"Bintang Jatuh" adalah cerpen yang mengangkat hubungan antara anak dan ayah melalui peristiwa magis berupa jatuhnya sebuah bintang. Melalui cerpen ini penulis ingin menyampaikan makna mimpi dan pengorbanan orang tua terhadap anaknya.
Membunuh Bintang
Oleh: AyaCieRY
SUATU ketika, bintang jatuh di halaman rumahku.
Bedebum!
Aku keluar untuk menyaksikan benda berkilau itu di antara rerumputan. Kupungut bintang itu dengan tangan kosong. Hangat. Ternyata bentuk bintang itu bulat, tidak berujung lima seperti yang biasa digambarkan orang-orang.
Sebuah tangan besar nan kasar mengelus pucuk kepalaku. Kumendongak untuk melihat wajah Ayah yang kuyu dan penuh welas asih. Pria paling tanah yang kukenal. “Kau menemukan bintang?” ujarnya. Aku mengangguk, lalu Ayah pun menarik ujung bibirnya, “Bagus. Jaga bintang itu baik-baik.”
Ditepuknya pucuk kepalaku dua kali.
Aku mengedipkan mataku. Aneh. Air muka Ayah begitu biasa. Sangat biasa untuk melihat penampakan yang begitu luar biasa. Seolah ini bukan pertama kalinya ia melihat bintang jatuh di halaman.
“Ayah, apa Ayah pernah melihat bintang jatuh sebelumnya?” Raut muka Ayah tampak berubah untuk sekejap, namun itu hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali seperti semula.
Kutunggu jawaban Ayah yang tak kunjung datang. Ia menarik tanganku, menggiringku duduk di kursi panjang di depan rumah. “Dulu Ayah juga punya satu bintang seperti itu, tapi Ayah membunuhnya.” Ayah mengembuskan napasnya, “Ayah sudah membunuhnya.”
Aku mengerutkan dahi. “Membunuh?” Ayah mengangguk, “Benar. Ayah membunuhnya.”
“Bagaimana?”
Ayah terdiam. Diambilnya bintang dari telapak tanganku, kemudian ia remas. “Begini.”
“Eh!” Aku melotot melihat tindakan tiba-tiba itu. Kubuka paksa tangan Ayah yang mengepal. Namun bintang itu ternyata masih utuh. Ayah tertawa melihat reaksiku. Aku mengerucutkan bibir, menatap Ayah dengan tatapan penuh permusuhan.
“Ayah membuangnya, begitulah cara Ayah membunuhnya.”
Ayah menatap jutaan bintang yang tersebar di langit. Aku ikut mendongak. “Membuangnya, ya…“ gumamku, “Kenapa?” Kujatuhkan tatapanku pada pria yang duduk di sampingku ini. Seorang penghitung yang andal. Meski pekerjaannya ialah memotong dan menjual kayu, aku tahu ia ini sebenarnya pria yang cerdas. Aku sempat melihat sertifikat olimpiade matematika yang ia sembunyikan di dalam kotak di lemari pakaiannya.
Ayah menelengkan kepalanya. Masih menatap langit, ia bergumam, “Kenapa, ya,” Ia kemudian mengalihkan pandang kepadaku. Dielusnya pucuk kepalaku, “Karena kamu.”