Saya tidak memiliki pekerjaan dan berperan sebagai Ibu Rumah Tangga.
BUKU UNTUK ALI
KARYA: NAILAH QONITAH
"Mungkin, aku bisa membaca tanpa perlu bersusah payah. Bukan karena aku tidak bisa, tapi karena keadaan yang memaksa. Lain waktu, buku-buku itu adalah milikku.Tanganku tidak kotor, tidak perlu korbankan sesuatu demi hidup yang layak.” Ali.
***
DALAM kicauan burung dan balutan hangat sinar mentari, aku duduk di atas lantai penuh debu. Dikala anak seusiaku tengah memegang pena dengan jaitan seragam mereka, aku di sini, duduk di atas lantai yang permukaannya hampir retak. Dengan sebatang pena yang selalu hadir menemaniku. Aku menyandarkan tubuhku pada dinding berlapis cat merah. Jemariku tanpa henti mencatat kata demi kata yang dikeluarkan oleh Bu Guru. Paragraf satu, dua, lalu berhenti sejenak.
Sesekali, tangan kecilku meraih ujung jendela, berusaha melihat kalimat-kalimat di dalam papan tulis. Dalam keheningan kelas, tidak ada kepala yang menoleh ke arahku. Diam, sunyi, hanya kalimat-kalimat dari mulut seorang guru yang terdengar. Ketika ada sepasang mata yang melirik ke arahku, aku akan membungkukkan tubuhku.
"Pak, apa tidak sebaiknya pohon-pohon di belakang kita tebang saja? Tanahnya bisa kita buat taman kecil di sekolah ini." Aku segera menundukkan kepala. Wajahku pucat, sementara keringat mulai menetes membasahi kerah bajuku. Penjaga sekolah itu tidak pernah tahu kehadiranku setiap pagi, duduk di luar kelas, tanpa seragam, seolah mengikuti kelas ilegal. Pohon-pohon yang akan segera mereka tumbangkan telah menjadi payung yang menghalangi terik mentari untukku. Mungkinkah hidupnya akan segera berakhir? Jika benar, aku juga tidak bisa meneruskan kelasku di sini.
Aku menghela napas kecil. Cahaya mentari semakin terang seiring berjalannya waktu. Sinarnya kian membakar kulitku. Aku hanya mengenakan kaus hijau pendek yang warnanya semakin gelap akibat keringatku sendiri. Terik matahari akan langsung mengenai kulitku, rambutku, dan terkadang menyilaukan mataku.
Tatkala bel istirahat mulai terdengar, aku bergegas merapikan buku dan pensil kecilku. Bukan untuk menikmati istirahat, melainkan untuk memanjat pagar belakang. Aku dengan lincah dapat segera keluar dari tempat itu. Kadang, sandal jepitku yang lebih kecil dari kakiku tersangkut. Orang-orang mulai akan berprasangka buruk tentangku. Kemudian, aku akan berlari secepat kilat untuk menghindari pantauan penjaga. Walaupun beberapa kali aku tertangkap basah tengah memanjat pagar.
Di jalanan kota, aku menatap sebuah toko buku dengan gaya bangunan klasik. Di sana terdapat sebuah poster yang terpampang, "Novel Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupery telah hadir di toko kami!" Kemudian, kulihat sampul pada buku yang mereka tujukan. Gambar seorang anak laki-laki kurang lebih seusiaku, dia seperti berdiri di atas sebuah lingkaran besar, menatap bintang keemasan dengan latar berwarna putih. Belum pernah aku menyentuh buku semacam itu. Lagi pula, aku tidak memiliki cukup uang untuk mendapatkannya. Hingga rasa inginku kusimpan hanya sampai di depan toko.
Ketika sampai di depan pintu rumah, aku mengetuk dan tahu tidak akan ada yang membalasnya. Rumah ini akan hening sampai Bapak pulang nanti malam. Di dalam kamarku, aku duduk dengan beralaskan karpet usang. Pensil yang ada dalam genggamanku kian hari semakin mengecil. Kertas-kertas di dalam buku semakin penuh dengan tulisan tangan.
Di atas sebuah meja kecil, hanya kutemukan beberapa koin lima ratus perak, itu membuatku mengingat akan harga kebutuhanku. Aku menatap toples kecil berisi uang koin itu, berat sekali jika harus mengambil koin-koin itu. Kini, Bapak tidak punya pilihan untuk buku dan pensilku atau makan kami hari ini. Aku menghela napas berat, memikirkan tubuhku yang semakin kurus demi membeli sebatang pensil dan sebuah buku tulis.
