Pengakuan paling dalam untuk sang pencipta, memohon dengan penuh penyesalan di dada.
Paradoks Si Pendosa
Untuk pemilik alam semesta, raga ini bersimpuh, meluluhlantakkan harga diri yang tersisa. Memohon ampun pada yang tertinggi kedudukannya di alam semesta, izinkan aku mencinta.
Oh… pemilik hati setiap hamba, jikalau segala dosa telah ku jamah dengan penuh sadar. Kini aku terkulai disudut paling dalam jurang penyesalan. Wajah bagai dicacati tatkala akal sehat telah kembali.
Tak ada yang tersisa kecuali seonggok pengakuan jujur dari hati yang membusuk. Terlalu jauh berpaling tuk mengejar reaksi kimiawi diantara sesamanya. Diri ini hanyalah manusia, Oh… aku hanyalah segumpal tanah yang hina.
Sekali lagi ku bawa tubuh ini merangkak, mengepal tangan penuh harap, Oh… sang pencipta izinkan jiwa penuh noda ini untuk kembali mencinta. Terlalu jauh ku mencari keabadian detak jantungnya yang fana, hingga lupa siapa pemilik yang mengizinkan denyut itu tetap ada. Oh… sang pemiliknya, bantu aku untuk meruntuhkan sisa hasrat dunia yang mendera.