibu dan Ayah pun sudah di packing. Lalu, apa lagi?

Aku menyandarkan kepala ke jendela mobil. Di luar, gerimis turun pelan, sementara tetes-tetes air melukis garis-garis tipis di kaca. Jemariku mengetuk lutut, mencoba mengingat apa yang mungkin terlewat. Begitu lama aku larut dalam pikiran hingga pemandangan di luar perlahan berganti. Dari gedung-gedung tinggi di tengah kota menjadi permukiman kecil dengan rumah-rumah sederhana dan warung-warung di tepian jalan.

Tidak mungkin. Semuanya sudah lengkap. Aku sudah memeriksa dan mengingatnya berkali-kali. Jelas tidak ada yang kutinggalkan. Jadi, mengapa rasa gelisah itu masih ada?

Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, berharap keresahan itu bisa ikut luruh bersama embusan napas. Hanya irama lagu yang riang mengisi suasana mobil di bawah langit siang yang muram.

Ah, tenang saja. Mungkin ini hanya karena sudah lama aku tidak pulang. Lima tahun berlalu tanpa terasa, dihabiskan untuk bekerja di kota. Dan hari ini, akhirnya aku akan bertemu lagi dengan Ibu dan Ayah. Pulang untuk pertama kalinya sebagai orang dewasa.

Rasanya agak gugup ya?

***

Luen tahu hari itu bukan hari terbaiknya. Tangisnya menggaung memenuhi kamar itu. Mungkin dari luar hanya terdengar samar, tertelan dinding rumah yang dihiasi balon warna-warni. Namun, bagi seorang anak yang baru menginjak usia enam tahun, dunia hari itu benar-benar rapuh.

Tak seorang pun datang ke pesta ulang tahunnya. Sesederhana itu alasan yang mampu menghancurkan hati seorang anak.

Orang tuanya? Bukannya tak peduli, justru mereka telah berusaha membuat rumah terasa meriah sejak semalam sebelum hari ulang tahun si kecil. Dekorasi disematkan, pita-pita digantung di sudut ruangan, balon memenuhi langit-langit, dan kue ulang tahun berdiri cantik di atas meja.

Sepulang bekerja, mereka sangat menyesal saat tahu kalau tidak ada yang mendatangi pesta ulang tahun Luen—demikian pula sosok mereka sebagai orang tua yang tak hadir di sana.

Ibu dan Ayah Luen adalah seorang pekerja keras. Pergi pagi, pulang malam. Sesibuk-sibuknya mereka tetaplah orang tua yang mengedepankan tanggung jawab atas anaknya. Meski lelah sepulang bekerja, pelukan hangat selalu mereka sisakan untuk Luen. Akhir pekan pun sebisa mungkin hanya untuk keluarga.

Malam itu, orang tua Luen menghiburnya sejenak sampai ia berhenti menangis di kamarnya. Luen hanya ingin memejamkan matanya, Ibu dan Ayah pun beranjak keluar kamar untuk membiarkan ia beristirahat. Namun nyatanya, kesedihan masih membasuh dirinya.

Kamar itu kembali sunyi. Cahaya lampu tidur menyisakan bayangan lembut di setiap sudut ruangan. Luen memandangi langit-langit dengan mata yang sembap dan bengkak. Sesekali ia menarik napas panjang, berusaha menahan isak yang masih tersisa.

Luen kecil mengusap hidungnya, lalu berguling menghadap sisi lain ranjang. Pandangannya berkelana pelan ke setiap sudut kamar.

Ke mana teman-temannya?

Apa mereka lupa?

Atau… memang tidak ingin datang?

GLUDUK

Di antara keheningan yang mengisi sendu, bunyi dari bawah ranjang membuat napasnya tertahan. Ia bangkit duduk perlahan. Rasa penasaran mengalahkan sisa tangis yang masih memenuhi dadanya, mendorong dirinya untuk mengintip ke lantai.