Satu-satunya cara adalah dengan memungut botol bekas, kertas bekas, atau apapun yang 'bekas' lainnya. Aku harus menyisir jalanan, membawa kresek kecil yang dipenuhi sampah hasil buruanku. Kadang, mengetuk pintu ke pintu untuk bertanya, "Apa ada botol bekas?" Kemudian pergi dengan kecewa jika tidak mendapatkan satupun. Tidak jarang aku memasukkan kepalaku ke dalam bak sampah yang lebih besar dari tubuhku. Bau menyengatnya kemudian akan menghantarkan rasa mual padaku.
Di tengah terik matahari, atau malam hari dikala orang-orang tengah berbaring di rumahnya, aku melakukannya kapan saja. Sedikit demi sedikit, kantung plastik yang semula ringan mulai terasa berat. Botol plastik, kaca, kaleng, kertas, semua membaur menjadi satu dalam dua sampai tiga kresek. Sekumpulan orang di pinggir jalan akan menganggapku aneh, mengasihaniku, atau mengatakan kepada anak mereka, "Bersyukur karena kamu tidak lahir seperti dia." Itu benar, karena aku juga tidak ingin anak lain bernasib sama sepertiku.
Ketika sampah-sampah itu sudah kuserahkan kepada Bu Tyas, seorang perongsok yang membeli barang-barang bekas atau rongsokan. Tempat itu dipenuhi sampah, serta barang-barang bekas. Mulai dari yang berharga, sampai yang hampir tidak ada harganya. "Ali, total barang kamu hanya sekitar tiga kilogram. Uangnya sekitar tujuh ribu," ucap Bu Tyas. Nominal itu tidak cukup untuk mendapatkan satu buku tulis dan pensil, hanya dapat membeli salah satunya. Namun, aku tetap pergi membawa uang tersebut menuju toko terdekat. Aku berhasil mendapatkan sebuah pensil seharga empat ribu. Namun, kebahagiaan itu sirna saat mengingat bahwa aku akan kembali bekerja untuk sebuah buku.
Sepanjang jalan aku menenteng kantung kresek yang sudah kotor, sambil mengantongi sebuah pensil. Malam itu, aku pulang dengan senyum tipis sampai pintu rumah terbuka. Kala itu, aku mendapati bahwa seisi kamarku telah dibuat berantakan. Kipas angin milikku yang hampir tak pernah menyala tidak lagi ada di tempatnya. Meja kayu tua yang kugunakan juga sudah menghilang entah ke mana. Mataku hanya memandang jendela yang masih terbuka lebar, buku tulis yang berceceran di lantai, dan beberapa pakaianku yang nampaknya sudah dipilah.
"Ali, tolong bantu bapak di sini!"
Di sekitar rumah, tidak lagi kulihat vas peninggalan Ibu berdiri di atas meja. Beberapa benda seperti karpet, taplak meja kotor, bahkan peralatan kecil di dalam laci juga telah pergi dari tempat awalnya. Diam-diam, aku mengintip Bapak yang tengah membereskan semua barang-barang yang hilang tadi. Semua dimuat dalam dua kardus yang berbeda.
"Ali! Cepat!" Dengan pertanyaan yang masih berenang di kepalaku, tidak pernah sebelumnya hal ini terjadi. "Bantu bereskan semuanya, masukkan ini semua ke kardus, jangan sampai ada yang terlewat."
Di antara barang-barang itu, mataku menatap pada sesuatu yang tidak asing untukku. Itu adalah tiga kaus pendek yang semula terlipat rapi di kamar. Kemudian, berdiri sebuah meja kecil tak jauh dari tempatku. Terakhir, buku-buku milikku tertumpuk rapi di atasnya, sekarang, aku tahu mengapa mereka berserakan di kamar.
"Meja itu tidak usah dimasukkan ke kardus, nanti biar dibawa saja," ucap Bapak sembari membereskan lembaran koran yang entah didapatnya dari mana. Sementara itu, aku harus mengucapkan salam perpisahan untuk barang-barangku, termasuk kipas tua yang selama ini menyejukkan tubuhku. Untung saja, buku-buku milikku tidak ikut ditumpuk ke dalam kardus.
