Kususun Tulang Belakangmu, Tapi Kau Memilih Melata

Kususun Tulang Belakangmu, Tapi Kau Memilih Melata

Ketika hukum gravitasi dan semburan gamma menjadi bahasa sakit. Puisi kosmik melankolis tenyang kerelaan hancur demi menopang belahan jiwa, hingga akhirnya sadar bahwa tak ada orbit yang abadi jika hanya satu yang setia.

Kususun Tulang Belakangmu, Tapi Kau Memilih Melata.

Seiring terulurnya benang waktu yang menenun ruang semesta,
Kucuri serpih ilahi, demi melukis wujud sempurnamu.
Namun aku bukan matahari yang sanggup menaklukkan cakrawala,
Butuh peranmu agar pijarku mampu mengisi orbitmu.

Lama kumengorbit tanpa cahaya, hingga intiku membeku,
Bagaikan bintang yang kehilangan fusi, perlahan menuju runtuh.
Sayang, kala kau serap habis seluruh energiku,
Bukankah wajar, bila aku memilih melesat menjauh?

Semburan gammamu begitu hebat, menyelimuti semesta dengan kelam,
Silau radiasimu membungkam ruang, membuat redupku tak pernah terbaca.
Kususun tulang belakangmu, kala jiwamu nyaris terbenam,
Namun saat cahayaku melemah, tak satu pun jeritku terbaca.

Kau tuding redupku sebagai pangkal segala nestapa,
Lupa, nyalaku pernah menjadi arah di pekat gulita.
Yang kudamba hanyalah gravitasi yang saling menjaga,
Sebab tak ada orbit yang abadi bila hanya satu yang setia.

Download Original File