Intensitas Diriku

Intensitas Diriku

Tidur adalah kemewahan nyata yang jarang bisa dinikmati olehnya. Di balik kata, "Aku gapapa, kok," yang keluar dari mulut seorang remaja biasa, ada malam-malam penuh halusinasi.
Akhirnya, tubuhnya menyerah. Menenggelamkan dirinya dalam kegelapan yang memburu raga dan batin. Semua yang dilihatnya saat gelap dan sendirian, menjadi kenyataan di depan matanya.
Apakah ini nyata terjadi, atau hanya efek samping dari obat yang diminum saja?

“Ayah, apa kau masih disana? Ale rindu bermain sama Ayah..” aku menunggu di teras depan rumahku.

“Sebentar ya, Nak. Ayah masih dinas ke luar kota,” ibu menghapus air mata anaknya, mencoba meredakan kekhawatirannya.

“Ba-baik, Ibu,” tangisku mulai mereda perlahan.

“Masuk ke rumah yuk, Nak.”

Selang beberapa jam setelah ibu mematikan lampu kamarku, terdengar suara decitan dari arah jendela kamar. Korden yang menutupi jendela terbuka, memperlihatkan cahaya kuning dari lampu jalanan. Dari balik selimut, aku bisa mendengar suara mainan yang berserakkan di lantai kamarku bersentuhan dengan sesuatu yang berat

Aku memberanikan diri mengintip di balik selimut, sedikit menahan nafasku. Bayangan hitam kembali terlihat oleh mataku. Ia mencoba membuka pintu kamarku pelan-pelan, tapi tetap saja ada sedikit suara. Sosok hitam itu seketika melihat sekelilingnya dengan waspada, dan… dia melihat ku. Oh tidak!

Untungnya, ibu kembali ke kamarku membawakan obat dan segelas air. Ibu menyalakan lampu kecil disamping kasur, ia menyadari tubuh dan tanganku yang sedikit gemetar. Alih-alih bertanya, ia mengelus pelan punggungku dan memegangi tanganku sampai tubuhku kembali tenang.

Suara engsel jendela dan tirai yang tertiup angin membuatku dan ibu menoleh. Ibu menutup jendela dan tirai dengan wajah bingung, mengingat-ingat apa tadi ia juga lupa menutup jendela kamarku. Wajahnya kembali tersenyum saat melihatku masih terduduk diatas kasur, dan ia ikut duduk disampingku.

“Ale tidur lagi, yuk. Maaf ya, Nak, tadi Ibu lupa membawa obat nya.” Ibu mematikan lampu tidurku, lalu tidur di sampingku, membelakangi pintu kamar.

Saat mataku mulai terpejam, bayangan hitam keluar dari bawah kasur. Mata tajamnya melihatku, mencoba memperingatiku agar tetap mengunci mulutku. Mataku kembali terbuka lebar, dan segera menutup mulutku dengan kedua tangan. Ia lolos begitu saja dari penglihatanku, karena aku terlalu takut membangunkan ibu yang sudah pulas.

Mataku sulit terpejam kembali setelah kejadian tadi berputar di kepalaku. Berkali-kali aku mengganti posisi tidur, berharap bayangan hitam tadi segera menghilang jika aku cepat tertidur. Aku melihat ibu masih pulas tertidur sambil memegangi tanganku, sesekali mengingau acak seperti sedang berbicara dengan orang lain.

Cahaya matahari sudah menyapaku lewat sela-sela tirai jendela kamar, sedangkan tubuhku masih terasa lelah sebab kekurangan istirahat saat malam. Ibu sudah tidak ada disampingku, bisa kulihat semua mainanku sudah berada di kotaknya, dan pintu kamar tidak ditutup rapat. Sebelum turun dari kasur, aku menguncir asal rambutku dan merenggangkan tubuh.

Semua masih normal, sesuai pada tempatnya tanpa berantakkan. Tidak ada barang-barang yang hilang, ataupun rusak di sekitar rumah. Saat ke ruang makan, aku dikejutkan dengan kedatangan ayah yang sedang sarapan. Ayah langsung berdiri dan merentangkan tangannya, kami berpelukkan bersama ibu juga. Pikiranku tentang tadi malam hilang sejenak, digantikan dengan rasa senang saat mendengar ayah akan mengajak kami berlibur di akhir pekan ini.

“Ini buat Ale. Disimpan baik-baik, ya.”

“Terima kasih, Ayah ganteng,” aku mencium singkat pipi ayah, sebelum kabur ke lantai atas.