"Ali, besok kamu tidak usah pergi ke sekolah itu lagi. Besok bantu Bapak saja antarkan semua barang ini." Aku merunduk, membayangkan pensil yang kubeli tidak dapat digunakan esok. Kemudian, aku tidak dapat bertanya mengenai kelas kepada siapapun. Tanganku hanya bisa membereskan barang itu dalam keheningan malam. Yang terdengar hanyalah suara gesekan sesama barang yang saling dipaksa bertumpukan. Lampu yang menerangi tepat di atas kepala kami cahayanya perlahan memudar. Dalam waktu beberapa hari, mungkin dia akan berakhir di tong sampah.
"Kenapa Bapak mengambil barang-barang Ali?" tanyaku, seharusnya kalimat itu tidak pernah kutanyakan.
"Ali, kita sudah tidak punya pilihan. Dengan ini, kita dapat bertahan hidup. Semua ini juga untukmu, bukan hanya untuk Bapak saja." Rasanya lebih baik jika harus memungut sampah sepanjang hari, dibanding harus kehilangan sesuatu yang lama sudah bersamaku.
"Apa kita juga harus menjual rumah selanjutnya?"
"Kau ini bicara apa? Katakan sesuatu yang baik saja, Ali!"
Malam itu aku berbaring di atas lantai. Beralaskan beberapa buku sebagai bantal agar kepalaku tidak sakit. Lagi-lagi, Bapak merasa kurang dengan barang-barang di rumah ini, ia merasa bahwa anaknya masih sanggup untuk bersingguhan dengan lantai dingin dalam waktu lama. Walaupun jendela sudah kututup rapat, tetap saja kulitku terasa dingin. Selama beberapa jam aku hanya berbaring dengan punggung yang mulai terasa nyeri. Suara jangkrik terus mengitari telingaku hingga membuatku muak untuk tidur. Di saat kondisi rumah telah sepi tanpa suara, kakiku melangkah masuk ke ruang belakang. Mungkin itu jadi kali terakhir aku melihat bajuku, meja, dan kasur yang sudah terikat rapi. Aku hanya menghabiskan malam dengan melamun sampai akhirnya dapat terlelap.
Saat pagi hari, aku harus membawa kardus berat itu ke tempat penjualan barang bekas. Begitu barang ditimbang, itu terakhir kalinya aku dapat melihat baju dan meja serta kasur. Benar-benar yang terakhir. Kami mendapatkan uang sebesar dua ratus ribu untuk barang-barang kami. Tapi, aku begitu sungkan untuk meminta uangnya sedikit, untuk buku tulisku.
Mungkinkah aku harus memungut sampah lagi untuk mendapatkan apa yang kumau. Meski hal itu membuat diriku semakin buruk di mata orang-orang. Meskipun tanganku harus kotor tiap kali aku melakukannya. Tapi apakah bayarannya sepadan untukku?
Saat kami sampai di rumah, seorang pria tengah menunggu kami dengan mobil pribadinya. Ia memakai kemeja dan jas rapi, kemudian ia juga menggunakan sepatu berbahan kulit yang terlihat baru dipoles. Pria itu menunggu di halaman ruamahku, dengan santainya ia menyalakan korek api dan mulai membakar rokoknya.
"Pak, siapa orang itu?" tanyaku, tapi Bapak tidak menjawab setelahnya. Mungkin aku terlalu banyak bertanya. Ketika itu, Bapak lebih memilih diam namun berjalan tegang menuju Pria ber jas rapi itu.
"Selamat pagi, Pak Darma. Sekarang sudah hari terakhir anda untuk membayar hutang. Saya harap Bapak bisa membayarnya sekarang." Pria itu lalu tersenyum tipis.
"Maaf, saya belum punya uang yang cukup untuk membayar." Kalimat itu sontak merubah raut wajah si Pria menjadi begitu serius. Ia kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Pak, anda sudah menunda bayarannya selama tiga bulan, dan sekarang anda menolak membayar. Saya sudah beri tenggat waktu yang lama untuk nominal hutang bapak. Apa sekarang Bapak mau mengulur waktu lagi?" nada Pria itu semakin lama semakin tinggi.
Aku hanya menatap mereka berdua dari kejauhan. Rasanya begitu kecewa saat menyadari bahwa hal ini benar terjadi. Benarkan kami juga harus menjual rumah untuk ini? Kemudian aku akan menjadi gelandangan yang setiap hari benar-benar bekerja untuk memungut sampah. Tentu kemungkinan semacam itu dapat terjadi dalam kehidupanku.