Wadah bening berbentuk tabung kecil berisi manik-manik menggelinding keluar dari kolong kasurnya. Luen hanya berkedip. Di usianya yang baru menginjak enam tahun, rasa heran sering kali kalah oleh rasa ingin tahu. Namun kali ini, tak sedikit pun terlintas di benaknya bagaimana benda itu bisa bergerak sendiri.

“Kamu engga heran kenapa benda itu bisa keluar sendiri?”

Luen terkesiap.

Perlahan, seseorang menyembulkan kepala dari balik gelapnya kolong ranjang. Seorang gadis.

Kulitnya pucat nyaris tanpa warna. Rambut pendeknya jatuh sebahu dengan rapi, sementara sepasang matanya yang bulat menatap Luen tanpa berkedip. Matanya begitu mirip dengan mata Luen sendiri. Mata mereka bertemu, keduanya terdiam.

Di luar, angin malam berembus pelan. Rasanya hujan sebentar lagi akan turun. Kamar itu masih diselimuti oleh sendu tetapi layaknya hujan yang mulai turun, perlahan setetes air mengurangi kabutnya.

Gadis dari bawah ranjang itu bercerita bahwa tidak ada pesta ulang tahun yang gagal. Yang ada hanyalah pesta yang belum selesai.

Malam itu, mereka menghias kamar dengan pita-pita yang tersisa. Selimut dan bantal disulap menjadi sebuah tenda. Boneka-boneka diletakkan melingkar mengelilingi mereka, seakan menjadi tamu undangan yang tak pernah lupa. Manik-manik warna-warni dirangkai menjadi gelang kembar sambil diselingi tawa yang sesekali memenuhi kamar. Kamar itu disulap dengan sentuhan yang ajaib.

Hari-hari berikutnya, gadis itu semakin sering muncul. Sepulang sekolah, Luen akan mendapati gadis itu sudah duduk di atas ranjang sambil memainkan manik-manik. Saat belajar, ia ikut menggambar di buku kosong. Ketika malam tiba, mereka membangun benteng dari selimut sebelum akhirnya sama-sama tertidur. Gadis itu selalu muncul untuk menemani Luen di kamarnya.

Sosok gadis yang selalu memastikan suasana hati Luen baik-baik saja. Tak pandang waktu, musim berganti, seiring bertambahnya usia Luen, sosok itu masih setia menampakkan diri untuknya.

Meski waktu perlahan mendewasakan Luen.

***

Sore itu, tawa memenuhi ruang keluarga yang hangat. Luen, Ayah, dan Ibunya duduk bersisian di sofa, mengobrol tentang banyak hal yang sempat terlewat selama bertahun-tahun. Sesekali mereka mengenang masa lalu, mengira-ngira harus merayakan sesuatu, membuat TV menyala tak laku. Tak seorang pun benar-benar memperhatikan layar itu.

Pembicaraan mereka akhirnya berhenti pada satu hal yang paling dinanti. Masa depan Luen. Rencana untuk melanjutkan pendidikan dibahas dengan penuh antusias. Ayah dan Ibunya tak bisa menyembunyikan kebanggaan ketika putri mereka berhasil diterima di kampus impian.

Semakin matang pikiran dan kepribadiannya, Luen belajar merancang masa depannya. Ia sangat giat belajar, semakin banyak target yang harus dicapai, dan mulai aktif berorganisasi. Hari-harinya menjadi semakin padat. Waktu lebih banyak dihabiskan di luar rumah. Ketika pulang, ia biasanya hanya sempat belajar, beristirahat, lalu kembali menyambut kesibukan esok hari. Begitulah roda kehidupan yang dijalaninya saat itu.

Tanpa terasa, tahun terakhir SMA berlalu. Semua kerja kerasnya seolah terbayar pada hari ketika surat penerimaan dari universitas impiannya akhirnya berada di tangannya.

Kini, saatnya Luen meninggalkan cangkang yang telah melindunginya sejak lahir. Mencari cangkang baru yang akan memberinya ruang untuk tumbuh lebih jauh. Beragam pikiran melayang selagi ia mulai berkemas.