“Huft..anak cantik itu, ada saja tingkahnya,” batin Ayah, menggelengkan pelan kepala nya.

Bingkisan dari ayah ternyata berisi 2 boneka kelinci rajut berukuran sedang, berwarna coklat dan ivory. Aku bermain sebentar dengan keduanya, boneka ku menjadi pembeli dan aku menjadi penjual minuman. Tak lama, ibu kembali memanggilku untuk segera turun. Aku menaruh kedua boneka itu disamping mainanku yang lain, sebelum turun ke bawah.

Ternyata ibu meminta bantuanku untuk mengupas bawang, sementara ibu memasak lauk makan siang. Kuku tanganku masih bau bawang, padahal aku sudah mencuci tanganku dengan sabun sampai beberapa kali. Kata ibu, baunya akan hilang sendiri walau memang agak lama.

Aku memutuskan duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton film di TV. Awalnya aku menikmati alur film aksi tersebut, sampai ada adegan dimana tokoh utamanya bersembunyi di ruangan gelap. Ia selalu waspada melihat sekeliling, karena musuhnya bisa berkamuflase dengan baik, terutama di tempat gelap.

Ingatan tadi malam berputar kembali. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku menepis cepat pikiranku, kalimat itu kurapalkan dalam hati seperti mantra. Mana mungkin ada pencuri tanpa meninggalkan tanda aneh, bahkan ini ‘terlalu rapi’ untuk rencana pencurian barang. Masih berkutat sendiri dengan pikiranku.

“Ale, ayo makan siang dulu. Mumpung masih hangat lauknya,” ibu menyentuh pundakku. Itu membuatku terkejut, sampai tubuhku kembali bergetar. Aku mulai melakukan teknik pernafasan kotak agar kembali tenang.

Kami sama terkejut, tapi raut wajah ibu terlihat panik. Mungkin ibu lupa kalau aku memang mudah terkejut jika sedang asik dengan pikiranku.

“Hehe..ayok, Bu. Tadi Ale kaget aja, gapapa kok,” aku menunjukkan senyum terbaikku agar ibu tidak khawatir, dan menarik pelan tangan ibu ke ruang makan.

Selesai makan dan mencuci piring, aku masuk ke kamarku mencoba tidur siang dengan lampu menyala. Entahlah, aku juga tidak tahu sejak kapan kebiasaan ini mulai ada saat aku sendirian.

Aku memang mengindap insomnia sejak usia 10 tahun, dan masih mengonsumsi obat tidur setiap malamnya. Biasanya gelap bukanlah masalah utama, karena aku selalu tidur bersama ibu. Tanpa menyadari, sakit ini sudah mencapai puncaknya dibalik kata “Aku gapapa, kok.”

Aku terbangun dengan banyak keringat di punggungku, sesekali mengucek mata ku yang masih mengantuk untuk melihat ke sekeliling. Semuanya gelap, hening, rasanya ini seperti ruangan kosong tanpa sekat. Ada berbagai suara yang terdengar dari segala arah, menambah ketakutanku pada kegelapan.

“Ayah-Ibu..dimana kalian? Ale takut disini. Tolong, siapapun bantu Ale keluar dari sini, hiks-hiks..” tanganku memutih memeluk lutut yang ditekuk, tubuhku bergetar hebat sebab tangis yang tak kunjung berhenti.

Dingin mulai merayap keatas tubuh dari jari kakiku, aku mencoba meneriakkan nama ayah dan ibu sebisaku. Tapi nihil, tidak ada suara yang menjawabku ataupun seseorang yang menghampiriku. Suara aneh kembali terdengar sesaat setelah aku menenggelamkan kepalaku di lutut, mereka mencoba membuatku putus asa.

“Ughh..silau nya,” aku menyipitkan mata. “Eh, tunggu. Cahaya apa ini?” aku segera berlari mengejar cahaya misterius itu dengan susah payah dan tubuh menggigil. “Tunggu aku..”

Cahaya itu semakin jauh saat aku berusaha mengejarnya, kakiku mulai kelelahan hingga akhirnya terjatuh diatas tanah penuh daun berguguran, tapi tidak ada satupun pohon disana. Masih gelap, namun berbagai suara aneh sudah tidak terdengar lagi olehku.

Anehnya, ada bau hangus bercampur dengan besi berkarat yang menyengat ketika menyentuh daun yang berguguran. Seolah ada makhluk yang ingin menandakan wilayahnya, atau meracuni pernafasanku. Sekarang kepalaku mulai sakit dan kesulitan bernafas, aku meyakinkan diri untuk tetap bertahan sebentar lagi.