"Berikan saya waktu beberapa bulan lagi, saya akan lunasi hutangnya."
"Mau berapa lama lagi Bapak beralasan? Sudah berbulan-bulan, Bapak diminta untuk membayar hutang tujuh juta rupiah, tapi mengapa lama sekali untuk membayar? Mau berapa lama lagi pembayarannya ditunda?!" Pria itu semakin meninggikan nada bicaranya. Sementara Bapak masih membela dirinya dengan seribu satu alasan.
"Baik, Saya tidak bisa menunggu lama lagi, saya beri waktu satu bulan, Bapak serahkan saja dulu uangnya setengah," lanjut Pria itu. Kemudian, dua lembar uang kertas pecahan seratus ribu Bapak keluarkan dari sakunya. Tidak kusangka, uang hasil pengorbanan perabotan rumah kami lenyap begitu saja dalam waktu singkat.
Pria itu mengambil uangnya dengan emosi yang hampir meledak. Tanpa sepatah kata pun, ia pergi dengan membanting pintu mobilnya. Kemudian mengemudikan mobil itu dengan cepat, meninggalkan kami. Dapat kulihat wajah kecewa Bapak saat menyadari bahwa kami mungkin gagal bertahan hidup hari ini. Bagaimanapun juga, kami sangat kecewa pada diri kami sendiri.
Hari itu, aku bisa mendengar suara tangisan di dalam kamar. Tempat yang sekarang sudah tidak lagi terisi dengan perabotan, hanya sebuah ruang kosong yang hampa. Dalam bayanganku, kami akan dapat masalah yang lebih besar dari ini. Sesuatu yang sulit kami jelaskan, mungkin benar-benar nyata suatu hari nanti. Selama ini kami hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian, tidak pasti apakah aku bisa sekolah esok, apakah hari ini kami makan atau tidak, apakah Bapak punya uang yang cukup, apakah bulan depan aku bisa membeli buku, dan segala kemungkinan lain.
Tentang kemungkinan terburuk bahwa aku benar-benar memungut sampah setiap hari. Atau mungkin sudut sekolah yang tidak bisa kuhadiri lagi. Mungkin ini terakhir kalinya aku membeli pensil yang entah kapan akan kugunakan lagi. Tidak ada yang tahu tentang ini, hanya dinding kotor dan dingin yang mengetahui nasib kami sejauh ini.
Demi suatu kehidupan yang layak, kami harus bersusah payah di sini. Bagaimana keadaan selalu memaksa kami. Aku tidak punya pilihan untuk memilih apa yang selama ini kuinginkan, sebuah kehidupan yang layak. Pikiranku mulai berangan seolah hal baik akan terjadi, sementara tangisan kecewa masih terdengar dari balik dinding. Kali ini, aku hanya terbaring menatap langit-langit kamar, mengingat semua hal sia-sia yang telah kami lakukan.
Lalu, aku mulai bertanya tentang 'keadilan'. Dulu aku percaya bahwasannya setiap manusia adalah sama, maka kukatakan itu adalah adil. Namun, kenyataannya akan jauh berbeda. Bagaimana ketika seseorang harus menjalani kehidupan dan kematian, setelah itu, dia akan mendapatkan keadilan yang sebenarnya. Mungkin memang tidak adil untukku, tapi mungkin tidak untuk orang lain.
Malam itu, kuhabisi saja waktu dengan bayangan buruk yang akan terjadi. Mungkin sebentar lagi aku tidak akan merasakan ruangan ini lagi. Sambil berbaring beralaskan buku-buku lama, kini aku tidak mempermasalahkan udara panas di dalam kamar, karena satu-satunya kipas yang kumiliki telah berakhir sia-sia. Perlahan, mataku terpejam dengan sendirinya.
Saat kepalaku terasa sakit akibat tidur beralaskan buku, saat itu juga pandanganku mulai terasa buram. Lama kelamaan, aku seperti vertigo hingga duduk diam tanpa melakukan apapun. Benda-benda di sekitarku seperti menggandakan diri mereka. Saat itu kusadari satu hal, toples kecil milikku telah pergi dari tempatnya. Bayang-bayang yang menghantui mataku kemudian hilang dalam beberapa saat. Pandanganku kembali jernih saat mengetahui hilangnya toples itu. Bukan apa-apa, toples itu berisi puluhan koin yang menjadi tabunganku saat ini.
