menceritakan tentang kisah para remaja di SMA, perjalanan tiga tahun sekolah menghadapi berbagai rintangan dan pengalaman baru yang seru
Broken to Became One
Karya : Habel Priyaguna
Kalau ada satu hari yang nggak bakal pernah bisa aku lupain, mungkin itu adalah tanggal 20 Juli. Hari itu menjadi langkah awal dari perjalananku sebagai siswa SMA. Jujur aja, aku gugup. Berdiri di depan gerbang sekolah yang tinggi bikin jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku memandang sekeliling, melihat siswa-siswa lain yang sibuk mencari kelasnya masing-masing. Semuanya terasa baru dan asing. Aku Cuma bisa menarik napas dalam-dalam sambil berharap semoga tiga tahun ke depan jadi perjalanan yang menyenangkan.
Belum juga rasa gugup itu hilang, tiba-tiba seseorang memanggil namaku dari arah kejauhan. Ternyata Ayu. Aku langsung tersenyum lebar karena nggak nyangka kami bakal sekolah di tempat yang sama lagi. Kami saling bertanya soal kelas yang didapat, dan ternyata kami sama-sama masuk kelas X-F. Rasanya lega banget karena setidaknya aku nggak benar-benar sendirian di hari pertama sekolah. Kami pun masuk kelas bersama sambil sesekali bercanda untuk menghilangkan rasa canggung.
Suasana kelas masih terasa sepi hingga Pak Bayu masuk dan memperkenalkan diri sebagai wali kelas sekaligus guru Bahasa Indonesia kami. Beliau meminta kami memperkenalkan diri satu per satu. Tapi belum sempat semuanya dimulai, pintu kelas tiba-tiba terbuka keras. Ada dua siswa datang terlambat, yaitu Farel dan Reza. Mereka bukannya langsung minta maaf, malah saling menyalahkan soal siapa yang bikin telat. Satu kelas langsung tertawa melihat tingkah mereka, sementara Pak Bayu hanya menggelengkan kepala sebelum akhirnya menyuruh mereka duduk. Dan momen sederhana itu justru jadi awal kami mulai saling mengenal.
Hari-hari berikutnya berjalan begitu cepat. Minggu berganti bulan, dan tanpa sadar kami yang awalnya masih asing mulai akrab satu sama lain. Kelas yang dulu terasa sunyi kini selalu dipenuhi tawa. Ada yang sering bikin lelucon, ada yang selalu jadi tempat curhat, ada yang rajin belajar, dan ada juga yang hobi mengerjai teman-teman. Dan dari sekadar teman sekelas, kini perlahan berubah menjadi keluarga kecil yang saling mendukung dalam banyak hal.
Hingga suatu hari Pak Bayu memberi tugas kelompok tentang sejarah Ciayumajakuning. Kami langsung sibuk membentuk kelompok, membagi tugas, mencari referensi, hingga menyiapkan presentasi. Dan di tengah kesibukan itu, aku mulai menyadari kalau ada salah satu dari temanku yang diam-diam menyukai seorang cowok di kelas kami. Dia nggak pernah mengungkapkan perasaannya kepada siapa pun. Setiap kali cowok itu lewat, sorot matanya selalu berbeda. Namun rasa itu tetap dipendam sampai kami naik ke kelas sebelas.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya sekolah mengadakan pertunjukan drama antarkelas dengan tema kearifan lokal. Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya kelas kami sepakat memilih cerita Mapag Sri. Semua langsung sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang mengurus kostum, properti, naskah, sampai latihan. Awalnya semua berjalan lancar. Kami berlatih bersama dengan penuh semangat karena ingin memberikan penampilan terbaik untuk kelas kami.
Namun, perlahan muncul masalah yang nggak pernah kami duga sebelumnya. Iren sang tokoh utama yang bertugas mengatur latihan mulai bersikap terlalu keras. Mungkin sebenarnya niatnya baik, dia ingin semuanya berjalan sempurna. Tapi lama-kelamaan caranya membuat banyak orang merasa nggak nyaman. Kalau ada yang terlambat langsung dimarahi, kalau ada yang nggak bisa datang latihan karena ada urusan lain tetap dipaksa hadir, dan bahkan pendapat teman-temannya juga sering kali nggak didengarkan. Hingga suasana yang tadinya penuh semangat berubah menjadi canggung. Aku bahkan bisa merasakan jarak di antara kami mulai muncul sedikit demi sedikit.
Hari pertunjukanpun akhirnya tiba. Drama kami berjalan dengan baik dan mendapat tepuk tangan dari banyak orang. Tapi di balik keberhasilan itu, aku melihat Iren duduk sendirian. Wajahnya tampak murung. Mungkin saat itu dia mulai sadar kalau sikapnya selama latihan telah membuat teman-temannya menjauh.
Keesokan harinya, Iren berdiri di depan kelas. Dengan suara yang pelan dan tangan yang sedikit gemetar, ia meminta maaf kepada kami semua. Ia sangat mengakui kalau selama latihan terlalu memaksakan kehendaknya dan tanpa sadar sudah menyakiti perasaan teman-temannya. Awalnya masih ada yang belum bisa menerima permintaan maaf itu. Beberapa teman masih menyimpan rasa kecewa. Tapi Yusa mengingatkan kami kalau setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Aku pun juga ikut mengatakan kalau sebentar lagi kami akan menjadi siswa kelas dua belas. Mungkin rasanya sayang kalau kenangan kami harus dipenuhi dengan rasa marah dan dendam. Perlahan suasana mulai mencair. Satu per satu teman akhirnya memaafkan Iren, hingga senyum kembali muncul di wajahnya, dan sejak saat itu hubungan kami mulai membaik lagi.
Memasuki kelas dua belas, kami kembali menjalani hari-hari seperti biasanya. Belajar bersama, mengobrol di kantin, mengerjakan tugas kelompok, sampai bercanda saat jam istirahat. Rasanya seperti menemukan kembali keluarga yang sempat kehilangan arah, dan di tengah kesibukan menghadapi tahun terakhir sekolah, aku mengusulkan agar kami pergi berlibur ke sebuah vila sebelum lulus. Tanpa berpikir panjang, semua langsung setuju. Hingga kami pun mulai menabung sedikit demi sedikit sambil membayangkan serunya liburan bersama.
Namun, beberapa hari sebelum keberangkatan, aku melihat salah satu temanku berubah menjadi pendiam. Belakangan aku tahu alasannya. Selama ini dia diam-diam menyukai seorang cowok di kelas kami sejak kelas sepuluh. Dia bahkan sudah menyiapkan hadiah untuk menyatakan perasaannya. Namun sayangnya, semua harapannya hancur ketika melihat cowok itu sedang bersama perempuan lain yang ternyata sudah menjadi pilihannya. Hadiah yang dibawanya jatuh ke tanah, sementara air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Melihat kejadian itu membuatku sadar kalau tidak semua perasaan bisa berakhir seperti yang kita harapkan.
Meski begitu, hari keberangkatan ke vila tetap tiba. