"Ulang Tahun Pertama Bersama Ayah" Mengisahkan perjalanan emosional Rembulan, seorang gadis yang tumbuh dengan luka batin akibat ketidakhadiran figur ayah sejak ia kritis di masa balita. Ketika sang ayah, seorang supir taksi sederhana, mulai hadir di hidupnya, hubungan mereka terasa asing dan kaku. Konflik batin Rembulan mengalami pasang surut yang hebat. Mulai dari kebahagiaan mendapat kejutan ulang tahun pertama, kekecewaan mendalam saat hadiahnya dikorbankan untuk utang, hingga proses pemaafan yang dewasa. Cerpen ini mengeksplorasi arti pemaafan, kedewasaan, dan kasih sayang yang tak terucap antara anak dan ayah yang penuh keterbatasan.
ULANG TAHUN PERTAMA BERSAMA AYAH
oleh: Ayudiah Ningtias
Suara-suara terdengar memanggil namanya. Berteriak layaknya jatuh dari atas jurang. Sirine ambulans terus menggema, membelah keheningan malam di jalan kota yang ramai. Gadis kecil itu berbaring dengan lemas di atas ranjang. Mengira ini adalah hari-hari terakhir nya. Hujan yang turun sangat deras seolah ikut menangis.
Bahkan, keluarganya seperti lupa sejenak dengan dunia. Mereka tidak peduli dengan penampilan masing-masing. Menggunakan sandal yang sudah tidak layak, pakaian yang seharusnya dipakai di rumah pun lupa mereka ganti. Gadis kecil itu bernama Rembulan. Rembulan yang selalu memberikan cahayanya di hari yang gelap bahkan selalu ada disaat embun pagi tiba.
Kini, Rembulan terbaring dengan lemah. Akibat kelalaian sang ibu, ia dilarikan ke rumah sakit karena keracunan. Rembulan, anak berumur dua tahun yang belum tahu apapun. Ibu Rembulan menatap dengan tatapan menyesal. Pipinya sudah basah, celah kering pun tidak ada sepeserpun. Gemuruh di hatinya bagaikan hujan petir. Anak yang pertama dikenalkan ke dunia, kini ia saksikan di ambulans akibat kelalaiannya sendiri.
Tiba-tiba terlintas di kepala Ibu Rembulan, ia menyuruh paman Rembulan agar memberi kabar kepada suaminya. Minta agar ia pulang dari pekerjaannya untuk melihat sang anak di hari-hari terakhir. Selang beberapa detik, suaminya memberi jawaban bahwa ia sudah di pasar dan minta dijemput. Buru-buru sang paman menjemputnya menggunakan kendaraan bermotor, namun ternyata nihil, ayah Rembulan berbohong.
Dicobanya kembali setelah beberapa jam, jawabannya tetap sama. Kembali lagi, pamannya menjemput ke pasar, dan untuk kedua kalinya ayah Rembulan berbohong.
Belum sampai mereka ke tujuan, layar monitor yang semula bergaris naik turun, kini bergaris lurus. Cukup sudah keheningan mereka. Anggota keluarga tidak ada yang diam. Di bangunkan tubuh Rembulan juga, ia tak bergerak. Teriak-teriakan terus menggema. Gadis kecil yang selalu ceria, rendah hati, dan selalu mengerti keadaan orang tuanya. Tidak mungkin pergi begitu saja.
Mereka bingung, menangis, berteriak. Mengapa Tuhan ingin mengambil Rembulan yang mereka sayangi?
Petir berbunyi keras membelah langit. Menyaksikan betapa hancurnya keluarga itu ditinggalkan oleh Rembulan. Ibu Rembulan sudah tidak bisa duduk seimbang. Rasanya bumi runtuh menimpa pundaknya. Pandangannya sudah kabur entah kemana. Yang terlihat hanyalah warna putih bersinar layaknya Rembulan menatapnya. Kini, yang bisa mereka lakukan hanyalah berdoa. Meminta untuk mengembalikan Rembulan. Memang mustahil untuk dicoba.