"Pak, apa Bapak lihat toples Ali?" tanyaku sembari memegangi kepala. Bapak hanya bisa diam sambil menyuguhkan dua piring mi instan.
"Ali, sekarang kita makan dulu, dari kemarin kamu belum makan." balas Bapak. Namun pertanyaanku sama sekali belum terjawab.
Pada awalnya, aku melahap mi tersebut dengan nikmat. Sebenarnya aku sering memakan ini, tapi karena sudah lama tidak menyentuh makanan, rasanya akan jauh lebih memuaskan. Berkat dua porsi mi instan, kupikir bahwa kami telah selamat hari ini. Namun, rasanya semuanya berakhir ketika aku kembali menanyakan hal yang sama. "Pak, Bapak tahu tidak ke mana toples kecil di kamar Ali?"
Awalnya, Bapak hanya diam sambil mengunyah mi di dalam mulutnya. "Ali, Bapak sudah kehabisan uang hari ini, jadi, tidak apa-apa kan kalau uangnya dipakai?" Pertanyaan itu seolah datang menusuk tubuhku. Mi ini sudah tidak lagi terasa nikmat. Perasaan berdosa mulai menyelimuti diriku saat uang yang susah payah kukumpulkan akan berakhir di dalam perut kami berdua.
Lagi-lagi, raut wajahku berubah begitu cepat, menampilkan kekecewaan dan sebuah ekspresi tanpa harapan. Akhir-akhir ini, semua selalu berakhir sia-sia. Bahkan dari hal terkecil yang kumiliki. "Kenapa Bapak tidak bilang Ali?" tanyaku kecewa. Namun tidak terdengar jawaban. Pada akhirnya, semua yang kumiliki di rumah ini akan berakhir dalam waktu cepat.
Pagi itu, aku meninggalkan ruang makan lebih cepat dari biasanya. Dengan sebuah buku tulis yang masih tersisa dua lembar, aku pergi meninggalkan rumah, menyusuri jalanan dengan mata yang menatap ke bawah. Sementara sinar mentari tidak lagi terik seperti biasanya.
Dalam perjalanan, kulihat kembali sebuah poster yang tertempel di toko yang sama. Poster promosi sebuah buku yang begitu kuimpikan, namun sekarang, harapan untuk memilikinya seperti sirna begitu saja. Untuk terakhir kalinya aku mendekat ke arah jendela toko, menatap buku itu untuk yang terakhir. "Bahkan sekarang aku tidak punya uang untuk poster di jendela ini, apalagi untuk buku di dalamnya." Seorang pegawai toko keluar dan memberikanku sebuah tatapan sinis. Aku tahu sudah saatnya aku meninggalkan tempat itu.
***
SAAT ini, apa yang menjadi ketakutanku bukan sekadar bayangan lagi. Aku kini membawa sebuah karung besar di punggungku. Berjalan mendatangi satu demi satu rumah, lalu menanyakan terkait barang bekas di rumah mereka. Sejak dua minggu lalu, aku sudah tidak lagi menginjakkan kaki di sekolah itu, buku-buku tulisku telah berakhir sebagai barang rongsok di tempat Bu Tyas. Sebagai gantinya, kini tanganku harus memungut sampah-sampah di jalan, bekerja kotor agar kami bisa hidup. Sedangkan di rumah hanya tersisa beberapa perabotan saja.
Jarang aku bisa kembali ke rumah dalam keadaan petang. Tidak ada yang menuntutku, tapi paling tidak aku tidak pulang sampai karung ini terisi penuh. Pagi hingga malam punggungku sakit memikul semua barang-barang ini. Tangan mulai dipenuhi debu sepanjang harinya. Telapak tanganku terasa sangat kasar bahkan saat bersentuhan dengan air. Rambutku semakin berantakan dan bau matahari.
Setiap malam, aku terlelap satu jam lebih cepat dari waktu sebelum masa aku harus bekerja. Tidak ada lagi catatan yang dapat kubaca. Tidak ada lagi pena yang dapat kubeli. Semua telah pergi dan akan berakhir di tempat pembuangan. Lama kelamaan, aku mulai merindukan terik matahari pada sudut sekolah, aku tidak lagi mengintip dari balik jendela, jari-jemariku tidak lagi kugunakan untuk menulis. Tidak ada pensil yang susah payah kubeli, tidak ada buku, banyak hal yang hilang dari hidupku. Kini, aku kembali mencari toples bekas untuk sebuah buku yang masih kuimpikan.
