"Jejak Aksara di Dunia Tanpa Batas" merupakan cerpen bergenre drama inspiratif yang mengisahkan pergulatan batin seorang penulis muda ketika dihadapkan pada godaan menggunakan kecerdasan buatan (AI) demi meraih kemenangan dalam sebuah lomba. Di tengah kelelahan dan keraguan, sebuah telepon misterius mengubah cara pandangnya tentang makna kejujuran, kreativitas, dan nilai sebuah karya. Cerita ini mengajak pembaca untuk percaya bahwa karya yang lahir dari ketulusan akan meninggalkan jejak yang mampu menginspirasi banyak orang.
Jejak Aksara di Dunia Tanpa Batas
Bulir-bulir air berjatuhan mengetuk jendela meninggalkan bekas rintihan di kaca, angkasa di atas sana tampak kelabu. Udara dingin di balik bangunan rumah justru sangat kontras dengan suasana di dalam kamar yang terasa panas. Iris hitam pekat ku menerawang jauh dibalik jendela kaca kamar yang berembun. Berkali-kali aku menghela nafas kasar, seperti ingin melepaskan beban berat yang menggantung di pikiran. Aku duduk di atas kursi kayu, jari-jemari ku memainkan pena di tangan dengan lihai, kakiku tidak bisa diam bergerak ke sana kemari merasa tak tenang jika berhenti. Buku kosong yang terbuka di atas mejaku seolah mengejek diriku yang kehilangan inspirasi untuk meninggalkan jejak aksara di atas kertasnya.
Hingga garis cakrawala di atas sana menampakkan afeksinya, aku masih belum juga berhasil menemukan satu pun kata yang ada. Berdecak lelah, keringat menetes lancar di permukaan kulitku, menunjukkan seberapa aku berjuang mendapatkan inspirasi dari sebelum matahari terbit hingga senja menyapa. Aku menyerah, membuang pulpen ke sembarangan arah memilih bangkit dari duduk yang menghabiskan banyak waktu tanpa hasil itu.
“Kenapa aku stuck di situ-situ saja?” gumamku, suara lirih itu menguar diudara dan hanya mampu didengar oleh diriku sendiri. Perasaan putus asa mulai merayap di hatiku, merasa sebagai orang yang gagal rasanya sangat menyedihkan.
Aku tidak lagi memaksakan diri ini, memilih menyerah dalam dekapan selimut hangat yang entah kenapa malah terasa menyesakkan. Malam itu, semuanya terasa hampa seperti malam-malam lainnya yang sudah aku lewati sebelumnya. Tubuhku berguling-guling diatas kasur, merasa tidak tenang jika aku kalah lagi dalam lomba kali ini, pasti aku akan mengecewakan orang tuaku lagi. Pikiran-pikiran menakutkan itu menyerangku, membuat diriku yang berusaha untuk tertidur menjadi semakin tidak tenang.
Aku akhirnya menghela nafas tajam, tidak lagi peduli dengan kejujuran. Aku bangkit kembali dari kasur ku dan menuju ke meja belajar, mengambil laptop diatas sana dan segera menyalakannya. Dengan cepat aku membuka sebuah aplikasi AI (Artificial Intelligence), ia adalah ibarat sistem cerdas yang selalu siap menemani aktivitas manusia. Aku memilih menyerah dalam berpikir, sekarang semua hal bisa selesai dengan cepat hanya dengan memasukkan kata kunci. Awalnya aku termasuk orang-orang yang tidak menyukai segala bentuk jalan pintas, aku sangat menghargai karya-karya orisinal. Namun kali ini aku menyerah, aku lelah dengan diriku sendiri yang selalu gagal dalam lomba. Aku adalah pecundang yang masih terus memaksakan diri mengikuti berbagai lomba menulis namun selalu kalah. Jariku menekan tombol enter setelah mengetikkan kata kunci, hanya membutuhkan beberapa detik hingga sederet tulisan dengan kata-kata yang indah terangkai dilayar. Mataku berbinar saat melihat jawaban yang dirangkai secara apik oleh AI itu.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, aku segera menyalin semua jawaban yang dibuat oleh AI ke buku tulisku. Aku tidak peduli lagi dengan yang namanya kejujuran aku yakin banyak orang di luaran sana yang menggunakan AI untuk melakukan hal yang serupa. Tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam, akhirnya naskah yang aku tulis selesai. Semua orang bisa melakukan apapun dan menjadi apapun di dunia tanpa batas ini. Aku mematikan laptopku dan menghampiri kasur yang sudah menunggu. Akhirnya aku bisa beristirahat malam ini, aku mencoba melepaskan rasa lelah di tubuhku.
