Merpati Penghisap Janji

Merpati Penghisap Janji

Sebuah cerita fabel dengan tokoh utama seekor merpati putih yang dipercaya menjadi pemimpin sekaligus ratu. Di balik kepercayaan itu, merpati tersebut memiliki kebiasaan yang merugikan banyak pihak.

Cerpen saya kali ini mengangkat isu sosial seputar integritas dan penyalahgunaan kekuasaan. Melalui kisah ini, pembaca diajak untuk merenungkan bagaimana sebuah jabatan dapat disalahgunakan dan bagaimana kebohongan di ruang publik dapat berdampak bagi masyarakat.

Karya saya tidak bertujuan untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap pemimpin harus memiliki tanggung jawab besar atas kata dan tindakan yang telah terucap.

Merpati Penghisap Janji

Karya: Christian Alexander Firman

Di sebuah taman yang indah, hiduplah seekor merpati putih bernama Fana. Bulunya putih dan mulus seperti awan, sementara suara kicauannya merdu bagai hembusan angin senja.

Fana hidup bersama gerombolan merpati lainnya. Ia dipercaya menjadi ratu oleh para merpati karena parasnya yang indah. Hewan-hewan di taman itu selalu terpesona oleh pantulan cahaya dari bulu putihnya.

Semua hewan selalu mengagumi tindakannya.

"Kalau Fana menjadi ratu, taman kita akan lebih indah dibandingkan taman di ujung utara sana," ujar Kelinci.

"Dia seekor merpati. Pasti kita akan hidup sejahtera bersamanya," kata Kura-kura.

Namun, tidak semua binatang mengetahui bahwa Fana merupakan merpati yang licik. Tak ada yang tahu bahwa Fana memiliki kebiasaan buruk, yaitu menghisap janji.

Cara yang dilakukan Fana sangatlah mudah, tetapi tak seorang pun menyadarinya. Ia akan mendatangi hewan yang sedang kesusahan, lalu berbisik dengan suara lembut.

"Aku berjanji akan menolongmu dan membuatmu aman. Tenang saja."

Setelah hewan itu percaya bahwa Fana akan menepati janjinya, Fana segera terbang dan melupakan ucapannya sendiri. Janji-janji itu hanya dihisap, lalu disimpan di dalam dadanya layaknya sebuah koleksi.

Di dalam sangkar rumah kayunya, Fana selalu tertawa licik karena semua hewan menganggap dirinya akan menepati setiap janji yang telah diucapkannya.

"Bodoh sekali mereka. Bisa-bisanya mereka percaya kepadaku," kata Fana.

Saat musim kemarau tiba, air bersih di danau mengering. Buah-buahan pun tidak lagi tumbuh secepat musim sebelumnya. Tidak ada yang menyadari bahwa kemarau panjang itu akan menjadi bencana terbesar yang pernah mereka hadapi.

Suatu hari, Rubah berjalan tertatih menuju sangkar kayu milik Fana. Bulunya tampak kusam dan tubuhnya terlihat sangat kehausan.

"Fana, tolonglah kami. Musim kemarau ini benar-benar menyiksa aku dan anak-anakku. Berjanjilah kepadaku bahwa kau akan mencarikan solusi terbaik untuk taman kita," kata Rubah dengan suara yang mulai melemah.

Fana sontak tersenyum manis.

"Tentu, Rubah. Aku akan segera mencari pertolongan ke taman lain," jawabnya dengan lembut.

Shhhp…

Satu janji kembali masuk ke dalam dadanya.

Rubah pulang dengan hati sedikit lebih tenang. Ia berharap keajaiban benar-benar akan datang.

Hari demi hari berlalu. Hewan-hewan di taman mulai gugur satu per satu. Mulai dari Gajah yang mati karena kulitnya terlalu kering hingga Kelinci yang gugur akibat dehidrasi.

Penduduk taman pun segera mendatangi tempat tinggal Fana. Semua penduduk taman telah berkumpul. Diwajah mereka tersimpan amarah, benci, dan kekecewaan atas tindakan Fana selama ini.

"Fana! Kau berjanji akan menolong Rubah dan seluruh penduduk taman!" teriak Kancil.

Fana hanya mengepakkan sayapnya sambil memasang wajah polos.

"Aku? Berjanji? Mana buktinya?" jawabnya santai.

Secara tiba-tiba, bulu putih milik Fana berubah menjadi hitam pekat.

"Apa yang terjadi?" teriak Fana panik.

"Itulah karma karena kau telah membohongi kami," jawab Gagak, hewan sakti yang hidup di taman itu.

Selama ini Gagak telah mengetahui rencana jahat Fana. Ia tahu bahwa merpati adalah lambang kesucian, tetapi Fana justru menjadi pembohong yang mengotori makna itu. Gagak hanya menunggu saat yang tepat untuk menurunkan karma kepadanya.

Tubuh Fana kini benar-benar menghitam. Janji-janji yang selama ini ia telan berubah menjadi tinta hitam yang merembes keluar dari dadanya, membalut bulu putihnya sedikit demi sedikit hingga tak tersisa secercah warna suci. Dadanya terasa sangat berat. Bulu putih dan paras indah yang selama ini ia banggakan telah lenyap sepenuhnya.

Semua hewan terkejut.

"Siapa kau? Kau bukan Fana yang kami kenal," ujar Ibu Monyet.

Fana panik. Ia mencoba terbang meninggalkan taman itu. Namun, ketika mengepakkan sayapnya, sayap itu terasa begitu berat. Ia bahkan tak mampu terbang tinggi. Sesaat kemudian tubuhnya terjatuh ke dalam kubangan lumpur di tepi taman karena tak lagi sanggup menahan beban yang dipikulnya.

Nenek Kura-kura mendekat.

"Fana, kedamaian bukanlah soal warna bulu. Kedamaian adalah tentang janji yang ditepati. Mungkin inilah cara terbaik untuk menyadarkanmu," ujar Nenek Kura-kura

Tak lama kemudian, Ibu Rubah juga ikut menghampiri kubangan lumpur itu.

"Mungkin janji-janji itulah yang akhirnya menelanmu. Kau harus pergi dari sini. Kami akan mencari pemimpin yang baru."

Sejak kejadian itu, Fana diusir dari taman. Ia mencoba bergabung dengan kelompok merpati di taman lain, tetapi tak ada lagi yang percaya kepadanya.

Fana akhirnya hidup seorang diri di hutan kecil yang terisolasi. Hingga kini ia hanya mampu menangisi dan menyesali semua perbuatannya.

Ia terus berbisik kepada angin,

"Maaf… maaf… maaf…."

Namun, tak ada lagi yang memercayainya.

Download Original File