Setiap harinya, kulitku terbakar oleh sinar mentari. Dulu aku hanya duduk tanpa alas di sekolah, namun, beberapa batang pohon masih melindungiku dari teriknya, lebih baik begitu. Lalu, aku sering menunjukkan tatapan iri pada anak-anak seusiaku, bagaimana dari balik jendela toko aku melihat mereka menyantap makanan, dan uangku tidak cukup untuk melakukan hal yang sama.
Di saat tangan-tanganku mulai penuh akan keputusasaan, aku tidak tahu lagi kapan keadaan ini akan segera berubah. Bapak sudah jarang pulang ke rumah bahkan dalam beberapa minggu terakhir. Tidak ada yang bisa kuandalkan selain diriku sendiri. Ia bilang bahwa ia akan kembali dengan uang yang lebih banyak, sehingga aku tidak lagi menjalani pekerjaan kotor seperti ini. Tapi, Bapak sangat lama kembali. Semakin hari berat badanku semakin menurun, sepertinya. Ketika malam hari terasa seperti menyelesaikan satu level permainan, lalu esok harus kembali bermain dengan tantangan yang lebih buruk.
Pagi-pagi sekali saat aku harus mengantarkan barang ke rumah Bu Tyas, bahkan saat itu gerbang depan rumahnya hampir belum dibuka. "Ali, hari ini kamu mau menjual barang apa?" tanya Bu Tyas. Kemudian kukeluarkan sebuah jam tangan lama dan satu buku lama berjumlah dua ratus sepuluh halaman. Aku baru membaca lima puluh halaman pertamanya sebelum pada akhirnya kujual. "Dari hasil timbangan dan jenis barangnya, totalnya sekitar lima puluh ribu."
Itu adalah bayaran terbesar yang pernah kudapatkan dalam satu hari. Hanya dibutuhkan lima belas ribu lagi untuk bisa mendapatkan buku Antoine de Saint-Exupery. Aku membuat keputusan menyiksa dengan hanya menggunakan sepuluh ribu untuk dua hari, sementara sisanya kumasukkan dalam toples bekas.
Selama dua hari, yang kurasakan hanyalah perutku yang terus berbunyi akibat lapar. Mau bagaimana pun, aku telah memilih. Walaupun aku jadi harus berpuasa seperti ini, tapi aku berani membuat keputusan layaknya orang dewasa. Disaat tubuhku meringkuk di dalam kamar karena sakit perut, terdengar ketukan kecil dari pintu rumah.
"Ali, Bapak pulang." Rasa sakit ini seolah lenyap dalam sekejap. Suara yang terdengar tidak asing, sudah lama tidak bergema di telingaku, kini suara itu datang kembali menyapa diriku yang hampir tenggelam dalam malam-malam ini. Namun, begitu pintu rumah kubuka, yang nampak hanyalah wajah lelah dan kecewa yang terpampang pada raut wajahnya. Bapak berdiri dengan baju lusuh dan tatapan menunduk, sementara kedua matanya seolah tidak ingin menatap wajahku. Hanya satu kata yang terucap, "Maaf." Kemudian suasana berubah sunyi, kami tidak saling bertanya, justru kami menyendiri di dalam kamar masing-masing.
Bukan hal mudah untuk melupakan kejadian itu, aku tahu bahwa satu kegagalan telah terjadi. Lagi-lagi kami gagal merubah nasib hidup kami. Apakah uang dalam toples itu akan kembali digunakan demi bertahan hidup esok? Maka itu akan menghancurkan impianku dua kali.
Malam itu, aku tidak bisa tidur karena wajahku dipenuhi air mata. Aku tahu jalanan di luar sudah gelap, mungkin ada banyak hantu berkeliaran di luar sana. Tapi, aku tidak peduli bahkan jika mereka menampilkan wujudnya di hadapanku. Ketika rumah ini sudah hening tanpa suara, aku pergi ke luar untuk melakukan pekerjaan di malam hari. Kali ini, aku hanya dibekali dengan dua kantung kresek kotor. Tidak mungkin dapat berjalan dari rumah ke rumah dan mengetuk pintu mereka, jadi, aku hanya menyusuri jalanan dengan beberapa lampu jalan yang cahayanya hampir mati.
