Pahlawan Tanah Hitam

Pahlawan Tanah Hitam

This is the story about Rio Bujang Rimbo and his friends in Tanah Hitam village. Rio and his friends get many problems in their adventure. The most interesting part in this story, when there is a man disturb the habitat of Rafflesia Arnoldii, the pride of Bengkulu Province. Also, this interesting trip provide valuable lessons about local environmental love.

Pahlawan Tanah Hitam

Rio Bujang Rimbo adalah namaku, biasanya dipanggil Rio, sebuah nama pemberian Bak. Bak adalah panggilan ayah dalam Bahasa Bengkulu. Orang tua Bak menjadi orang yang dituakan di desanya, semua orang di Desa Tanah Hitam pasti mengenal Datuk Zainal. “Rio! Kamu sudah siapkan barang-barangmu untuk besok?” tanya Mak, “Sudah Mak! Aku nggak sabar mau ke rumah Datuk Zainal besok.” ujarku bersemangat. Rumah Datuk Zainal yang terletak di Desa Tanah Hitam, Bengkulu Utara sangatlah asri, jauh berbeda dengan suasana perkotaan. “Kalau begitu, sebaiknya kamu pergi tidur sekarang!” teriak Mak dari luar kamar tidurku, Mak tampak sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk dibawa ke rumah Datuk Zainal. Rencananya kami akan menginap di desa selama beberapa minggu sampai liburan selesai.

Aku membuka mata, bangun dari tidurku yang nyenyak selama semalam penuh. Mataku bergerak hingga tatapanku berhenti pada jam dinding yang ada di sisi kananku, jarum jam menunjukkan pukul 5 pagi. Terdengar suara ayam berkokok menyambut pagi, “Pagi yang cerah, selamat pagi dunia!” Aku berkata sambil meregangkan tubuhku. Aku keluar dari kamarku, terlihat Mak sedang menyiapkan tiga porsi nasi uduk santan untuk keluarga kecilku. “Pagi Mak!” ujarku, “Selamat pagi Rio, kamu mandi dulu ya, nanti kita sarapan bersama.” jawab Mak. “Oke Mak!” jawabku sambil berjalan menuju kamar mandi yang ada di belakang rumahku. Kulihat Bak sedang menyiram tanaman yang tumbuh subur di halaman belakang rumahku, Aku menyapanya dan melanjutkan perjalananku menuju kamar mandi. Selesai mandi, Aku langsung menyantap sarapanku dengan lahap, “Wah! Enak sekali nasi uduknya Mak!” ujarku, “Iya, nasi uduk buatan Mak memang tidak pernah gagal!” ucap Bak gembira.

Piringku sudah bersih tak tersisa, kami memutuskan untuk mulai melakukan perjalanan ke rumah Datuk Zainal. Bak mengendarai mobil sambil mendengarkan lagu daerah Bengkulu berjudul Bekatak Kurak Kariak yang memiliki tempo ceria dan bersemangat. Kami saling berbincang-bincang sehingga waktu terasa begitu cepat berlalu. Hanya sekitar tiga jam kami sudah sampai di Desa Tanah Hitam, tempat rumah Datuk Zainal berdiri kokoh. Rumah datuk memiliki atap miring yang bertumpuk lima dan berbentuk panggung, rumah Datuk Zainal adalah rumah adat Bengkulu, Bubungan Lima satu-satunya yang masih berdiri kokoh di Desa Tanah Hitam. “Kalian sudah datang ya!” ujar Datuk Zainal dari teras rumah, “Batik Besurek yang kamu kenakan bagus sekali Rio.” sambung Datuk. “Iya datuk, Mak yang membuatkan batik Besurek ini.” jawabku sambil tersenyum. Selain sebagai ibu rumah tangga, Mak pernah belajar membuat batik Besurek dengan buciknya (sebutan untuk tante) yang bekerja di tempat pembuatan batik Besurek.

Jam tanganku baru menunjukkan pukul 10 pagi ketika Wan Abdul, pamanku beserta keluarga kecilnya datang berkunjung ke rumah Datuk untuk bertemu dengan kami. “Halo Wan Abdul, Bucik Yen!” Aku menyapa mereka, “Hai Rio, kamu main dengan Barlian dan Kemang dulu ya!” jawab Wan Abdul dan Bucik Yen ramah. Barlian dan Kemang adalah sepupuku, mereka bisa dikatakan seumuran hanya saja usia Kemang lebih tua setahun dariku.

