Perbedaan Kota Vaka dan Kota Raya mengisahkan petualangan Eri dan Ira yang berlibur dari Kota Vaka menuju Kota Raya dengan harapan menikmati keindahan alam dan suasana pantai. Namun, setibanya di sana, mereka dikejutkan oleh kondisi kota yang dipenuhi sampah. Prihatin melihat keadaan tersebut, mereka mengajak teman-temannya, Vira, Ratna, dan Rifa, untuk bergotong royong membersihkan lingkungan. Tidak hanya membersihkan sampah, mereka juga bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan, memilah, dan mengelola sampah dengan benar. Melalui tantangan setiap bulan serta pemberian hadiah sebagai penghargaan, masyarakat mulai mengubah kebiasaan buruk mereka. Perlahan, Kota Raya berubah menjadi kota yang bersih, indah, dan nyaman seperti Kota Vaka. Kisah ini mengajarkan nilai kepedulian, kerja sama, tanggung jawab, serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan yang lebih baik.
PERBEDAAN KOTA VAKA DAN KOTA RAYA
Oleh: Aqilah Muadzah
Tokoh : Eri, Ira, Ratna, Vira, Rifa, pak suparta, kak Lala
Latar Belakang: Bandara Herley, Kota Vaka, Kota Raya, Bandara Rama
Waktu: siang-malam, Tanggal:10-15, Bulan:9, Tahun:2035
“Cuit, cuit, cuit”, suara burung berkicau menandakan hari sudah pagi. Sinar matahari masuk ke kamar Eri melalui jendala kamarnya. Eri terbangun dari tidurnya, dia langsung mengecek kalender, ternyata hari ini adalah hari Senin jadwalnya ia berangkat ke kota Raya untuk pergi berlibur bersama Ira. Dia segera mandi, sarapan dengan sandwich daging dan segelas susu coklat dengan semangat. Bedasarkan google tahun 2020 kota Raya sangatlah indah. Berada di tepi laut, Ketika cuaca musim panasnya hangat, tidak banyak polusi, jadi malamnya mereka bisa melihat bintang. Eri sudah membayangkan betapa serunya berenang di laut dan membuat istana pasir disana, karena kota Vaka jauh dari laut ia tidak bisa berenang di laut dan membuat istana pasir. Setelah itu ia mengganti baju tidurnya dengan baju musim dingin. Karena menurut perkiraan cuaca kota Raya disana akan memasuki musim dingin. Dengan naik mobil dia diantar oleh kak Lala sampai Bandara Herley yang ada di kota Vaka.
Sesampainya di Bandara Herley dia segera pergi ke tempat dimana ia dan Ira janjian untuk bertemu. Yaitu di pintu Utara Bandara Herley. Ia pun melihat yang mengenakan jaket berwarna ungu. “Hai Ira, apa kabar?” sapa Eri ketika sudah berada di dekat Ira “hai Eri, aku baik-baik saja” balas Ira.
Setelah ini mereka akan melakukan perjalanan ke Kota Raya menggunakan pesawat boeing dengan nomor 5231 yang berwarna pink. Tanpa menjangkau lama, mereka segera berangkat untuk penerbangan selanjutnya. Mereka berjalan bersama menuju garbarata yang menghubungkan bandara dengan pesawat yang menuju kota Raya. Lalu duduk di kursi pesawat sesuai dengan nomor yang ada di tiket pesawat. Perjalanan dari kota Vaka ke kota Raya memakan waktu sekitar tiga jam tiga puluh menit.
Sampai di Bandara Rama mereka segera keluar bandara. Suasana Bandara Rama sangat berbeda dengan suasana Bandara Harley. Bandara Harley sangat bersih, rapih, wangi dan membuat orang ingin kembali ke sana. Sehingga Bandara Harley ramai di kunjungi oleh wisatawan dan pengunjung. Meskipun pengunjung hanya sekedar ingin bermain di sekitar bandara. Sedangkan bandara Rama berkebalikan dengan Bandara Harley. Bandara Rama terlihat kotor dan banyak sampah berserakan. Kedua sahabat itu terpaksa melewati bandara tersebut sambil menutup hidung.