Jalanan yang semula kotor dengan sampah, mendadak menjadi berasih malam ini. Entah karena mataku yang sudah terlalu lelah untuk melihat, atau memang benar kenyataannya begitu. Tidak ada yang bisa kudapatkan lagi, demikian aku kembali dengan kantung kresek kosong. Malam itu aku hanya berjalan di antara jalan-jalan sepi.
Aku dan Bapak hampir tidak bicara walau kami telah terpisah sekian lama. Ruang makan kini berubah menjadi bagian paling kosong. Rumah kami semakin sepi tanpa adanya dialog antara kami berdua. Kami sama-sama meninggalkan rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Rasanya sudah terlalu lelah untuk kembali memulai pekerjaan. Hari itu, aku seolah melakukan pelanggaran dalam hidupku dengan pergi ke sekolah. Sudah sangat lama tidak kulihat pemandangan ini. Bahkan aku hampir lupa cara memanjat pagar. Aku duduk pada tempat biasa, kulitku masih terbakar sinar matahari, jendela tempatku mengintip masih sama, tapi ada satu hal yang berbeda. Pohon-pohon di depanku kini sudah pergi, daunnya berserakan di mana-mana. Batang pohon telah gugur menjadi potongan-potongan kecil.
Pagi itu, aku hanya duduk mendengarkan dari luar. Tanpa buku catatan, tanpa sebuah pensil. Hanya duduk bersandar pada sebuah dinding, sambil terus berusaha mencerna penjelasan di dalam. Beberapa saat aku berpikir ini tidak akan berguna, tapi sudah kukatakan lebih baik seperti ini.
"Selanjutnya apa, Pak. Kira-kira, taman seperti apa yang mau kita bangun di sini?" Ketika suara itu terdengar di dalam telingaku, aku tidak punya tempat untuk bersembunyi lagi. Tidak peduli sedekat apa orang-orang itu akan datang. Segera aku berlari menuju pagar, saat itu, kulemparkan kedua sandalku terlebih dahulu, aku benar-benar takut kalau akan tersangkut.
"Pak! Lihat itu ada anak yang memanjat! Saya rasa dia mau buat rusuh di sini." Pada akhirnya, keberadaanku yang setelah sekian lama aman kini telah berhasil ditemukan. Dua orang pria yang memergokiku segera berlari seperti ingin menangkapku. Gerakanku justru semakin melambat akibat rasa takut. Tidak peduli walau beberapa besi terasa seperti menyayat mata kakiku, aku tetap berusaha melompat dari sana.
"Pak! Anak itu kabur!"
Satu lompatan terasa sangat menyiksa, tubuhku hampir jatuh tersungkur karena lecet pada mata kaki. Walaupun lariku menjadi seperti pincang karena itu, aku tetap membawa kakiku bergerak secepat mungkin. Orang-orang di jalan mulai memandangiku dengan heran, mereka tahu bahwa aku sudah sering sekali berlari seperti ini. Untungnya, dua pria tadi tidak mengejarku sampai ke luar. Saat itu kusadari bahwa pergelangan kakiku mulai timbul benjolan seperti bengkak.
Aku menepi pada sebuah rumah kosong, di halaman belakangnya ternyata terdapat keran yang masih mengaliri air. Walaupun sensasinya begitu nyeri, aku harus tetap kembali ke rumah untuk kembali melakukan pekerjaanku. Air yang keluar tidak terlalu melimpah, namun itu cukup mengobati sedikit luka.
Beberapa menit setelahnya, aku seperti menduduki sesuatu yang mengganjal di bawah. Saat aku mencoba menggeser tempatku, saat itu kutemukan sebuah pecahan gelas yang tidak terlalu tajam. Aku membawa beberapa pecahan gelas itu dengan langkah yang beberapa kali terhenti. Dari tempat itu, menuju ke kediaman Bu Tyas tidak berjarak begitu jauh, namun tetap terasa lama dengan kondisiku saat ini.
Dengan luka yang masih terasa perih, kucoba menekan bel pada pagar rumahnya. Lokasi tempat pembuangan tempat Bu Tyas biasa bekerja hanya buka beberapa hari dalam satu minggu, kini aku hanya bisa menyerahkannya di rumah langsung. Bel berbunyi sebanyak dua kali, beberapa menit kemudian, anak Bu Tyas membuka pagar itu. Ia melihat kondisiku yang miris, dengan luka yang semakin parah di mata kaki. Cepat-cepat anak itu memanggil ibunya.