Namun, Tuhan Maha Mendengar. Beberapa detik setelah kejadian, layar monitor kembali berjalan normal. Bukan lagi bahagia mereka melihatnya. Seolah-olah mendung yang terbendung tadi, lenyap begitu saja. Digantikan dengan pelangi yang hadir. Ibu, paman, dan kakek Rembulan saling mengucapkan rasa syukur yang amat dalam.
Setetes air mata turun membasahi pipi Rembulan yang sedang terpejam. Disaat nafasnya sudah di ujung tanduk, tidak ada peran ayah yang menemaninya. Sejak kecil, mana ada ia tertawa bersama ayah. Tidak ada Rembulan yang merasa bahwa cinta pertamanya adalah seorang ayah. Menurut Rembulan, istilah itu tidak berlaku di hidupnya. Maka, ia sangat bersyukur bisa diberi kesempatan kedua kali untuk bernafas. Selama ini, sang ayah belum pernah menampakkan batang hidungnya. Mungkin, Tuhan memberikan kesempatan ini agar Rembulan bisa melihat dan merasakan bagaimana peran ayah di setiap hari-harinya.
Ingatan suram itu kembali teringat oleh Rembulan. Kini, usianya akan menginjak sebelas tahun. Rembulan tumbuh menjadi gadis yang pendiam. Entah mengapa, dirinya yang dulu ceria kini pupus terbawa angin. Setiap harinya, ia hanya berdiam di rumah. Tidak ada teman. Hanya ada ibunya yang selalu menemani. Hanya ibunya juga yang selalu jadi teman bercerita.
Langit jingga sudah terlihat. Burung-burung berkicauan untuk pulang ke sarangnya. Rembulan duduk di teras rumah. Menyaksikan indahnya langit di sore hari. Rasanya sungguh tenang. Ia duduk sendiri. Orang-orang berlalu lalang di jalanan dekat rumahnya. Ada yang baru pulang dari bekerja, ada pula yang pulang dari sawah.
Jika masa kecilnya ia hidup tanpa seorang ayah, maka saat ini ayahnya sudah pulang ke rumah. Namun, walaupun ayah ada di rumah, rasanya sama saja. Seperti orang asing yang tidak sengaja berpapasan dan harus satu atap. Rembulan selalu enggan bercerita kepada ayahnya. Sang ayah sebenarnya sangat baik, tidak pernah ia memarahi atau membentak sekalipun kepada ibunya serta Rembulan. Tetapi, tetap saja Rembulan tidak mau membuka hatinya agar bisa dekat layaknya seorang anak dengan ayahnya.
Rembulan selalu teringat bayangan masa kecilnya. Jika memang ayahnya sangat sayang dan peduli padanya, mengapa dia tega sampai berani berbohong disaat Rembulan hidupnya di tengah-tengah antara hidup dan mati. Dan dengan senangnya, ayahnya pulang dan memutuskan untuk bekerja di sekitar desanya walaupun pulang larut malam, di usia Rembulan yang sudah remaja.
Ayahnya bekerja sebagai supir taksi. Penghasilannya bergantung pada penumpang. Kadang banyak kadang pula sedikit. Rembulan memang merasa senang akhirnya ia bisa melihat ayahnya, namun tetap saja ada rasa asing di antara mereka.
Malam nanti, tepat pukul dua belas, adalah hari ulang tahun Rembulan yang kesebelas tahun. Ia tidak mengharapkan apapun dari orang tuanya. Sejak kecil, setiap ulang tahunnya tidak ada yang sekedar memberikan kue. Hanya ucapan selamat yang Rembulan dapat. Rembulan mengerti keadaan ekonomi orang tuanya. Ia tidak ingin membebani mereka. Doa saja sudah cukup.
