Cerita ini seru sekaligus ngeri banget, menceritakan tentang Maudy yang gak sengaja masuk ke toko buku aneh dan nemu buku tentang psikopat. Gak lama setelah itu, dia dapet kabar kalau sahabatnya, Lili, meninggal dengan kondisi yang mengenaskan banget. Pas Maudy main ke rumah sahabatnya yang lain bernama Vanya, dia malah nemuin kenyataan yang bikin syok berat: ternyata Vanya dan ibunya itu psikopat kanibal yang udah ngebunuh dan masak dagingnya Lili! Maudy dijebak dan harus taruhan nyawa di ruang bawah tanah yang penuh potongan tubuh manusia. Walaupun Maudy akhirnya kalah, tapi di detik-detik terakhir dia cerdik banget karena diem-diem berhasil ngelakuin live streaming pakai HP-nya. Akhirnya, kejahatan sadis Vanya terbongkar dan ditonton sama ribuan orang secara langsung!
Kill And Eat
“How do psychopaths eat their prey?" Maudy melihat salah satu buku tua dan usang yang terletak di rak buku paling pojok. Rak itu mungkin kumpulan buku-buku yang tidak laku karena masih tertata rapi dengan debu-debu yang dapat mengundang bersin pada setiap orang yang mendekati rak tersebut, hal itu berlaku juga kepada maudy.
“ Gila, kok bisa ya ada buku yang judul nya ngeri gini, ihhh merinding gua”
Maudy berlari kecil menuju kasir dan menunjukan buku yang akan ia beli.
“ Ini aja mba?” Maudy mengangguk pelan, wajah kakek-kakek penjaga kasir itu membuat maudy tidak nyaman.
“ Mba nya baru pertama kali ya ke toko buku ini?” Kakek itu tertawa kecil.
“Iya, emang kenapa” Maudy menjawab dengan nada tidak enak.
“ Hihihiiii nggak ada apa-apa sdih mba, yaa berarti mbak nya belum terbiasa aja”
Kakek itu sudah membungkus buku yang maudy beli dan memberikan struk nya.
“ asal tau ya mba, toko buku ini meskipun keliatan nya sepi tapi sebenarnya rame kok, mba nya aja yang ngga liat soalnya toko ini tuh bukan rame sama orang, hehehe” Maudy mengambil buku dan struk nya, sembari melihat senyum kakek itu yang menunjukan gigi nya, maudy terkejut dan berlari karena melihat gigi kakek tersebut sangat menjijikan ditambah dengan dua belatung didalamnya.
“ Ih gila ya! Gua udah dikerjain lagi aja! Eh, tapi ini buku asli, struk nya juga…”
Maudy melihat toko buku itu yang masih kelihatan normal.
“ Kayaknya kakek itu aja deh yang gila”
“ Kriiing kriiing..” Ponsel maudy berbunyi.
“Assalamu'alaikum, maudy” Yang menelpon adalah salah satu dari lima sahabat maudy bernama Varrel.
“ Iya, kenapa rel?”
Dengan nada terisak Varrel mengabarkan sebuah kabar duka.
“ maud, lili, lili maud… ..lili meninggal… .”
Tubuh maudy seketika lemas, kaku, air mata nya mengalir dengan deras tanpa ia sadari.
“ Maud, lo kerumah lili ya? Kita semua udah disini, gua nyuruh shaqi buat jemput lo, lo harus liat gimana kondisi lili maud”
“ Emang lili meninggal kenapa rel?! Tadi pagi kita masih video call- an loh!” Emosi maudy mulai tidak bisa terkendali saking syok nya. Dari jauh ia melihat lampu motor yang ia kenali, itu adalah motor shaqi yang akan menjemput nya.
“ Gua kesana sekarang, shaqi udah datang.”