Ya, dia tak akan menyangkal kalau dirinya bersemangat karena telah diterima di universitas idaman. Namun, di balik rasa bangga itu, terselip kegugupan yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar akan hidup jauh dari rumah. Jauh dari Ayah. Jauh dari Ibu.

Meski ia tahu suatu hari akan kembali, tetap saja rumah inilah yang telah menyaksikan dirinya tumbuh. Rumah yang mengenal tawa dan tangisnya, juga selalu terasa hangat setiap kali ia pulang.

Padahal… Bukankah sejak kecil Luen lebih sering sendirian di rumah?

“Kalau dipikir-pikir, rumah ini tak pernah benar-benar sepi, loh.”

Sejak kapan?

Napas Luen tertahan. Barusan ada yang berbisik di pikirannya. Kamarnya hangat namun diam-diam terasa sepi. Mungkin dirinya sudah merindukan tempat ini.

***

Memang hangat. Bahkan aku masih merindukannya meski sudah pulang ke rumah.

Kamar ini tak banyak berubah. Mungkin tak secerah dulu karena orang tuaku merenovasinya sedikit ketika aku tidak di sini. Katanya, langit-langitnya sempat bocor ketika musim hujan, mereka baru menyadari ketika air menggenang keluar dari celah pintu.

Aku masih berdiri di ambang pintu selagi mataku menyoroti kamar itu. Sebelah tanganku menggenggam erat gagang sebelum kakiku melangkah masuk.

Apa yang aku pikirkan?

Aku hanya ingat. Pernah ada seorang gadis kecil yang menangis lalu ia mengusap air matanya sendiri. Kemudian ia membangun tenda kecil untuk merayakan pesta ulang tahunnya yang belum dirayakan. Gadis itu merangkai manik-manik menjadi sepasang gelang yang kemudian salah satunya ia kenakan. Sampai pada suatu hari, gelang itu ia lepaskan.

Lalu, ke mana gelang satunya?

Aku sudah lama tak melihatnya. Semenjak aku melepasnya, aku jarang menemuinya. Tapi aku yakin, dia masih di sini.

Koper kubiarkan di samping pintu. Aku melihat-lihat ruangan yang telah bertahun-tahun tak pernah lagi kusentuh. Meja belajar yang sepi tanpa buku-buku pelajaran atau lembaran kertas penuh warna, fairy light menghiasi dinding kamar, lemari pakaian dengan stiker lucu yang tertempel di cerminnya, dan sebuah jendela yang tetap membiarkan cahaya lembut masuk dari luar. Apa lagi ya yang kurindukan?

Aku menghempas pelan tubuhku ke ranjang. Menatap langit-langit yang sama seperti waktu itu. Netraku beralih ke setiap sudut ruangan, ini membuatku teringat sesuatu.

Kusingkapkan kain seprai yang menutupi kolong kasur. Awalnya aku hanya mengedipkan mata, aku mengerutkan kening ketika rasa gelisah yang sama muncul kembali. Ada yang membuatku penasaran untuk mengintip ke kolong kasur.

Aku berlutut membungkuk untuk melihat kegelapan di dalam kolong yang sunyi. Tetapi kegelapan itu tak meluputkan pandanganku dari sesuatu yang berdiam di sana. Tanganku merekah untuk menggapainya. Aku merabanya sejenak sebelum menarik benda itu ke luar.

Aku menemukannya. Inilah yang kulupakan.

“Kamu engga heran kenapa gelang itu ada di sana?”

Rasanya pikiranku menjadi lebih jernih, gelisah itu benar-benar luruh seluruhnya. Aku mengamati satu persatu manik-manik penuh warna yang menyusun gelang itu. Aku harap aku ingat untuk mengenakan gelang yang sama agar kita bisa kembaran gelang lagi.

