Puisi ini menggunakan biola sebagai metafora utama bagi seseorang yang terbiasa menerjemahkan kesedihan orang lain melalui suara yang dihasilkannya. Namun, tanpa disadari, setiap nada yang lahir justru adalah tangisannya sendiri. Melalui simbol biola, puisi ini mengajak pembaca merenungkan bagaimana musik yang dinikmati banyak telinga terkadang menyimpan banyak duka di balik setiap nadanya.
Irama Luka yang Dirayakan
Karya: Junita Putri Safarah
Biola sengaja dilahirkan
Di bawah dagu seseorang.
Suaranya tumbuh
Pelan-pelan dari gesekan
Di panggung kesepian.
Ia digesek perlahan,
Memecah kesunyian.
Lalu,
Ia digesek tergesa,
Seperti mulai takut didengar.
Tiap kali digesek,
Senarnya bergetar—
Melahirkan gema
Yang diubahnya menjadi nada,
Sisanya dibuat tertinggal
Di tubuhnya.
Ia menjadi penerjemah
Tangisan raga lain,
Tanpa sadar, nada yang keluar
Justru tangisnya sendiri.
Dan setiap telinga,
Menikmatinya sebagai
Musik yang eksotis—
Merayakan tangisan-tangisan
Yang justru disemaikan
Bagai pesta perayaan.