PARUH DAN SEPASANG CAKAR

PARUH DAN SEPASANG CAKAR

CERITA FABEL BERJUDUL PARUH DAN SEPASANG CAKAR, TENTANG SEORANG HEWAN KUCING RAPUH YANG DIBULLY OLEH TEMANNYA YANG SERAKAH DENGAN WILAYAH. NAMUN ADA SOSOK BURUNG KAKAK TUA YANG MEMBANTUNYA SELAMAT DARI MAUT, SINGKAT CERITANYA MEREKA DIBERIKAN NASIHAT OLEH SANG BURUNG BERPARUH DAN PADA AKHIRNYA SADAR LALU MEMINTA MAAF. KARYA INI DITULIS SECARA MANDIRI SEBAGAI BENTUK MENGEKSPRESIKAN NILAI-NILAI KEHIDUPAN MELALUI TOKOH HEEWAN

JUDUL CERPEN: Paruh dan Sepasang Cakar

OLEH: Ni Made Pradnya Wati

“Maww…rrr! Minggir! Tukang penjarah makanan! sejengkal pelataran yang dipijak tungkaimu adalah wilayah kekuasaan kami. dan tiada ruang bagi cakar kotormu untuk mencari makanan di sekitaran sini!” Gertak Jigo berapi-api. Suaranya menggelegar menembus cakrawala, menyiratkan murka yang teramat besar.

Diikuti oleh Yiki dan Wony, ketiga kucing tamak itu langsung merangsek maju, mendorong, serta mencabik tubuh si Husi. Hingga ia terpojok pasrah di sudut dinding halaman, kilatan kuku runcing mereka seketika meninggalkan luka yang begitu perih di kulit mungilnya.

Lewat untaian suara yang amat lirih, mengharap belas kasih. “Mee..ow.. tolong ma..afkan kelancanganku, sama sekali tak terpikir di benak bahwa ini adalah kawasan kalian. Aku benar-benar terpaksa mengambil makanan yang bukan hakku, lantaran kelaparan yang teramat mendera. Tolong biarkanlah aku pergi, Husi berjanji tidak akan pernah kembali lagi kemari.”

Sebaliknya, ratapan pilu ini justru disambut oleh gelak tawa terbahak-bahak penuh ejekan. Alih-alih menaruh iba, Wony yang angkuh kembali mengempaskannya hingga terjatuh tersungkur di atas tanah. Ketiga kucing penguasa itu tiada henti mengintimidasi Husi yang tak berdaya di tepi jalan tersembunyi, tempat kawanan itu biasa menghadang mangsa.

Tepat saat si Jigo hendak melayangkan cakaran mematikan berikutnya, tiba-tiba sepasang sayap kokoh mengepak membelah udara senja. Birda, sang burung kakaktua, terbang menukik tajam di antara mereka. Ia menyaksikan sosok kucing yang sedang kesakitan meminta bantuan. Tanpa membuang waktu, makhluk bersayap itu langsung melesat menolong dengan kesigapan, ia membusungkan dada, lalu memekik kencang dan nyaring, sehingga membuat gendang telinga para predator ganas itu bergetar hebat.

Namun, upaya itu tidak mencekam sanubari Jigo dengan kengerian yang justru membuat dirinya merasa tertantang. Menggunakan kekuatan andalannya, ia kembali beraksi, melompat pada tiang tinggi didekatnya dan berusaha mencengkram kepak kokoh sang burung.

“Maoww… Berani sekali kau ikut campur, makhluk udara!” geram si predator, sembari menghantamkan cakar tajamnya ke arah sasaran.

Akan tetapi, seringan kepakan pusaran, Birda mengibaskan sayapnya lebar-lebar, meliuk tangkas. Ia mampu menghindari gempuran senjata jemari dari Jigo. “Krrrt…Cakarmu hanya membelah angin kosong! Makhluk darat.” Sembari menggoyangkan sayapnya. “Sebenarnya aku tidak ingin menyerangmu, aku hanya ingin menolong temanmu yang sedang kau sakiti” tuturnya tenang di atas ketinggian. Ucapan itu nyatanya membuat Yiki dan Wony mengambil kesempatam mengompori Jigo untuk terus melawan dan menepis amanatnya, kedua sekutu predator ini meremehkan petuah Birda.

“Ayo Bos jangan biarkan dirimu kalah dari seorang burung kakaktua, itu adalah mangsa kita! Ujarannya itu hanya manipulasi…” Akibat hasutan dua teman licik, saat itu juga bara amarah di dalam dadanya pun kian berkobar, Jigo bangkit melancarkan serangan dahsyat.

Meskipun begitu, seluruh kepungan mereka berujung hampa. Sang burung bersayap indah itu sangatlah lincah, ia mampu menghindari setiap terjangan, meskipun predator terus memanjat dengan cepat ke tempat yang tinggi, bahkan kedua temannya turut membantu menyergap.