“Kita keliling-keliling dekat lapangan biasa kami bermain yuk, Rio!” ajak Barlian bersemangat, “Yuk!” jawabku dan Kemang serentak, “Aku juga penasaran dengan daerah sekitar rumah Datuk Zainal.” sambungku. Lapangan terletak di samping kantor kepala Desa Tanah Hitam yang cukup luas. Kami menghabiskan waktu di lapangan itu dengan mengobrol hingga kami merasa bosan, “Aku bosan deh kalo kita di sini terus!” seru Barlian memecah pembicaraan kami. “Kita ke kebun di ujung sana aja?” tanya Kemang, “Ah, kita kan sudah sering ke sana.” jawab Barlian. “Nah! Aku ada ide bagus nih. Lebih baik kita pergi ke Air Terjun Curug 9 Tingkat di dekat sini!” sambung Barlian. Di desa Datuk Zainal memang terdapat sebuah air terjun yang sangat indah, sehingga menjadi salah satu objek wisata di Bengkulu Utara, tepatnya di Desa Tanah Hitam.

Pepohonan hijau yang tumbuh subur menyambut langkahku ketika sampai di hutan. Hutan yang ada di Desa Tanah Hitam ini bukanlah hutan biasa, melainkan sebuah hutan lindung yang menjadi rumah bagi tanaman khas Bengkulu, Rafflesia Arnoldi. “Kayaknya perjalanan menuju air terjun cukup jauh.” tanyaku, “Ya, memang kita harus melewati hutan lindung ini selama beberapa waktu. Tapi kamu tidak akan menyesal setelah sampai di Curug 9 Tingkat, pemandangannya begitu indah!” jawab Kemang. “Bagaimana kalau kita tersesat? Pepohonan di hutan ini sangat lebat lho!” ujarku merasa ragu, “Tenang saja Rio, kami sudah sering kok pergi ke air terjun ini.” jawab Barlian menangkan. Selama dua belas tahun Aku tinggal di Bengkulu, Aku belum pernah mengunjungi air terjun yang katanya sangat mempesona. “Emangnya nama hutan lindung ini apa sih?” tanyaku penasaran, “Kamu belum tahu ya Rio, nama hutan ini Hutan Lindung Boven Lais, hutan ini disebut-sebut sebagai surganya para pecinta flora langka.” Barlian menjelaskan.

Jalanan berbatu dan tanah yang sedikit basah menjadi tantangan bagi kami di hutan ini. “Wah! Kita menemukan bunga langka, bunga Rafflesia Arnoldi!” seruku bersemangat, “Beruntung sekali kita dapat melihat bunga Rafflesia mekar, jarang sekali Aku melihatnya mekar dengan sempurna.” ujar Kemang. Barlian memotong pembicaraan kami, “Tunggu dulu! Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya Barlian. Kami mengarahkan pandangan ke dua orang remaja laki-laki yang sedang berada di dekat bunga Rafflesia Arnoldi itu. Tampak mereka sedang tertawa dan bermain-main dengan bunga Rafflesia, “Apa sih yang mereka lakukan?” tanya Kemang penasaran, “Mereka seperti memegang gunting!” sambung Kemang terkejut. “Dua remaja itu pasti sedang memotong bunga Rafflesia Arnoldi. Datuk Zainal pernah bercerita bahwa bunga Rafflesia ini membutuhkan waktu 9 bulan untuk mekar sempurna, dan keindahannya hanya bisa dinikmati selama 4 hari saja lho. Kita harus menegurnya!” ucap Barlian menjelaskan.

“Hei kalian! Apa yang kalian lakukan!” teriak kami. “Kenapa kalian memotong bunga Rafflesia yang sedang mekar ini?” tanyaku, “Lho, emangnya kenapa kalau kami memotong bunga ini? Toh sebentar lagi juga akan mekar kembali.” jawab salah seorang remaja. Barlian kembali menjelaskan tentang bunga Rafflesia Arnoldi ini kepada mereka, “Bunga Rafflesia Arnoldi ini merupakan bunga yang langka, waktu mekarnya hanya sebentar dan untuk menunggunya mekar dibutuhkan waktu hampir 9 bulan. Sangat lama”. “Halah! Bunga begini apa uniknya sih, sudah bau bangkai, lama lagi mekarnya. Mending dirusak ajalah biar nggak dihinggapi lalat-lalat menjijikan seperti ini!” bantah kedua remaja tersebut. “Eh kalian harus tahu, perusakan terhadap bunga Rafflesia Arnoldi bisa ditangkap, karena bunga Rafflesia sudah dilindungi oleh undang-undang.” ujarku membalas mereka.

“Kalo begitu mending kita kabur!” ujar seorang remaja dengan panik kepada temannya. Kedua remaja itu pergi melarikan diri, untungnya kami sempat datang dan menegur mereka sebelum sempat merusak kelopak bunga Rafflesia Arnoldi yang langka ini, sehingga kami masih bisa menikmati keindahan mekarnya bunga Rafflesia. “Ada-ada saja mereka ini, bunga yang cantik begini kok mau dirusak sih!” Kemang berkata dengan kesal. Kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke Air Terjun Curug 9 Tingkat dengan bercengkrama ria. Tentu saja kami merasa bangga karena telah menyelamatkan bunga langka Rafflesia Arnoldi, pesan Datuk Zainal sebagai tokoh yang dituakan di desa sudah kami laksanakan dengan baik. Melestarikan tradisi, budaya, dan sumber daya di Bengkulu.