Setelah menempuh perjalanan menggunakaa taksi selama tiga puluh menit akhirnya Eri dan Ira sampai di Kota Raya untuk berlibur. Tiba-tiba Eri kaget, “Ra, Ra, Ira itu ada gunung apa yah? Ko permukaannya aneh?” Eri menajamkan pengelihatannya. “Ayo kita kesana, mungkin itu wahana permainan terbaru milik Kota Raya” ajak Ira sambil menarik tangan Eri. Tapi ternyata bukan wahana permainan. Alangkah kagetnya mereka ternyata itu adalah…….… GUNUNG SAMPAH! Setelah mendekatinya secara refleks menutup hidung yang menutup kepala. Selain kotor gunung sampah itu bau dan banyak lalat dan kecoa. Akan tetapi penduduk kota Raya sudah terbiasa dengan pemandangan tersebut.
Setelah mengalami kebocoran, mereka memutuskan untuk segera mencari hotel terdekat dan menginap selama satu malam. Mereka segera check in dan beristirahat sejenak setelah melihat gunung sampah. Setelah membuka pintu kamar ternyata di dalam kamarnya terdapat banyak sampah. Mulai dari sampah tisu hingga sampah kemasan bekas makanan.
“Ira ini kita mau pergi berlibur melihat pemandangan indah atau pergi melihat sampah berserakan?” bisik Eri kepada Ira. “sepertinya Kota Raya telah mengalami perubahan yang sangat cepat dalam kurun waktu 15 tahun, kota yang indah sudah menjadi kota yang penuh sampah, hanya malam yang indah dengan pengamatan bintang mungkin yang hingga sekarang tetap bertahan” jawab Ira.
Eri kemudian membuka tas ranselnya. Ia memiliki kebiasaan membawa sapu dan sapu lidi Kasur portable ketika akan berpergian jauh. Mereka pun segera bekerja sama membersihkan kamar di rumah mereka, Ira menyapu lantai dan Eri menyapu kasur. Setelah selesai beres-beres, mereka lelah dan berkeringat. Eri mandi pertama, disusul Ira setelahnya. Tapi di kamar mandinya tidak ada tong sampah, padahal itu hotel berbintang lima.
“Apanya yang bintang lima sih, kamar isinya sampah, orang mau istirahat habis shock ngeliat gunung sampah, jadi malah bersih-bersih kamar, udah kamar mandi engga ada tong sampahnya lagi, huft” gerutu Ira kepada Eri. “Sudahlah, sabar Ira” kata Eri menenangkan Ira. Namun, Ira juga tidak terhibur. Eri mencoba cara lain yaitu, mengajaknya melihat bintang malamnya. Ira setuju, malamnya mereka langsung melihat bintang, dan akhirnya Ira terhibur juga.
Keesokan harinya mereka segera berkunjung, untuk mencari tempat yang lebih bersih dan lebih nyaman. Namun tetap saja mereka tidak menemukan yang lebih bersih dan lebih nyaman. Di jalan ada sampah, di pantai banyak sampah, di laut banyak sampah, di sungai banyak sampah, dimana-mana ada sampah!
Di kota Raya terdapat banyak sekali sampah, karena masyarakat belum mengenal cara-cara mengolah sampah. Padahal, banyak cara mengolah sampah seperti, mendaur ulang [recycle], membakarnya [burn], dan masih ada lagi. Namun keduanya memiliki kekurangan yaitu:
Membakar sampah:
-Asap dari pembakaran akan menimbulkan polusi udara
Mendaur ulang sampah:
-Tidak semua sampah bisa di daur ulang.
Di kota Raya Eri dan Ira bukannya melihat pemandangan yang indah seperti yang sering kita temui di Kota Vaka, tapi malah melihat pemandangan yang menjijikkan, yaitu sampah ada dimana-mana. Eri segera menelfon teman ketiga yaitu: Vira, Ratna, dan Rifa. “sahabat-sahabatku, apakah kalian bisa membantu? Di sini ada banyak sampah, jika bisa membantu tolog membawakan sekalian alat-alat kebersihan yaa” ternyata ketiga teman siap membantu.
Vira, Ratna dan Rifa segera menyusul menaiki pesawat super milik Rifa. Mereka membawa tong sampah, sarung tangan, penyedot debu dan alat-alat kebersihan lainnya. Mereka segera membantu Eri dan Ira membersihkan kota Raya. Eri dan Rifa bermain sapu terbang sambil menyapu jalanan, Ira berenang sambil membersihkan sungai, Ratna membuat istana pasir sambil membersihkan pantai sedangkan Vira naik kapal sambil membersihkan laut.