***
DALAM kondisi kaki yang masih sakit, dan jalanku yang masih belum lurus, aku bolak-balik dari rumah menuju toko buku. Hari itu, telah terkumpul sekitar enam puluh lima ribu pada toples, termasuk uang hasil menjual pecahan gelas tadi. Pada akhirnya, aku tidak hanya melihat poster yang terpajang di luar toko, tapi dapat masuk dan membeli langsung buku itu.
"Maaf, kami tidak punya banyak stok buku Le Petit Prince, tapi kami masih ada satu buku dengan kondisi yang tidak terlalu bagus." Pegawai itu mengeluarkan buku yang memang menjadi tujuanku. Namun, buku itu memang terlihat sudah lama, sudah ada beberapa bercak kuning pada bagian samping kertasnya.
"Kalau kamu mau, saya bisa turunkan harga menjadi lima puluh lima ribu saja, bagaimana?" Aku hanya tersenyum mendengar itu.
"Tidak apa-apa, saya tetap beli." Pagi itu, aku pulang dengan membawa apa yang selama ini telah diusahakan. Untuk sekian lama aku bisa merasakan bahwa keadilan tengah berpihak padaku. Meski begitu, Bapak tidak boleh sampai tahu mengenai ini, atau buku ini juga berakhir di tempat pembuangan.
Aku pulang dengan mendekap sebuah lembaran kertas bersampul tipis yang berhasil kumiliki. Aroma kertas baru itu menelisik hidungku, seperti menyapa pemilik barunya. Kakiku tidak lagi terasa sakit akibat luka, perutku tidak lagi terasa lapar, dan kini aku seperti baru saja mendapatkan sebuah kemenangan.
Tentu saja, kami tidak akan merasa kenyang dengan buku baru ini, tidak ada alasan untuk aku berhenti bekerja karena buku baru. Esok masing-masing dari kami akan kembali meninggalkan rumah, kemudian pergi dengan pekerjaan kami masing-masing. Esok tangan-tanganku akan kembali kotor, lalu kembali dengan kaus yang lusuh. Tapi itu bukanlah sesuatu yang harus dikeluhkan, sebab aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan.
Walaupun hari itu kami hanya makan telur rebus, tapi aku tetap bangga atas apa yang terjadi padaku. Esok hari, atau bahkan selamanya, mungkin aku tidak bisa belajar lagi di sekolah. Mereka mungkin akan semakin memperketat penjagaan agar orang sepertiku tidak datang lagi. Tapi tak apa, aku tetap tahu tentang bagaimana rupa perkalian, aku dapat menyelesaikannya. Aku juga tahu beberapa kosakata bahasa inggris seperti; car, happy, atau sad yang berarti sedih. Pelajaran sekolah juga membuatku tahu tentang cara bersikap kepada teman, walau nyatanya tidak ada yang berteman denganku.
Di balik pintu kamar, aku hanyut dalam dunia baru. Tidak ada yang tahu bahwa kesendirianku justru membuatku lebih bahagia. Buku adalah suatu kemewahan bagi orang-orang sepertiku, tapi bukan berarti aku tidak pernah mendapatkannya. Jika memang kami tidak bisa keluar dari jeratan ekonomi, setidaknya aku dapat menunjukkan bahwa orang seperti kami bisa mendapatkan apa yang kami inginkan, jika kami berusaha.
Hingga larut malam, tidak ada yang mengetuk pintu kamarku. Tidak ada yang mencoba mengganggu ketenangan ini. Diliputi suara jangkrik yang muncul sesaat, jendela yang terbuka menampilkan langit malam, serta dedaunan yang geraknya dapat kurasakan. Setelah selesai membaca, aku menandai halamannya dengan sebuah robekan kertas koran dari beberapa minggu lalu.
"… Membaca Adalah Kunci Keluar dari Kemiskinan." Aku menatap robekan kertas itu dengan ironi. Di bawah lampu kamar yang mulai redup, aku hanya bisa merenungi kalimat itu. Aku sedang memegang 'kunci' dari pesan yang dimaksud di dalam koran, namun rumah ini seolah sudah dikunci dari luar karena ketidakberdayaan ekonomi kami.
Tangerang Selatan, 12 Juli 2026