Bu… Ibu… sudah pernahkah kau menatapku dengan tatapan bangga itu?
Pelabuhan Pertama
Terhitung 1106 hari, 26.544 jam, 1.592.640 menit, 95.558.400 detik, setelah aku kehilanganmu, bu ternyata aku belajar banyak hal. Salah satunya adalah aku tak bisa melakukan apapun tanpamu. Bangunan ini terasa sepi bagai tak berpenghuni setelah dua kalimat syahadat selesai ku tuntun mengiringi kepergianmu.
Tawa lepas yang senantiasa muncul saat aku menjahili mu, kini tak lagi terpampang nyata. Rasa rindu membuncah mengoyak dada, tapi apa boleh buat? yang dapat kupeluk hanyalah pusara yang kini menyimpan ragamu. Bagaimana aku tak menggila? kau adalah pelabuhan pertamaku.
Banyak hal kecil yang selalu mengingatkanku padamu. Ketika kotak bekal berisi makanan yang dulu selalu ku tolak karena tak suka sarapan. Bu, sekarang aku mau dibekali makanan olehmu seperti teman-teman ku itu. Tak ada lagi suara melengking di pagi hari membangunkan tidur lelap ku, tak ada lagi omelan darimu saat aku lupa menaruh handuk pada tempatnya. Bu, aku rindu… hidup ku masih berjalan tapi tanpamu rasanya kelabu.
Part dimana raga ini sedang mencari jati dirinya ternyata membutuhkan dampinganmu. Bu, bisa kita bertemu sekali lagi saja? Aku akan mengucapkan berjuta-juta terima kasih dan kata cinta yang dulu malu ku ungkap dengan kata.
Bu… Ibu… sudah pernahkah kau menatapku dengan tatapan bangga itu?