Apalagi ayahnya yang selalu pulang malam setiap Rembulan sudah lelap tidur. Mana mungkin juga ayahnya membelikan kue ulang tahun. Langit gelap sudah terlihat. Matahari digantikan oleh bulan. Rembulan berjalan masuk menuju kamarnya. Ibunya sedang melipat pakaian di ruang tengah. Rasanya sunyi sekali. Ia selalu melihat anak-anak desa yang bermain bersama ayah mereka. Tertawa bersama, berlarian, ataupun jalan-jalan. Rembulan ingin hidup seperti itu.
“Mustahil sekali jika ayah memberikan kue ulang tahun pertamaku”. ucap Rembulan seraya menatap langit-langit kamar.
Ibu Rembulan memasuki kamar anaknya. Ia menaruh pakaian Rembulan yang sudah dilipat untuk ditaruh di lemari. Ibunya menatap hangat kepada putrinya. Ada rasa bersalah yang sulit diucapkan.
“Rembulan lagi memikirkan apa, nak?”. tanya sang ibu. Ia ikut duduk di kasur bersama Rembulan.
Rembulan hanya mendongakkan kepala, lalu menggeleng pelan. Buat apa juga ia bercerita jika selalu mendapatkan jawaban yang sama. Lebih baik, ia diam dan mengubur semua pertanyaan yang ingin ditanyakan. Berharap terus-menerus juga sakit. Apa gunanya berharap jika harapan itu akhirnya hilang begitu saja. Kata orang-orang, Rembulan itu selalu bersinar di langit yang gelap. Menyinari dunia yang sudah hilang warnanya. Namun, Rembulan merasa itu tidak ada di dirinya.
Rembulan juga ingin ditemani bukan hanya menemani. Dia memang selalu ada untuk orang lain, tapi apakah orang lain selalu ada untuknya? Tidak. Semua punya kesibukan masing-masing.
Di tengah lamunannya, sebuah deret pintu terdengar. Rembulan dan ibunya menatap ke arah ruang tengah. Berpikir siapa yang datang dan langsung membuka pintu disaat malam seperti ini. Ibu Rembulan beranjak dari kasur, menuju ruang tengah. Sedangkan, Rembulan hanya diam dengan pikirannya.
Setelah dilihat, ternyata itu ayah Rembulan yang baru saja pulang. Aneh. Jam baru menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, ayahnya sudah pulang secepat ini. Biasanya, ia pulang sekitar jam dua belas atau jam satu dini hari. Ibu Rembulan segera menuju dapur untuk membuat kopi.
Rembulan yang tahu ayahnya pulang, segera bangun. Ia lalu keluar kamar, dan duduk di dekat televisi. Rembulan mendengus kesal. Ia kira ayahnya sengaja pulang untuk memberikan kue ulang tahun. Ternyata ayahnya tidak membeli apapun. Sungguh, Rembulan terlalu berharap.
“Rembulan, sini”. suara lembut ayahnya terdengar memanggilnya.
Rembulan terlonjak kaget. Baru saja ia membicarakan ayahnya, tiba-tiba sang ayah memanggil. Apakah ayahnya bisa mendengar suara hati Rembulan?. Rembulan berjalan pelan menuju kursi dekat ayahnya. Ia sedikit canggung jika berdekatan. Ingin bicara saja seperti lupa membuka mulut. Maka, Rembulan hanya menunduk dan tenggelam dengan semua halusinasinya.
Ayah Rembulan tersenyum hangat. Ia mengambil sesuatu dari bawah meja. Sengaja ditaruh disitu agar Rembulan tidak melihatnya. Ternyata itu adalah sebuah kue dengan lilin angka sebelas di tengahnya, untuk Rembulan. Betapa senangnya Rembulan saat melihat kue itu. Sungguh, semua ini diluar dugaannya. Harapan itu, harapan yang ia selalu inginkan kini telah terwujud. Tidak lagi terbawa angin maupun arus.
Rembulan menatap wajah ayahnya. Masih tidak percaya dengan semua ini. Ayah yang dulu ia kira tidak menyayangi dirinya. Ayah yang ia kira adalah orang asing. Semua itu langsung hilang dari pikiran buruk Rembulan.
