Sepasang mata cangkang kura

Sebuah alegori mengenai kehidupan manusia sendiri, yang direpresentasikan dalam puisi ini sebagai penyu (kura-kura laut) dipaksa melata di darat, begitu juga sebaliknya kura-kura darat dipaksa ke laut, bentuk manifestasi kekejaman manusia, namun juga simbolisme terhadap kehidupan nya sendiri, jika dipaksa,pada yang bukan ranah nya, lambat laun akan tenggelam.

Sepasang Mata Cangkang Kura Oleh Alvino rafandra nurfauzi permana

Sepasang mata cangkang kura,
Lupa, kita semua lupa?
Tak ingat semua serupa,
langit oren sehalus bulu kucing,
dirindukan setiap malam menjelang,
manusia dan kopinya siaga.

Paduan suara burung-burung camar,
terpukau desir bola mandi pasir,
simfoni menyambut sepasang kasur jemur.

Dari sini, dalam gelap semua terlihat seperti lukisan,
mataku kanvasnya, samar suara kuas,
timbul semakin banyak seiring berputar roda kaki.

Pasirnya terlukis di mataku, tak punya jawaban,
semesta beri banyak pertanyaan,
di atas sana, sepasang cangkang berlumut.

kaki dua melata telapak cepat, mengabur pasir,
meluap lahap pesisir pantai.

Kadang, kedua kaki tersebut,
mengikat empat kaki hidupnya,
ada yang punya cangkang, berbeda kerangka.

Selaput keriput, tak lihai mengapung,
justru terbang, terbawa berat,
bertemu rongga laut.

Sekiranya kura, dua kaki bawa cangkang,
keropos isinya, darat bukan laut, berat hutan,
dituangmu dalam nadi ombak.

Kaki cangkang gajah dikekang buih,
kaki selaput bertarung dengan pasir,
tangan-tangan panjang cabik pasir,
buang darah habitat.

Download Original File