Meski terpejam, tapi otakku tidak benar-benar bisa tertidur dia berkelana kemana-mana. Sudah lama sekali aku memiliki insomnia, dan itu semakin parah saat aku memutuskan untuk mengikuti lomba menulis. Aku memang suka menulis, namun akhir-akhir ini rasanya gairah menulis dalam diriku menurun drastis seperti mengembun dan hilang entah kemana.
Drrtt drrtt!
Aku mendengar suara ponselku di atas nakas yang bergetar memecah keheningan kamar yang mencengkeram. Aku mengerutkan dahi saat sebuah nomor tidak dikenal tertera di layar ponselku, aku memilih mengabaikan saja mungkin itu panggilan iseng atau parahnya malah ajakan pinjol. Memang sudah banyak sekali telepon seperti itu, di era yang serba digital ini semua terasa seperti tanpa privasi yang safety. Nomor pribadi bisa terkena telepon penipuan, percakapan pribadi bisa tersebar, bahkan foto selfie bisa direkayasa untuk mengiklankan situs ilegal. Memang jika kita tidak tau cara menggunakan benda digital di era sekarang dengan bijak dan aman, kita akan mudah diperdaya oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab, maka melek digital itu penting sekali.
Drrttt drrtt!
Tidak lama ponselku bergetar lagi, aku meraih benda pipih itu kemudian mengerutkan dahi saat lagi-lagi yang menghubungi ku adalah nomor yang sama. Kali ini aku memilih untuk mengangkatnya, siapa tau kalau itu adalah penipuan maka aku bisa menjadikannya pelampiasan, memaki-makinya untuk menyalurkan rasa frustasi ku.
“Hallo?” sapaku terlebih dahulu. Namun tidak ada jawaban dari seberang sana, aku melirik kembali pada layar ponselku yang ternyata masih menyambungkan sambungan telepon kami. “Siapa ya?” tanyaku, masih mencoba bersabar.
Satu detik, dua detik, tiga detik hingga lima detik kemudian berlalu dalam keheningan yang panjang.
“Kalau hanya panggilan iseng saya matikan telepon nya.” Kali ini aku sudah kesal, tidak ada jawaban apapun dari seberang telepon sana. Saat aku hendak mengakhiri panggilan itu, “Hallo…” barulah terdengar jawaban dari seseorang di balik telepon sana.
Suaranya terdengar sedikit serak, namun dengan intonasi yang lebih rendah dapat aku simpulkan bahwa seseorang di balik telepon sana adalah seorang perempuan berasal dari suaranya yang terkesan halus, sedikit melengking khas suara perempuan. “Siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?”
“Hiks… kenapa kamu mau angkat telepon dari saya?” aku mengerutkan dahi bingung ketika seseorang di seberang sana justru menangis dan balik bertanya padaku.
Aku mulai merasa aneh, apa yang terjadi? alih-alih merasa takut, aku justru merasa khawatir dengan seseorang itu, “Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?”
“Saya lelah, rasanya berat sekali. Ayah saya pergi dari rumah demi seorang wanita lain meninggalkan adik saya yang sakit keras dan kemudian sekarang saya di DO dari kampus gara-gara balas memukul seseorang yang membully saya. Apa dunia sebercanda ini huh?”
Aku terdiam, mendengarkan perempuan di seberang sana yang menangis tersedu-sedu menceritakan beban berat yang tengah dia alami, “k-kenapa Tuhan juga mengambil adikku? Hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki, sekarang aku sendirian di dunia yang keras ini…hiks!” suara tercekat akibat tangisannya yang pilu berhasil mengoyak hatiku.
Ini pertama kalinya aku mendengar sebuah masalah yang selama ini tak pernah terlintas dipikiran remaja sepertiku. Fokusku selama ini hanyalah belajar, membuat orang tuaku bangga, dan memperoleh kampus yang bagus. Aku tidak tau ada sisi kenyataan dalam hidup yang begitu menyedihkan.
Berat sekali beban yang tengah dialami perempuan ini, bibirku sedikit terbuka, namun tidak ada kata-kata yang mampu keluar dari sana. “Haha apa yang harus aku lakukan? Untuk apa lagi aku bertahan hiks…” terdengar dia tertawa getir diiringi isakan di ujung kata-katanya.