“Selamat ulang tahun untuk Rembulan. Maafkan ayah yang belum bisa menyayangi Rembulan dengan baik. Ayah tahu ayah banyak salah dengan Rembulan, tapi ayah berusaha agar bisa menjadi sosok yang selalu menemani Rembulan dimana saja”.
Roboh sudah pertahanan Rembulan. Air mata yang ia tahan sudah tidak bisa terbendung. Mengalir deras membasahi pipinya. Ia kira ayahnya sudah tidak menganggap Rembulan. Ternyata Rembulan salah. Di balik dia dan ayahnya yang saling diam, ada kasih sayang yang tidak bisa diucapkan.
“Ayah, terima kasih. Dari semua hal yang terjadi disini, yang paling istimewa adalah hari dimana Rembulan bisa merayakan ulang tahun pertama bersama ayah”.
Tak terasa kini, Rembulan sudah menjadi remaja berusia tiga belas tahun. Hari-harinya terasa begitu cerah dibanding dahulu. Rembulan juga sangat rajin sekolah. Ia tidak pernah bolos maupun absen. Namun, ada keinginan di hatinya yang belum terpenuhi. Yaitu handphone. Disaat anak-anak seumurannya sudah mempunyai gadget, hanya dirinya yang merasa belum punya.
Rembulan kadang merasa iri dengan mereka. Ayahnya juga tidak mempertanyakan hal ini. Rembulan hanya bisa berkeluh kesah sendiri. Saat ini, ia sedang duduk di ayunan depan rumahnya. Menikmati angin yang berhembus di siang hari yang teduh. Rembulan selalu saja berhalusinasi bahwa dirinya bisa mempunyai apapun yang ia inginkan. Ayahnya bekerja setiap hari. Walaupun, saat hari ulang tahunnya mereka bisa bicara bersama, tetap saja mereka tidak dekat. Entah mengapa, alasannya Rembulan juga tidak tahu.
Sebuah mobil taksi berhenti di pekarangan rumah. Rembulan bingung, hari masih terang dan ayahnya sudah pulang. Baru pertama kalinya ayah Rembulan pulang siang. Rembulan diam saja, mungkin ayahnya sedang sepi penumpang. Ayahnya keluar dari mobil dengan membawa sesuatu di tangannya. Rembulan menoleh saat ayahnya ikut berdiri di sampingnya.
“Mengapa ayah berdiri disini? Apakah ayah mau bergantian duduk di ayunan?”. Rembulan terus bicara di dalam hatinya.
Ayah Rembulan mengambil sesuatu dari dalam tas kecil itu. Ternyata sebuah handphone baru untuk Rembulan. Lagi dan lagi, Rembulan dibuat terkejut. Dahulu, saat ia mengharapkan kue ulang tahunnya, ayahnya tiba-tiba saja pulang dan memberikan kue. Sekarang, disaat Rembulan ingin handphone pun ayahnya membelikannya.
“Ini handphone untuk Rembulan. Ayah baru bisa beli, soalnya baru dapat penghasilan yang lumayan. Maaf ya”.
Rembulan mengambil handphone itu di tangan ayahnya. Kini, ia yakin bahwa ayahnya sangat menyayangi dirinya. Rembulan mengucapkan banyak terimakasih kepada ayahnya. Ia sudah tidak menganggap ayahnya orang asing. Rembulan juga tidak akan canggung lagi. Karena Rembulan sudah menemukan orang yang benar-benar bisa menemaninya.
Seminggu berlalu, setiap pulang sekolah Rembulan selalu bermain handphone. Rembulan saat ini selalu mengobrol dengan ayahnya. Bahkan sudah tidak ada rasa malu maupun canggung. Bahkan, dirinya selalu menunggu jika ayahnya belum pulang bekerja. Malam ini, Rembulan baru saja selesai membasuh kakinya sebelum tidur. Minggu terakhir, ayahnya pulang sekitar jam delapan malam. Sedangkan sekarang, sudah jam sepuluh dan ayah Rembulan belum juga terlihat. Sehingga, Rembulan memilih untuk tidur duluan.