“ Oke, kita semua bakal nunggu kalian”
15:00, akhirnya maudy daan shaqi pun sampai di rumah maudy yang sudah dihadiri banyak orang, maudy lekas mendatangi orang tua nya lili dan memeluk nya, juga melihat jasad sahabat nya dengan kondisi. Mengenaskan, Lagi-lagi maudy menangis kencang. Jasad lili hanya tersisa kepala dan tangan kirinya, dua mata, dua telinga, dan hidung nya terpisah dari kepalanya. Maudy berteriak
“ Siapa Yang berani buat lo kayak gini hah?!! Siapa orang nya?! Biar gua bunuh juga……” Suasana yang amat dramatis terjadi, Vanya memeluk maudy dengan erat, semua orang menangis meratapi kepergian lili dengan keadaan di luar logika.
***
“Maudy, Vanya, Varrel, Shaqi, makasih banyak ya, udah jadi sahabat terbaik buat lili, tante sama om akan pindah ke Singapura dan memulai hidup baru, kalian sehat-sehat ya, dan.. Jangan pernah ngelupain lili ya?” Mereka semua mengangguk dan memeluk ibu lili untuk terakhir kali nya.
Mereka terus mencoba menghentikan tangis, dan Vanya memulai obrolan jdengan suasana yang canggung.
“Hmm… biasanya lili yah yang paling rame orang nya hehe… . . Oh iya, Maud, main ke rumah gua yuk? Lu belum pernah kan? Ayolahh sekali- sekali…”
Maudy mengangguk, dibalas dengan pelukan Vanya.
“ Kita nggak di ajak nih?” Sahut Shaqi.
“ Ihh… kalian mah lain kali aja, kita mau ngomongin tentang perempuan, jadi… next Time ya, oke?”
“ Yaudah kita cabut duluan ya? Bye nya, maud”
“ Bye”
“Bye”
10 menit kemudian mereka pun sampai di rumah Vanya, Maudy melihat takjub dengan kemegahan dan kemewahan rumah vanya.
“ Kok lu ngga pernah cerita sih kalau rumah lu gede? Ih jahat banget deh”
“ Hehe… sori ya, rencana nya gua mau ngasih suprise pas gua ultah tapi ya gapapalah lagian lili udah pergi, jadi udah nggak suprise. Oh, lu masuk dulu aja gua mau markirin mobil dulu, itu ada satpam gua pak roni, bilang aja sahabat nya Vanya, oke?”
Maudy mengangguk dan keluar dari mobil, ia berjalan menuju gerbang.
“ Pak, saya temennya Vanya, mau main”
Satpam itu mengangguk dingin. Maudy kembali terus melangkah dan mengetuk pintu, tapi sebelum ia melakukan nya, pintu itu sudah terbuka secara perlahan. Sedikit aroma busuk menusuk hidung Maudy, ia segera menutup nya dan mengucapkan salam.
Tidak ada yang membalas nya, ia perlahan menoleh ke belakang dengan wajah sedikit cemas, dan saat itu juga pak roni sudah berada di belakang dengan wajah yang pucat.
“ Kamarnya non Vanya ada di lantai 2 paling pojok, mau saya antar?”
Maudy menggeleng, perasaannya tidak enak, ia pun berlari kecil meninggalkan pak roni.
Sesampainya Maudy di depan kamar Vanya, ia langsung membuka pintu tanpa memikirkan etika, pikirannya sudah mulai kacau. “ Va, Vanya? Kok lu disini sih? Bukannya… . Ia… habisnya lo lama, jadi gua duluan deh, tadi lo dikasih tau Pak Roni kan? Ia itu gua yang nyuruh.”
Potong Vanya dengan senyum yang manis.
Tapi lagi-lagi Maudy tidak habis pikir dengan apa yang sedang Vanya kerjakan.
“ Vanya lo ngapain ngegesekin tangan lo pakai pisau? Lihat tuh berdarah semua”
Maudy menghampiri Vanya dan mengambil pisau tersebut.
“ Mau gua obatin?…. Gausah!”
Jawab Vanya dengan nada yang tegas, dan itu membuat Maudy terkejut.
“ Eh, maaf ya…. Hmmmm… gimana kalau kita makan malam aja sama keluarga gua? Sama Nyokap”
Maudy tidak menjawab langsung, ia merasakan kejanggalan dari sikap Vanya
“ Ayo, Nyokap gua udah masak loh, sengaja karena ada lu. Ayo ah”
Vanya meraih tangan Maudy dan mereka berlari kecil menuruni tangga.