“Tidak. Aku yakin gelang ini akan selalu ada di sini.” Aku melirik ke belakang ketika genggamanku pada gelang manik-manik mengerat. “Kamu pasti kesepian, kan?”

“Sekarang, engga kesepian lagi.” Mata kami kembali bertemu.

Matanya sangat mirip dengan milikku. Kulitnya cerah nyaris menyilaukanku. Rambut pendeknya tampak lembut menyeka bahu, sementara sepasang mata bulatnya menatap lurus ke arahku. Rupanya tak berubah sama sekali.

“Rasanya agak gugup ya?”

“Sekarang, tidak lagi.” Aku menarik senyum tipis saat mengingat bahwa sebelumnya juga merasakan hal yang sama.

Awalnya, kukira rasa gugup itu muncul karena aku cemas membayangkan bagaimana reaksi Ibu dan Ayah saat melihatku lagi. Apakah aku yang sekarang sudah tumbuh menjadi seperti yang mereka harapkan? Apakah kepulanganku akan membuat mereka bangga? Atau justru mereka akan melihat begitu banyak hal dalam diriku yang telah berubah?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terasa begitu masuk akal. Bukankah begitulah orang dewasa? Terlalu sering menghabiskan waktu memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi.

Namun ada sesuatu yang hampir luput dari pikiranku yakni tentang bagaimana jika aku bertemu dengan diriku yang dulu?

Mungkin ia tak sempurna. Tapi melalui matanyalah bagian dari hidupku pernah penuh dengan warna. Hal-hal yang orang dewasa anggap kekanakan, tentu saja karena lensa mereka terhadap bagaimana dunia berjalan telah memudar warnanya. Dan aku sadar telah mengenakan lensa yang sama.

Namun kini aku lega, Luen kecil telah memiliki masa paling berwarna dalam hidupnya. Aku tahu, dia pasti selalu menungguku untuk menoleh kepadanya lagi.

Menjelang beberapa saat, aku ketiduran setelah merapikan barang-barangku. Kemudian Ibu yang datang membangunkanku.

“Luen, ayo makan malam dulu.”

“Eh, udah malem, kah? Lama juga Luen tidur. Makasih udah bangunin ya, Bu.”

“Iyaa. Ayah nunggu di bawah, cepetan yuk!” Ibu menarik kedua tanganku agar aku lekas turun dari ranjang.

“Ayah sama Ibu juga belum makan? Padahal makan duluan aja gapapa… Tuh kan, jangan-jangan udah kemalaman soalnya nungguin Luen.”

Aku dan Ibu kini mempercepat langkah menuju ruang makan.

“Kok gitu? Kalau kita lagi full member ya jangan ada yang ditinggalin, dong! Kan udah dari jaman Ibu sama Ayah sibuk kerja kita begini. Sekarang yang sibuk kerja kan kamu, ya mumpung dapat kesempatan pulang, kita mesti bareng-bareng juga.”

Benar saja, Ayah sudah siap di meja dengan piring yang penuh dengan lauk. Aku dan Ibu langsung bergabung di tempat duduk masing-masing.

“Akhirnya dateng juga. Ayah hampir mau makan duluan.”

“Ayah engga sabaran banget!” Ibu menyahut cepat sambil sibuk mengambilkan nasi untukku.

“Bu, biar Luen aja…”

“Luen duduk ya, udah lama banget Ibu engga ambilin lauk buat Luen.”

“Luen.” Ayah membatalkan suapan pertamanya sesaat.

“Di sini bukan tempatnya karyawan teladan loh ya, tapi anak kesayangan. Luen jangan terlalu sungkan sama orang tua sendiri. Pokoknya di rumah ini, status Luen tuh selalu jadi anaknya Ayah sama Ibu, ya?” Beliau menunjuk ke arahku dengan sendoknya.

Aku bungkam. Kalimat itu menyadarkanku, bahwa rumah selalu menungguku pulang sebagai anak. Sekarang aku yakin, tak ada lagi yang kutinggalkan.

Semuanya, Luen pulang.

Download Original File