Keesokannya, Rembulan libur sekolah. Ia bangun pagi-pagi untuk beribadah. Setelah selesai dengan kegiatannya, ia melihat ibunya sedang duduk di teras. Rembulan menghampiri lalu ikut duduk.
“Ibu kenapa?”. tanyanya.
Ibu Rembulan menoleh dengan tatapan sendu. “Rembulan jangan benci ayah ya?”.
Rembulan dibuat bingung dengan ucapan ibunya. Melihat raut wajah Rembulan, sang ibu melanjutkan perkataannya.
“Handphone baru yang dibelikan ayah untuk Rembulan, sudah tidak ada. Ayah ternyata mempunyai hutang kepada atasannya. Sehingga, handphone Rembulan harus diberikan kepada atasan ayah. Maafkan ayah ya nak, ini demi kamu juga agar masih bisa tinggal di rumah ini”.
Petir seolah menyambar tubuh mungil Rembulan. Sia-sia dirinya selama ini bersikap manis pada ayahnya, rela menunggunya pulang, dan bahkan sering bercerita. Rembulan kira ayahnya sangat sayang kepadanya. Rembulan menertawakan dirinya sendiri. Bodoh sekali dirinya langsung mempercayai ayahnya. Harusnya Rembulan menutup semua hatinya. Disaat Rembulan kecil kritis, mana ada sang ayah yang menemani. Dan kini, sudah remaja pun ayahnya tega memberikan benda pertama darinya untuk membayar hutang. Egois sekali.
Mengapa tidak handphone dia sendiri saja. Mengapa harus handphone Rembulan. Jari-jari tangan Rembulan mengepal kuat. Hatinya terkikis lagi untuk kedua kalinya. Dimana sebenarnya hati seorang ayah? Mungkin tidak ada. Dan untuk kesekian kalinya, Rembulan menyesal mempercayai ayahnya begitu saja. Namun, ia selalu berharap kembali, tidak ada seorang ayah yang tidak menyayangi anaknya.
Beberapa tahun kemudian.
Rembulan sudah menginjak usia tujuh belas tahun. Hubungannya dengan sang ayah kian membaik. Ia sudah memaafkan segala kesalahan ayahnya. Walaupun bekas luka itu masih teringat di benaknya. Rembulan juga tidak mau egois hanya karena satu benda. Lagipula, ayah Rembulan sudah membelikan handphone baru untuknya dengan permintaan maaf. Rembulan sudah dewasa, ia juga tidak mungkin bersikap kekanak-kanakan.
Kini, setiap ayahnya pulang kerja, ayah Rembulan selalu mengajak Rembulan jalan-jalan, berbelanja dan hal seru lainnya. Rembulan tidak akan pernah mengira di masa lalu ia hidup penuh kegelapan, kini dirinya bisa merasakan rasanya dicintai oleh sosok ayah. Rembulan selalu tersenyum tipis jika melihat ayahnya pulang. Rembulan tidak pernah mengucapkan bahwa dirinya menunggu.
Rembulan selalu ingin bersikap ceria seperti orang lain. Tetapi, rasanya sulit untuk sekedar tertawa. Rembulan lebih menyukai dirinya seperti ini. Tidak perlu banyak bicara, namun di setiap perkataannya pasti tersirat makna.
“Rembulan tahu ayah pernah melakukan kesalahan yang membuat Rembulan kecewa. Namun, ayah adalah satu-satunya sosok yang bisa membuat Rembulan tersenyum hingga kini. Rembulan bangga mempunyai ayah. Ayah, hidup lebih lama lagi ya, agar Rembulan bisa menggantikan semua jerih payah ayah untuk Rembulan di masa yang akan datang”.
Selagi ayah masih ada, luangkanlah waktu kalian untuk menemaninya. Ucapkan maaf jika mempunyai salah kepadanya. Dan berdoalah agar ia hidup lebih lama.
SELESAI