“Mah, ada… Maudy, sahabat aku yang suka aku cerita itu loh”
Maudy tersenyum, ibu Vanya sedang mengiris cabai dan langsung menatap Maudy dengan tatapan kagum.
“Maudy, tante”
Maudy menyalami ibu Vanya.
“ Duduk Maudy… . Kamu cantik yah”
“ Hehe makasih tante bisa aja deh”
Suasana hati Maudy mulai membaik.
Meja makan itu penuh dengan hidangan mewah dengan porsi yang banyak pula.
“ Ini.. Apa nggak kebanyakan ya tante? Kayaknya nggak akan habis deh”
Vanya dan ibu nya saling tatap dan tersenyum.
“ Gapapa Maudy, daging di rumah kita emang banyak banget, jadi kalau ini nggak habis bisa di buang, kan ada yang baru”
“Oh… gitu ya tante. Hmm.. Oke”
Maudy memulai suapan yang pertama, ia pura- pura mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibu Vanya.
Maudy melahap daging tersebut, tidak bisa berhenti.
“ Mmmmm… ini enak banget Vanya, tante, daging apa ini?”
Vanya dan ibu nya lagi-lagi saling tatap dan tersenyum.
“ Itu daging sapi, Maudy” Jawab Vanya
“ Daging sapi? Masa sih? Hmm.. Tekstur nya beda yah dikirain aku daging unta.”
“ Ya bukanlah Maudy..” Kali ini ibu nya Vanya yang menjawab
“ Tante tau kenapa daging ini tuh eeeenak banget”
“ Oh, kenapa tante?” Maudy sangat antusias, ia berpikir bisa membuat nya juga di rumah dari resep ibu nya Vanya.
“Iya lah enak.. Ini kan daging sahabat kamu Maudy. Hihihihihi…”
Bersamaan saat Maudy menelan daging nya, ia menjatuhkan pisau dan garpu, ia sangat tidak mengerti dengan apa yang ibu Vanya katakan, ia pun langsung menoleh ke Vanya, ia masih berpikir positif
“ Itu daging nya Lili, Maudy”
Maudy menutup mulut setelah memuntahkan semuanya, ia sudah curiga mengapa rasa daging nya sangat berbeda
“ Sekarang lo tau kan kenapa seluruh anggota tubuh Lili yang ada Daging nya itu hilang semua? Hahahaha… karena daging nya Lili udah di perut kita, Maudy”
Tanpa menjawab apa pun Maudy langsung mengacak-acak semua yang ada di meja makan. Maudy memberontak, ia melempar gelas kaca ke arah Vanya.
“ Aaaaaaaaaa mamah, sakiiit”
“Vanya!” Maudy menahan ibu Vanya.
“ Apa yang kalian lakukan ini udah lebih dari kriminal! Jadi kalian yang bunuh Lili? Itu sahabat lo juga Vanya! Apa motif kalian hah?”
Dengan wajah yang berdarah- darah dan serpihan kaca yang menempel di wajah nya Vanya bangkit kembali
“ Gausah sok jagoan lo! Sahabat? Sejak kapan gua nganggep kalian tuh sahabat? Gua… . Cuman pengen daging kalian aja”
Vanya mencekik Maudy, wajah nya sangat mengerikan. Tapi beberapa saat kemudian Maudy menampar nya, dan menendang nya sampai mental, di kamar nya memang banyak sekali penghargaan taekwondo yang ia dapatkan sejak SMA.
“gua nggak akan biarin kalian, gua bakal lapor polisi… .. Ahh!”
Ibu Vanya memukulnya dari belakang menggunakan panci bekas daging-daging yang di mutiasi, masih banyak sekali darah nya.
Maudy membuka mata, kepala nya masih sangat pusing, ia berada di ruang bawah tanah yang dingin. Di hadapan nya terdapat 4 kulkas transparan yang isi nya potongan daging dan anggota tubuh manusia lain nya. Maudy pun berteriak saking syok nya.