“Nona, anda kuat sekali telah bertahan sejauh ini. Anda telah mengambil langkah besar yang begitu berani, membela diri anda sendiri ketika tidak ada yang bisa membela anda. Jujur saja saya merasa kagum dengan itu. Saya mungkin tidak bisa memberikan apapun untuk anda tapi percayalah jika anda membutuhkan seseorang untuk menjadi pendengar yang baik maka saya ada disini.” Aku menelan saliva terlebih dahulu, memberikan jeda dalam kalimat ku.
“Mungkin sekarang dunia anda rasanya seperti hancur berkeping-keping tak bersisa suatu apapun. Tapi nona, sebagai sesama manusia yang memiliki hati nurani saya ada disini anda tidak sendirian.” Aku tidak berpengalaman dalam menenangkan seseorang, aku berucap demikian juga jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku peduli.
“Terimakasih kamu sudah mau mengangkat telepon ku,” terdengar ucapan tulus berasal dari perempuan itu, suaranya lebih jernih tidak seserak tadi.
“Boleh kita berteman?” tanyaku, mungkin hanya itu yang bisa aku tawarkan untuknya. Dan ternyata niat baik ku itu disambut baik olehnya, “Tentu saja, namaku Rella.” Ia memperkenalkan dirinya.
“Hai Rella, namaku Sastra.”
“Sastra, terimakasih sudah mendengarkanku malam ini kamu berhasil menyelamatkanku yang hampir menyerah dalam hidup. Kata-katamu yang sederhana namun jujur, berhasil menyadarkanku jika masih ada seseorang di dunia ini yang benar-benar baik.” Aku tertampar mendengar ucapan Rella di seberang sana. Ternyata aku memang terlalu mudah menyerah, bahkan tidak seharusnya aku berbohong pada diri sendiri, belum berusaha keras saja aku sudah merasa lelah.
“Rella, jika kamu ingin melanjutkan akhir yang sudah kamu susun di kepalamu sekarang, aku tidak akan mencegahmu. Aku akan menjadi saksi akhir hidupmu saat ini, namun jika kamu memutuskan untuk bertahan maka aku juga akan menemani kamu melangkah kembali perlahan-lahan. Kamu tidak lagi sendirian, kita sekarang adalah teman.” Kini hatiku terasa lebih ringan setelah mengucapkannya.
“Aku telah memilih, Sastra.” Jawabnya, yang aku angguki. Mungkin dia tidak bisa melihat respons ku namun aku yakin dia tahu aku sedang mendengarkan. Akhirnya telepon itu pun terputus. Aku tidak menyangka akan menjadi saksi bagi seseorang yang hampir menyerah dalam hidup, aku diam-diam bersyukur telah mengangkat panggilan nyasar itu. Aku menyimpan kontak yang sebelumnya menjadi nomor tidak dikenali, kini menamainya dengan nama sang empunya nomor.
Aku benar-benar tidak tau apa yang akan Rella pilih, dia hanyalah seorang manusia yang sedang membutuhkan pendengar dari manusia lain yang mengerti dia bukan malah menghakiminya. Dia sedang kehilangan arah, yang dia butuhkan adalah genggaman tangan dari seseorang yang benar-benar menyambutnya dalam pelukan ketika dia tidak memiliki itu, bukan malah mendorongnya semakin jauh untuk kehilangan diri sendiri. Namun dari percakapan singkat itu, akhirnya aku menemukan ide untuk menulis ceritaku. Tentang sebuah kejujuran, harapan, rasa takut dan kehilangan. Aku langsung bangkit dari kasur, menuju ke meja belajar yang terdapat buku yang sempat aku jamah di atas sana.
Krek!
Suara nyaring kertas yang disobek menghantarkan perasaan bebas dalam hatiku. Dengan cepat, tanpa ragu, aku merobek bagian dimana hasil berpikir AI itu sempat aku tulis. Aku memilih lembaran baru, membiarkan bolpoin di genggaman jemariku menari-nari di atas buku dengan lancar, menuangkan semua untaian kata di dalam otak yang terhubung dengan perasaan. Sesuatu yang lebih berani, lebih jujur dituangkan diatas lembar sana.