“Aduuuh!” teriakku ketika tiba-tiba kedua kakiku terperosok jatuh ke dalam tanah yang begitu basah, mungkin hampir bisa dikatakan bahwa itu adalah lumpur, karena teksturnya yang begitu lembek. Sayangnya saat itu Aku sedang mengenakan sepatu warna biru kesayanganku yang kupakai dari rumah. Aku kesulitan untuk keluar dari tanah yang basah ini, sehingga Aku langsung meninggalkan kedua sepatuku di dalam tanah dengan panik. Kedua sepupuku, Barlian dan Kemang langsung menolongku. “Dalam juga sepatumu tertinggal, Rio!” ujar Kemang kesulitan saat berusaha mengambil sepasang sepatuku. Tidak perlu ditanyakan lagi, tentu saja tanah sudah menempel di kaki hingga lututku, ditambah lagi tangan kami yang juga kotor ketika menggali tanah basah itu. “Ketemu satu!” teriak Barlian senang, beberapa saat kemudian Aku juga menemukan sepatuku yang satunya lagi. “Terima kasih Barlian dan Kemang sudah mau membantu mencari sepatuku!” ujarku dengan senang sekaligus merasa sedih, karena seluruh sepatu kesayanganku menjadi kotor.

“Nanti kita bersih-bersih di curug saja ya!” ucap Barlian. Perjalanan menuju curug begitu lama, untuk yang kesekian kali langkah kakiku terhenti. Kami melihat seseorang sedang membawa sebuah alat yang biasa ada di rumah Datuk untuk memotong kayu. Alat itu tampak seperti gergaji mesin yang sudah lumayan modern bagi orang-orang Desa Tanah Hitam. “Astaga! Apa lagi yang bapak itu lakukan. Pasti mau menebang pohon-pohon damar yang ada di sini!” ujarku sambil menghela napas panjang, “Kemungkinan besar bapak itu bukan orang desa sini, orang-orang Desa Tanah Hitam sudah tahu bahwa Kawasan ini merupakan Kawasan hutan yang dilindungi oleh pemerintah. Mereka tidak mungkin berani merusak apalagi menebang pohon di hutan ini.” jelas Kemang.

Di saat yang bersamaan pula Aku melihat ada beberapa anggrek pensil yang juga sudah langka berada di dekat pohon damar yang akan ditebang itu. “Bagaimana kalau anggrek pensilnya sampai terinjak bapak itu? Aku harus menegurnya!” batinku. Barlian dan Kemang tampaknya sudah lelah dengan perbuatan orang-orang yang ingin merusak pesona alam Bengkulu. “Mending kita biarkan saja perbuatan bapak itu, nanti kita nggak sampai-sampai ke Curug 9 Tingkat lho!” ujar Barlian lelah. “Kita tidak boleh membiarkan para perusak lingkungan merusak keindahan alam Bengkulu ini, khususnya keindahan Desa Tanah Hitam.” ujarku dan Kemang menolak usul Barlian. “Hei Pak! Apa yang sedang bapak lakukan dengan pohon damar ini?” tanyaku tegas, “Oh, saya sedang mengambil kayu pohon damar ini.” jawab Bapak itu dengan santai, tidak merasa bersalah. “Apa bapak tahu, bahwa daerah ini merupakan kawasan hutan lindung yang tidak boleh diganggu kelestarian alamnya.” Aku menjelaskan. “Lagipula, setiap beberapa jam sekali akan ada polisi hutan yang akan berpatroli mengecek kelestarian hutan lindung Boven Lais ini, Pak.” tambah Kemang dan Barlian. “Baiklah kalau begitu, dik. Saya minta maaf dan tidak akan menebang pohon di hutan lindung ini lagi ke depannya.” jawab bapak itu merasa bersalah.

“Ini petualangan yang menyenangkan! Kita sudah jadi pahlawan untuk kelestarian alam bumi Rafflesia, Aku senang sekali!” ujar Barlian. Dari jarak beberapa meter Aku melihat sebuah air terjun yang sangat indah dengan sembilan tingkatan bak tangga yang sedang menari dengan anggunnya. “Kita sudah sampai di Air Terjun Curug 9 Tingkat!” seru Kemang bersemangat, diikuti suara Barlian yang berteriak, “Ayo kita mandi di curug ini!”. Aku, Kemang, dan Barlian segera berlari ke dalam curug dengan gembira, kami semuanya basah. Tanah-tanah yang mengotori tubuh kami seketika luruh terkena air terjun yang mengalir dari setiap tingkatan-tingkatan air terjun yang begitu istimewa.

Aku sadar bahwa petualangan ini mengajarkanku bahwa kita harus menjaga alam seperti kita menjaga diri kita sendiri. Walau petualanganku hanya berlangsung satu hari, tetapi banyak makna yang kudapatkan. Perusak alam selalu datang, tetapi kita harus menjadi pahlawan yang menyelamatkan alam tanpa kenal lelah.

Download Original File