Aku Perempuan dan Aku Bisa

Aku Perempuan dan Aku Bisa

Seorang siswi SMA bernama Rina yang berjuang mewujudkan cita-citanya menjadi hakim meski mendapat cibiran karena dianggap perempuan hanya pantas berada di dapur. Dengan kerja keras dan tekad yang kuat, ia membuktikan bahwa perempuan mampu meraih impian setinggi apa pun.

Aku Perempuan dan Aku Bisa

Suara ayam berkokok membangun kan aku dari tidur nyenyakku, ku lihat jam dinding menunjukan pukul 04.30, dengan langkah gontai, aku beranjak dari tempat tidur ku untuk segera bangun dan bergegas mandi. Bedug Subuh terdengar, suara adzan berkumandang memanggil umat islam untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah mandi aku bergegas untuk melaksanakan sholat, kemudian melakukan rutinitasku di pagi hari. Aku duduk di depan meja belajar ku untuk mengulang materi pembelajaran di sekolah. Hawa dingin membuatku ingin kembali ke kasur dan masuk ke dalam selimut ku, namun hal itu tak bisa ku lakukan mengingat bahwa diriku sudah memasuki kelas XII SMA, terlebih sekarang sudah memasuki semester akhir dan 2 bulan lagi aku akan mengikuti ujian sekolah. Aku harus belajar dengan giat dan lulus dengan nilai yang baik, karena aku sudah memutuskan tujuan ku untuk melanjutkan pendidikan ku ke universitas Gajah Mada.

Aku Rina, orang orang biasa memanggilku dengan sebutan Ririn, rambut ikalku dengan bola mata berwarna coklat terang menjadi ciri khas ku di lingkungan sekitar. Aku lahir dari keluarga yang sederhana, ayahku seorang pegawai negri sipil dan ibuku seorang pedagang mie ayam kaki lima. Aku sudah bertekad untuk melanjutkan pendidikan ku dan memasuki universitas Gajah Mada, bagiku dapat masuk ke Universitas tersebut merupakan langkah awal dari tercapai nya cita-cita ku.

Jam dinding menunjukkan pukul 6 pagi, Tak terasa sudah satu setengah jam berlalu sejak aku tenggelam dalam dunia belajar ku. Kini saatnya aku untuk bersiap untuk berangkat ke sekolah, karena jam masuk sekolah ku tepat pukul 07.30 pagi. Aku bersiap lebih awal agar aku dapat sampai di Sekolah tepat satu jam sebelum bel masuk untuk mengulas kembali mata pelajaran minggu lalu pada hari ini. Angin pagi menyapa lembut diriku yang kini sedang duduk di sebuah motor vario berwarna merah, rambut ikalku yang terurai berterbangan mengikuti iramanya. 15 menit berlalu, kini aku sudah berada tepat di depan gerbang sekolahku, sedih rasanya mengingat bahwa diriku akan meninggalkan tempat penuh kenangan ini dalam 2 bulan yang akan datang.

Aku melangkah menyusuri lorong lorong panjang untuk menuju kelasku ditemani dengan rasa sepi yang menyelimuti diriku. Lorong itu masih terlihat sunyi karena jam baru menunjukkan pukul 06.30 Pagi. Terlihat sebuah papan nama berukuran 30×10 cm berwarna putih dan di dalamnya tertulis sebuah kata. “XII B” itulah kelasku, ruang di mana aku berada dan belajar selama 10 bulan terakhir, aku masuk ke dalam sana dan duduk di baris ketiga dari belakang tepat di dekat jendela. Terdengar suara bel berbunyi, menandakan jam pelajaran akan segera dimulai. Hari itu pada jam pertama kelasku akan diisi oleh mata pelajaran Bahasa Indonesia, minggu lalu Bu Winda memberikan sebuah tugas kepada seluruh murid di kelasku, kami diberikan tugas untuk menulis rencana masa depan pada selembar kertas folio bergaris. Kami akan menulisnya lalu kemudian mempresentasikannya di depan kelas. Tak lama, Bu Winda pun memasuki kelasku, dan kemudian ia memulai kelas dengan memimpin doa terlebih dahulu. Selesai sudah doa yang kita baca, kini saatnya Bu Winda membahas tentang tugas yang minggu lalu ia berikan. “Anak anak, bagaimana apakah tugas yang Ibu berikan minggu lalu sudah kalian selesaikan? “ Serentak anak kelas menjawabnya dengan berucap “Sudahh, Bu…“