Setelah semua beres mereka berdiskusi dengan Pak Gubernur Suparta untuk mengizinkan bertemu masyarakat. Setelah diizinkan, besoknya mereka mengadakan pertemuan untuk memberi pengetahuan tentang pengelolaan sampah kepada seluruh masyarakat Kota Raya. “Perhatian perhatian, hari ini kami akan menjelaskan cara mengelola sampah, dan kami juga membawa hadiah untuk kalian semua, baik anak-anak, lansia, ibu-ibu, bapak-bapak, semua dapat!” kata Eri. “selamat!” teriakan penduduk hampir bersamaan. karena gembira, mereka juga bertepuk tangan menyambut kabar gembira dari Eri. ”Tapi ada tantangannya, yaitu setiap bulannya mereka harus membuang sampah di tempatnya” Eri menjelaskan kepada masyarakat Kota Raya. Semua orang menjalani tantangan-nya demi mendapat hadiah yang menjanjikan Eri.
Setelah itu Eri dan kawan-kawan berbagi ilmu. Eri menjelaskan tentang sampah jenis. Ira menjelaskan tentang cara pengelolaan sampah organik sisa sampah dapur menjadi kompos. Ratna menjelaskan cara mendaur ulang sampah. Vira menjelaskan tentang bahaya lingkungan yang kotor akibat sampah. Rifa menjelaskan tentang pengelolaan sampah plastik dan kertas. Setelah itu mereka dan masyarakat Kota Raya meletakkan banyak tong sampah yang dibawa oleh Rifa di pinggir jalanan agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.
Sebulan kemudian…
Eri menggunakan selendang ajaibnya untuk terbang keliling kota Raya. Setelah melihat pemandangan dari atas ternyata kota Raya Sudah mirip dengan kota Vaka, lebih bersih dan rapih dari sebelumnya. Eri Kembali berkumpul dengan masyarakat. “Ternyata kalian hebat! Nah, kalau kota kalian seperti di ikan menjadi lebih indah kan?” tanya Eri “iya” jawab masyarakat kompak. “Sebulan lalu saya sudah menjanjikan hadiah jika koa ini tidak kotor lagi, nah karena sekarang kota ini sudah lebih baik dari sebelumnya, maka kalian akan mendapatkan hadiah yang saya janjikan” kata Eri. “Semua silahkan antri!” teriak Ira. Mereka segera antri membuat barisan yang rapih. Setelah semua mendapat hadiah, Eri membocorkan isi kertas kado tersebut,
“agar kalian bisa menjaga kebersihan kota ini, maka saya memberi masing-masing kalian sepaket peralatan kebersihan dan tong sampah” semua masyarakat berterima kasih kepada Eri dan kawan-kawan karena telah membantu membuat kota mereka menjadi lebih bersih.
PROFIL PENULIS
Aqilah Muadzah (Intagram @dunia.aqilah) lahir di Jakarta 5 September 2014. Ia menjalani homeschooling dari paud sampai sampai kelas 2, kelas 3 dan 4 mengikuti pendidikan non formal di Rumah Tahfidz Al-Quran Ar-Raudhah. Lalu melanjutkan sekolah formal di MIS Tahfizh Baitul Huda Cilincing hingga kelas 6. Sekarang bersekolah di MTs Negeri 38 Jakarta. Hobinya adalah mengggambar, menulis, melipat origami, membuat paper quiling, dan berbagai kesenian lainnya. Cita-citanya adalah menjadi koki dan pembuat kue.
Pada tahun 2023 Aqilah berkontribusi dalam kegiatan menulis buku yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Jakarta pada program Baku-Biku. Tulisan Aqilah dimuat pada program Baku-Biku volume 2 (Ide Untuk Bumi) dengan judul “Ide Untuk Penebangan Pohon”, volume 4 (Surat Buat Guru) dengan judul “Guruku Tersayang dan volume 5 (Jujur, Aku Pernh Bohong) dengan judul “Misteri Pecahnya Vas”. Selain itu Aqilah juga menulis buku “Sayangi Bumi, Petualangan Sarah” dalam program Karya Rayakan. Buku ini dipamerkan di Perpustakaan Jakarta pada tanggal 4-12 November 2023.
Pada tahun 2024 Aqilah mendapatkan juara 2 Lomba Menulis yang diselenggarakan oleh Dinas Keperpustakaan dan Arsip Kota Jakarta Utara dengan judul karya “Selalu Bersyukur Atas Makananku”. Dan pada tahun 2025 mendapatkan Juara Harapan 2 pada ajang lomba yang sama.