Aku sadar satu hal malam itu, kejujuran adalah hal yang utama dan menjadi diri sendiri adalah harga diri yang harus dijaga. Aku tidak akan membiarkan diriku sendiri menjadi budak dari kemalasan berpikir, tidak apa-apa sempat merasa lelah dan gagal namun aku masih bisa berusaha. Aku memiliki kontrol penuh dalam diriku sendiri, untuk memutuskan curang dan melakukan segala cara untuk menang, atau percaya dengan diri sendiri dan mencoba menjadi manusia berguna yang lebih baik dari sekarang. Aku tidak lagi mengharapkan pada kemenangan, aku memilih membuat sebuah e-book dari hasil karya tulis ku tadi. Memilih mempublikasikannya ke beberapa platform digital yang bisa diakses gratis oleh banyak orang.
***
Hari demi hari berlalu dengan cepat, aku tidak lagi mendapatkan telepon dari Rella, entah bagaimana keadaannya sekarang. Aku pernah mencoba untuk menghubunginya, namun nomor itu tampaknya sudah tidak aktif lagi. Sebentar lagi adalah pengumuman pemenang dari lomba menulis tingkat nasional yang aku ikuti. Aku tidak berharap apa-apa, yang aku tahu aku telah menemukan hal yang lebih penting dari sekedar menulis, aku menemukan diriku sendiri dibalik aksara di dunia tanpa batas dalam kejujuran yang paling mendalam. Dan berharap menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang.
Aku mendudukkan diri di kursi yang telah di siapkan pada acara itu, seperti acara-acara pada umumnya yang diawali pembukaan, sambutan dan hingga ke penghujung acara yaitu pengumuman juara lomba menulis. Meski begitu aku tetap gugup, jantungku berdetak tidak karuan saat pembawa acara diatas panggung sana mulai membacakan kategori lomba.
“Juara ketiga lomba menulis nasional adalah…” Aku membisikkan sebuah doa dalam diam yang terasa menegangkan. Memohon kepada Tuhan jika berkenan agar sekali ini saja, aku di izinkan menjadi pemenang. Meski aku sudah memantapkan hati untuk ikhlas, tapi tidak bisa dipungkiri rasa penasaran juga mendominasi.
“Niko Raditya!” aku langsung tersentak saat bukan namaku yang disebutkan.
Meski kecewa aku masih bisa tersenyum dan ikut memberikan apresiasi untuk si juara, aku berpikir mungkin saja aku masih bisa mendapatkan juara tiga? Namun ternyata itu bukan aku. Hingga juara dua disebutkan juga masih sama, bukan namaku yang dipanggil oleh pembawa acara di atas sana. Aku telah memantapkan hatiku untuk bersiap mengikhlaskan, tidak mungkin jika aku yang menjadi juara pertama, meski dalam sudut hatiku aku berharap namaku lah yang akan disebutkan. Jikalau aku kalah pun, tidak masalah aku tetap mempublikasikan ceritaku dalam e-book yang tetap bisa dibaca oleh banyak orang.
“Dan inilah saat yang ditunggu-tunggu. Juara pertama lomba menulis tingkat nasional dimenangkan oleh…” dunia di sekitarku terasa mengecil saat iris mataku hanya terfokus pada pembawa acara diatas sana. Jantungku seolah memberontak ingin keluar dari tempatnya, ikut menggigil merasakan ketegangan yang mencengkeram jiwa.
“Selamat kepada Aksara!” telingaku berdengung panjang mendengar suara pembawa acara yang menggema di telinga.
Kedua mataku terbelalak kaget, tubuhku membeku seperti patung es yang kaku, jantungku sudah berdetak tidak karuan saat mendengar namaku dipanggil diatas panggung sana. Aku menang? Aku benar-benar menjadi pemenang?, dan karyaku akan dibukukan, diam-diam aku tersenyum bangga pada diriku sendiri. Aku harap karyaku akan sampai pada Rella, karena dari dialah aku terinspirasi membuat cerita ini.
Aku berdiri, berjalan ke atas panggung dengan sedikit gemetar saking bahagianya. Saat semuanya terasa mendebarkan, namun isi kepalaku terpusat kepada satu orang yang bahkan wujudnya saja belum pernah aku lihat secara langsung. Dia Rella, perempuan yang tengah malam menelepon dan menangis pilu karena beban hidup yang begitu besar ia tanggung sendirian.
Setelah semua acara selesai, aku segera pulang ke rumah, tujuanku hanya satu yaitu ke kamarku dan mendapatkan gadgetku. Saat menemukan apa yang aku cari, aku langsung menyalakan benda pipih itu, dan mencari kontak bernama Rella disana. Setelah menemukannya aku membuka obrolan chat yang hanya menampilkan riwayat telepon tanpa percakapan yang sudah terbengkalai lama disana.