Kini, satu persatu dari mereka di panggil untuk mempresentasikan hasil tugas yang sudah mereka kerjakan, beberapa menit berlalu, tibalah saatnya giliranku untuk maju kedepan, aku mulai membaca satu persatu rencana yang sudah ku susun dengan baik, mulai dari di mana aku akan melanjutkan pendidikanku, hingga pekerjaan apa yang ingin aku tekuni. “Saya memilih Universitas Gajah Mada sebagai universitas yang akan saya masuki, disana saya akan mengambil dan menekuni fakultas hukum yang kemudian akan lulus dengan gelar S.H serta melanjutkan cita-cita saya sebagai Hakim.” Presentasi dilanjutkan oleh siswa siswi yang belum maju. Tidak lama kemudian

suara bel istirahat berbunyi, Bu Winda mengakhiri kelas dengan memberikan beberapa kata nasehat dan kemudian ia keluar meninggalkan kelas.

Tiba tiba seorang siswa laki laki bernama Rifky menghampiriku, dengan suara lantang ia mengatakan “Woy rin, kamu serius mau ambil Fakultas Hukum dan bekerja sebagai Hakim? hahaha, Rinn bangun deh kalo mimpi tuh jangan ketinggian! untuk apa kamu bermimpi tinggi tinggi, inget kamu itu perempuan, karena akhirnya kamu akan berakhir di dapur dan melayani kami para lelaki! “ Mendengar nada bicaranya yang mengesalkan ditambah dengan tampangnya yang berkata seakan aku tidak bisa, cukup untuk membuatku ingin sekali menampar dirinya itu. Namun niat itu kuurungkan, mengingat jika aku melakukannya itu hanya akan memberikan beban tambahan untuk diriku sendiri dan itu adalah tindakan yang salah. Tentu saja aku tak terima dengan ucapannya, maka aku membalasnya dan mengatakan “Lalu mengapa jika aku perempuan? Aku memang perempuan, dan aku bangga menjadi seorang perempuan! Apakah kamu tidak mengetahui bahwa terdapat banyak perempuan perempuan hebat di negri ini? Bahkan salah satu Pahlawan Nasional yang bernama R.A Kartini adalah seorang perempuan yang gigih memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia semasa hidupnya. Dengan pena dan kata kata bijak ia menyuarakan aspirasi perempuan! Membuka wawasan, membawa perubahan dan menciptakan kemajuan. Bahkan di dalam UUD pasal 27 ayat (1) menyatakan bahwa segala warganegara bersamaan kedudukannya dibawah hukum dan pemerintahan dan wajib menjujung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak terkecuali! Itu artinya diantara laki laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama di mata hukum! “ Jawabku dengan tegas dan lantang. Terlihat seluruh kelas terdiam mendengar perkataan ku, terutama Rifky yang terkejut melihat ku membalas dengan lantang. Para murid kemudian menyoraki Rifky, membuat Rifky merasa malu dan memilih pergi meninggalkan kelas.

Tujuh tahun berlalu, banyak yang telah terjadi dalam kehidupan ku selama tujuh tahun belakangan, aku berhasil lulus dengan gelar Sarjana Hukum (S.H) di Universitas yang aku inginkan. Tiga tahun lalu sejak aku menerima gelar sarjanaku, aku mulai mengikuti seleksi CPNS yang kemudian berhasil mendapatkan pendidikan dan pelatihan calon Hakim. Dan kini adalah hari dimana aku akan dilantik sebagai seorang Hakim. Senang, sedih, ku rasakan, mengingat semua perjuangan ku selama tujuh tahun belakangan yang sangat berlika liku. Namun kini aku bisa membuktikan kepada dunia, bahwa aku, seorang perempuan bisa menjadi apa yang aku inginkan, aku bisa menjadi orang yang membanggakan. Ejekan dan hinaan orang orang terhadap diriku kini berubah menjadi pujian.

Aku membuktikan, bahwa menjadi perempuan bukanlah sebuah penghalang untuk meraih kesuksesan. Karena siapapun diri kita, darimanapun kita berasal, usaha dan tekad yang kuat dan disertai doa lah yang dapat mewujudkan cita-cita yang kita inginkan. Menjadi perempuan adalah takdir sekaligus anugerah dari Tuhan.

Download Original File