Dalam keadaan yang begitu murka, sang burung kakak tua memberikan gempuran pamungkas kepada lawannya. Memanfaatkan paruhnya yang tajam, untuk mematuk bagian tubuh terlemahnya yaitu mata. Hantaman itu seketika membuat Jigo mengerang perih, bahkan seulas cairan merah pekat mulai mengalir pasrah dari sudut kelopak matanya.

Kedua temannya mengira Birda bukan apa-apa tetapi pikiran liciknya salah, sekarang mereka telah tahu bahwa burung berparuh itu memiliki kekuatan melebihi diri mereka masing-masing. Sebab sudah tak tahan jika diserang kembali dan pada akhirnya kalah, Jigo pun terpaksa menyingkir kemudian meminta maaf kepada Birda walau tubuhnya terluka karena patukan darinya.

“Meow… Burung kakaktua yang perkasa, mohon ampunilah kami. Sekarang kami bertiga telah tahu bahwa dirimu adalah unggas pemberani. Kawanan kami akan pergi secepatnya tidak akan mengganggu atau menyerang mu lagi. Aku, Yiki, dan Wony berjanji…” Mereka bertiga menunduk meyakini sang sayap perkasa untuk memaafkannya.

Karena sudah merasa sentosa bahwa predator akhirnya menyerah Birda turun dengan hati-hati. Ia memberi saran agar semuanya bisa terkendali tanpa perkelahian. “Krrtt… Hei para kucing, aku bukannya ingin menggurui di sini, tetapi hanya ingin kedamaian di antara kalian sesama makhluk berbulu. Aku hanya ingin kalian bertiga berdamai dengan meminta maaf kepada korban yang telah kalian intimidasi.” Setelahnya, ia terbang ke arah belakang, mendorong ketiga kucing itu yang masih ragu. “Aku akan membiarkan kalian pergi jika sudah meminta maaf.”

Karena dorongan dari si Birda, mereka pun meminta maaf, mengubah perbuatan kasarnya menjadi kelembutan. “Maafkan kami, Husi. Kami sangatlah jahat kepadamu, melukai kulitmu yang rapuh hanya karena keserakahan yang telah menguasai pikiran. Mulai hari ini kami tidak akan melukai dan mengganggumu lagi dan jika engaku ingin ke wilayah ini aku akan jamin tidak ada yang akan mengancammu lagi…”

Mendengar penuturan itu, butiran air mata jatuh di raut Husi. Walau ragu, ia mencoba mendekat dan mengampuni tingkah mereka yang menyakitinya. “Aku juga meminta maaf kepada kalian. Seharusnya aku tidak seenaknya mencari makanan di sekitaran daerah yang mungkin belum ku kenali.” Husi menundukkan kepalanya. Meski luka itu masih berbekas, ia dengan keikhlasan menyadari kesalahan disertai penyesalan yang mendalam.

Menyaksikan kemurnian hati Husi, Jigo perlahan mendekat meskipun penglihatannya agak buram ia berusaha mengulurkan cakarnya dan membagi beberapa pasokan makanan untuknya, Yiki dan Wony menyentuh Husi, mengajak sambil berbicara perlahan. “Meow… Husi, ayo ikut bersama kami. Menikmati santapan bersama-sama pasti menyenangkan. Kami masih sangat menyesal telah melukaimu sampai seperti ini.”

Husi masih Ragu, namun tetap ikut melangkah karena ajakan damai mereka. “Tidak apa-apa, luka ini pasti akan cepat sembuh. Baiklah aku terima undangan kalian. Terima kasih ya semuanya.”

Husi tak lupa juga berhutang budi kepada Birda yang telah menyelamatkan serta menyadarkan ketiga sesamanya. Ia menunduk dalam-dalam penuh takzim. “Wahai Burung kakaktua, terima kasih banyak telah melindungiku. Engaku benar-benar mulia, tulus kepada siapa pun tanpa memandang perbedaan jenis. Sekali lagi terima kasih, aku pasti akan selalu mengingat kebaikanmu.”

Untaian kalimat itu membuat hati Birda benar-benar tersentuh. “Sama-sama kucing. Memang sudah kewajiban kita menolong siapapun tanpa melihat perbedaan, tapi kita juga harus berhati-hati. Jangan sampai niat baik tersebut justru berbalik menjadi ancaman bagi diri kita sendiri…” Nasihat bijak Birda seketika menyadarkannya bahwa setiap makhluk hidup berhak dilindungi, dikasihi, dan dihargai.

Dari segala riuh pertengkaran, permohonan maaf yang telah terucap. Pada akhirnya Birda, Husi, Jigo,Yiki, dan Wony. Tumbuh menjadi karib yang saling mengampuni. Walau mereka terlahir dari jenis darat maupun udara yang jauh berbeda, batasan wujud itu sama sekali tidak menghalangi kemurnian sanubari mereka untuk terus berjalan beriringan, merajut sebuah jalinan persahabatan yang sejati dan abadi di dalam sebuah kota.

Download Original File