Siluet hitam pekat sedang mengawasiku di kejauhan, ia selalu semakin dekat setiap aku mengedipkan mata. Tubuhnya tinggi namun terlihat membungkuk, dengan mata tajam yang selalu membuat bulu kudukku berdiri. Rasa dingin yang familier langsung merayap naik, bersamaan dengan suara jantungku yang bertalu-talu.

Dia memangkas ruang hampa hingga tidak ada jarak diantara kami, menatapku penuh intimidasi dalam keheningan di kegelapan. Otakku sudah memberi sinyal untuk mundur dan berlari sekencang mungkin, tetapi seluruh ototku sudah menegang menolak patuh. Jangankan untuk berlari atau berteriak, bernafas pun rasanya terlalu kaku untuk kulakukan.

Gelap. Itulah yang kulihat saat jarak kami terlalu dekat, sebuah ruang gelap tempat wajah seharusnya berada, sangat kontras dengan sekeliling kami. Dia tidak berkedip ataupun bersuara, di sekitarnya suhu terasa turun dan suara menjadi teredam.

“aku akan terus mengawasimu, Ale.” Suaranya terdengar menggema berulang dari berbagai arah, sebelum sosoknya menghilang di sunyinya kegelapan.

Suaraku menguap begitu saja ketika kuingin menjerit, berganti dengan rasa sakit yang menghujam leherku oleh cekraman sepasang tangan tak berwujud. Meremas kuat jalur nafasku, dan membawa paksa tubuhku naik setinggi mungkin dalam hitungan detik. Ia menghempaskanku tanpa belas kasihan, membiarkan tubuhku menghantam keras medium di bawah sana.

Ada sebuah seringai samar yang kulihat dalam intesitas gelap tak berujung. Makhluk itu tidak berjalan, melainkan merayap menjauhi tubuhku. Apakah ini nyata? Bahkan tubuhku terasa seperti tertindih timah panas. Berada diambang batas antara ketiadaan dan realitas yang mulai menipis.

Bip…Bip…Bip…

Sayup-sayup ritme monoton yang konstan menusuk keheningan, membawaku melihat cahaya kembali. Orang-orang menyaksikanku membuka mata, ada yang memanggil dokter dan suster juga. Mereka melihatku seperti baru saja kembali dari ambang kematian, sedangkan aku merasa sebaliknya, terlahir kembali menjadi sosok lain.

Tubuhku menjadi rumah yang asing saat masa pemulihan. Aku hampir saja kehilangan keseimbangan sebelum fisioterapis sigap menahan lenganku. Setiap gerakan kecil yang kulakukan selalu menjadi tantangan tersendiri yang harus kupelajari.

Rasa takutku terhadap gelap tidak benar-benar hilang. Sampai aku mulai menanyakan diriku sendiri ketika ketakutanku tidak lagi didefinisikan sebagai seseorang yang mengindap Nyctophobia. Lantas, apa yang selama ini mengawasiku atau yang membuatku takut?

Bertahun-tahun kemudian, aku menjadi psikolog sekaligus penulis buku yang dikenal dengan buku bertema kesehatan mental. Untuk menyembuhkan diriku sendiri, dan membantu orang lain memahami luka batin mereka.

Aku mendengarkan mereka tanpa menghakimi. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bebas dari luka masa lalu, mereka pasti mempunyai bayangannya masing-masing, yang membedakan hanyalah cara mereka berdamai dengannya.

Suatu malam, listrik apartemenku kembali padam. Aku tersenyum tipis seraya berkata pelan, “aku sudah tidak takut.”

Tetapi dari pantulan cermin lemari, ada yang ikut tersenyum. Bukan, itu bukanlah pantulan wajahku. Intensitas gelap itu disana, tidak bergerak, tidak mendekat, ataupun menghilang. Ia hanya berbisik pelan,“sampai jumpa lagi, Ale… ketika kau mulai membohongi perasaanmu sendiri.”

Sosoknya yang datang di kegelapan bukanlah sebagai musuh. Karena aku tahu… ia adalah pengingat agar diriku tidak kehilangan jati diri lagi.

“Mungkin gelap memang tidak diciptakan untuk ditakuti, melainkan sebagai tempat di mana seseorang akhirnya berani melihat dirinya sendiri tanpa adanya kebohongan.”

Download Original File