Miskomunikasi

Gimana rasanya jika kita hampir kehilangan suatu benda yang penting karena adanya miskomunikasi? Dalam cerita ini kita akan diajak untuk menyelam dalam kehidupan Shasya dan Najwa, kakak-beradik yang mengalami kejadian tersebut saat mudik ke kampung halaman ayahnya.

Miskomunikasi

Shasya dan Najwa adalah kakak-beradik yang lahir dan tumbuh besar di tengah kemajuan dan hiruk-pikuk ibu kota. Ibu mereka adalah warga asli Jakarta, sementara sang Ayah merupakan seseorang dari desa yang sukses membangun karir di kota metropolitan tersebut. Meski terbiasa dengan hiruk-pikuk kota, momen yang paling dinanti-nantikan oleh Shasya dan Najwa setiap tahunnya adalah pulang kampung.

Dua hari sebelum Hari Raya Idul Adha, mereka sudah sibuk untuk persiapan pulang kampung. Setelah semua koper siap, keluarga tersebut memulai perjalanan panjang menuju kampung halaman sang Ayah. Rasa lelah akibat menempuh perjalanan mudik berjam-jam seketika sirna saat mobil telah memasuki halaman rumah nenek di desa. Mereka langsung disambut dengan pelukan hangat oleh keluarga besar yang ternyata sudah sampai dan berkumpul lebih dulu. Suasana di rumah nenek yang sebelumnya telah ramai jadi tambah ramai saat semuanya telah berkumpul.

Hari raya yang dinanti pun tiba. Di desa ini, Idul Adha selalu punya daya tariknya tersendiri. Di sini proses penyembelihan hewan kurban bukan hanya sekedar ibadah, tetapi juga menjadi tempat dilaksanakannya tradisi ‘manten sapi’, di mana hewan kurban dimandikan dan dihiasi dengan kalung bunga sebagai bentuk rasa syukur. Selain itu aktivitas penyembelihan dilakukan dengan gotong royong warga; bapak-bapak dan para pemuda kompak berbagi tugas merobohkan hewan dan mendokumentasikannya, sementara para ibi-ibu sibuk menyiapkan konsumsi di dapur umum. Anak-anak pun juga turut ikut karena penasaran, bahkan beberapa orang dewasa dan orang tua yang tidak dapat tugas pun ikut, semuanya berkumpul untuk menyaksikan.

"Kak Shasya! Najwa! Ayo cepat, sapinya mau disembelih!" seru Udin —sepupu mereka yang paling bersemangat, sambil melambaikan tangan dari halaman masjid dekat rumah.

Shasya dan Najwa segera menyusul Udin dan beberapa sepupu lainnya. Tak lupa, mereka membawa ponsel masing-masing untuk merekam aktivitas seru dan momen kebersamaan mereka di desa.

Namun, saat baru saja mengambil beberapa video, layar ponsel Shasya tiba-tiba mati. "Yah, baterai HP-ku habis lagi," keluh Shasya. Ia pun menyenggol adiknya, "Najwa, gantian pakai HP-mu dulu ya buat rekam, ini HP kakak kamu yang bawa dulu."

Najwa mengangguk dan menerima ponsel kakaknya, sementara Shasya berganti memegang ponsel Najwa untuk mulai merekam. Di sinilah miskomunikasi atau putus koneksi di antara keduanya dimulai.

Suasana di sekitar area kurban semakin ramai dan bising oleh takbir serta riuh penonton. Najwa yang mulai repot memegang beberapa barang, melihat ke arah gamis biru muda yang dikenakan Shasya. Entah karena kurang fokus atau efek lipatan kain, Najwa mengira gamis kakaknya memiliki kantong di bagian samping.

Sambil berjinjit di tengah keramaian, Najwa mendekatkan tangannya ke sisi gamis Shasya. "Kak, ini HP-nya aku titipin di kantong gamis kakak ya, biar gak ribet," kata Najwa setengah berteriak.

Sayangnya, suara Najwa tenggelam di antara suara takbir dan sorak penonton. Shasya yang sedang asyik merekam sama sekali tidak mendengar ucapan adiknya dan tidak tahu apa yang dilakukan Najwa. Akibatnya, saat Najwa melepaskannya, ponsel tersebut meluncur jatuh dan mendarat dengan mulus di atas tumpukan jerami tipis yang ada di dekat kaki mereka. Keduanya sama-sama tidak sadar.

Beberapa waktu kemudian, setelah proses penyembelihan selesai, Udin tiba-tiba menghampiri mereka dengan wajah heran sambil menyodorkan sebuah ponsel. "Eh, ini HP Kak Shasya atau Nawa? Kok bisa tergeletak di atas jerami?"

Shasya terkejut dan langsung memeriksa kantongnya—yang sebenarnya memang tidak ada. Sadar itu adalah ponsel miliknya yang mati total, Shasya langsung menatap Najwa dengan kening berkerut.

"Najwa! Kan tadi HP ini sudah Kakak kasih ke kamu, kenapa bisa jatuh di jerami? Kalau hilang atau terinjak gimana?" protes Shasya mulai kesal.

Najwa yang tidak mau disalahkan langsung membela diri, "Lho, kan tadi Najwa sudah bilang kalau HP-nya dititip ke Kakak! Najwa taruh di kantong gamis Kak Shasya kok!"

"Kantong yang mana?!" sahut Shasya sambil membentangkan sisi gamisnya. "Gamis Kakak ini model terusan polos, gak ada kantongnya sama sekali, Najwa!"

Najwa tertegun sejenak, lalu memperhatikan gamis kakaknya dengan saksama. Benar saja, tidak ada selembar kantong pun di sana. Shasya juga tersadar bahwa tadi ia memang terlalu fokus merekam sampai tidak menggubris sekitar.

Seketika, keduanya terdiam dan saling pandang. Udin yang melihat wajah kebingungan kedua sepupunya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Detik berikutnya, tawa Shasya dan Najwa pecah bersamaan. Mereka menyadari betapa konyolnya perdebatan itu, yang terjadi murni karena kurangnya komunikasi dan salah paham di tengah keramaian aktivitas berkurban.

"Aduh, maaf ya, Kak. Aku lagian sotoy banget main masukin aja," kata Najwa sambil menahan tawa. "Iya, Kakak juga maaf ya gak dengerin kamu tadi karena keasyikan ngerekam," balas Shasya sambil merangkul adiknya.

Hari Idul Adha itu pun ditutup dengan saling memaafkan, menyisakan satu cerita lucu yang siap mereka ceritakan kembali ke keluarga besar saat makan malam nanti.

Download Original File