“Hai Rella, ada kabar gembira berasal dariku. Hari ini aku memenangkan lomba menulis, dan kamu sebagai objek dalam ceritanya. Apapun yang kamu pilih malam itu, aku harap kamu tidak lagi menyesalinya.”
Jariku berhasil menekan tombol kirim! Aku benar-benar mengirimkan sederet kalimat itu, yang tetap saja tidak di baca. Aku mulai mempertanyakan ingatanku mengenai malam itu, benarkah Rella itu nyata? Atau hanya imajinasiku saja. Apapun itu, aku tetap berterimakasih karena Rella adalah inspirasi dari tulisanku.
Aku menggenggam erat sebuah buku di tangan kananku, itu adalah buku fisik yang berisikan cerita yang telah ku buat, salinan dari e-book ceritaku yang sekarang mungkin telah beredar di perpustakaan digital dan dapat diakses oleh jutaan orang hanya lewat genggaman tangan.
Ting! Ting! Ting!
Suara dering yang berasal dari notifikasi terus-menerus terdengar berasal dari ponsel di genggaman tanganku yang lain. Dengan enggan, aku membuka lockscreen ponselku, jujur saja aku berharap itu adalah balasan pesan dari Rella, namun ternyata bukan. Aku mendapatkan banyak sekali email masuk dari nama-nama yang bahkan asing di ingatanku. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi? Kenapa bisa email ku seramai ini? Dengan rasa keingintahuan yang tinggi aku membuka aplikasi email ku. Aku membuka salah satu yang paling atas, terkirim satu menit yang lalu.
Isinya benar-benar mengejutkan ku, disana sebuah email dari seseorang yang membaca e-book ku di perpustakaan digital tempat aku mempublikasikan karyaku. Kedua mataku terasa memanas saat membaca rangkaian isi pesan yang bertuliskan ucapan terimakasih karena sudah membuat e-book itu dan membagikannya, intinya si pembaca itu merasa terbantu dan dimengerti.
“Hai kak, aku adalah salah satu pembaca e-book kakak. Terimakasih banyak telah mengerti dan mewakili isi hati kami dalam hidup yang rumit ini. Dan sekali lagi aku ucapkan terimakasih dengan begitu dalam, telah membuat kami merasa hidup kembali meski terasa mati. Aku yang sebelumnya merasa tidak lagi pantas hidup di dunia ini, tapi sekarang aku percaya, bahwa aku tidak boleh mati sia-sia tanpa menjadi manusia yang berguna.”
Aku tidak menyangka e-book itu berhasil menyelamatkan nyawa beberapa orang yang hampir memilih untuk menyerah bertahan hidup. Begitu pula beberapa email lainnya yang berisi pesan hampir serupa. Tanpa aku sadari, sebuah cairan bening menetes dari sudut mataku ketika membaca email-email itu. Ini bukanlah air mata kesedihan, namun sebuah perasaan lega yang tak sempat terucapkan.
Aku berharap cerita yang aku buat bisa terus menginspirasi banyak orang yang hampir menyerah dalam hidup mereka diluaran sana. Aku bersyukur karena teknologi dapat dipergunakan dengan baik. Meski banyak sisi baik maupun buruknya tapi aku yakin, yang aku lakukan sekarang akan berdampak baik untuk banyak orang. Dan aku telah melakukannya, e-book yang aku bagaikan telah dibaca oleh banyak orang, dan cita-citaku terwujud, banyak orang yang merasa terbantu karena e-book itu. Aku telah berhasil meninggalkan jejak aksara di dunia tanpa batas.
Aku menatap dalam buku di genggaman tangan, tanganku yang lain terulur untuk membuka halaman terakhir pada buku itu. Disana ada sederet kalimat yang hanya bisa diciptakan oleh manusia yang sejatinya memiliki hati dan perasaan, bukan program yang cerdas namun tidak memiliki rasa kemanusiaan.
“Teruslah hidup meski seolah-olah kamu telah mati, walau tidak diinginkan semesta, tidak apa-apa memberi jeda, tapi jangan menghilang dari dunia, ibumu telah melahirkanmu ke dunia dengan mempertaruhkan jiwa dan raganya. Katakan pada dirimu sendiri; Aku terlalu berharga untuk mati dengan sia-sia.”
TAMAT