“ Aaaaaaaaaaaaa!”
Napas nya tidak teratur, pikiran nya campur aduk, rasanya lemas sekali tapi ia tahu bahwa ia harus segera melarikan diri.
“ Ha-hp gua… . .” Maudy terus mencari nya, wajah nya sudah sangat kacau apalgi dengan kedua tangan dan kaki nya yang terikat mati.
Suara langkah kaki terdengar, itu adalah Vanya dan Ibu nya, mereka sudah ganti baju dan berdandan, Maudy dapat melihat wajah asli Vanya yang terlihat lebih menyeramkan.
“ Kenapa Vanya? Ke, kenapa lo tega ngelakuin ini ke Lili dan gua? Kita best friends forever kan? Lo yang bilang sendiri pas kita muncak. Tapi.. Sekarang lo sadis banget ke kita..”
Vanya mendengarkan tanpa merubah raut wajah nya yang menyeramkan.
“ Gua, ngedeketin kalian, karena kalian semua itu enak. Daging kalian enak!”
Ibu Vanya mengambil pisau besar mengasah nya tepat di depan Maudy
“ Se, semua? Maksudnya?”
Vanya membenarkan rambut nya yang panjang.
“ Iya, target gua itu bukan lo sama Lili aja, tapi Varrel dan Shaqi juga, tapi nanti. Gua dan nyokap belum puas sama daging perempuan, dan kita bakal puas setelah makan daging lo Maud, hahahahaha”
Tubuh Maudy semakin lemas, ia tahu bahwa ajak nya akan menjemput sebentar lagi, tapi disaat Vanya dan Ibunya sedang sibuk mengasah dan tertawa, akhir nya Vanya menyadari bahwa handphone nya berada persis di belakang nya.
Ia terus mencoba agar bisa meraih nya diam- diam dan live- streaming dia platform apa saja, agar kelakuan keji Vanya dan Ibunya bisa tertangkap basah.
“ Mau ngapain lo?!”
Vanya menyadari Maudy sedang mengutak- atik handphone nya.
“ Apa! Gua masih sanggup buat ngelawan lo Nya Hiaah!”
Maudy bangkit, meski tubuh nya di ikat, ia mendorong Vanya dengan kepala nya dan mengejar nya, ia menggigit sebilah pisah dan mencoba menusuk Vanya, tapi usaha itu tentu saja mentah, Vanya dengan mudah meraih pisau itu dan menusuk perut Maudy.
“ Aaaaaaaah!” Maudy berteriak kesakitan, tapi masih tidak menyerah, ia menggigit rambut Vanya dan meludahi nya, setelah Vanya teralihkan, giliran Maudy yang menggigit pipinya hingga berdarah, Vanya terjatuh dan lagi- lagi Maudy menyerang nya tanpa ampun, Menginjak, menendang segala cara ia lakukan untuk memberontak.
“ Aahh! Aah! Maudy, Maudy cukup! Gua gua… . . Gua apa! Lo lebih pantas mati dari pada gua tau gak!”
Sebelum serangan terakhir nya, Maudy sudah terlambat. Sepersekian detik kemudian kepalanya ditusuk dengan pisau besar yang sangat tajam oleh ibu nya Vanya, dan sekarang giliran Maudy yang telah gugur.
“ Kamu gapapa, sayang?” Tanya ibunya penuh kasih sayang
“ Gapapa mah, besok kita akan makan enak” Vanya tersenyum, ia melihat foto mereka berlima di puncak gunung yang ia letakan di ruang bawah tanah itu, di foto itu, wajah Lili dan Maudy di coret dengan tanda x. Ia dan ibu nya pun kembalii ke atas. “ Roni, tolong bereskan makan siang kita!”
Saat mereka melangkah terus ke atas, tanpa mereka sadari, bahwa rencana Maudy berhasil, ada ribuan orang yang menonton live kejadian tadi, termasuk Varrel dan Shaqi.
Tamat
***
Ahmad Amar adalah seorang siswa kelas 9 yang bersekolah di Madrasah berbasis pesantren di Kota Bandung.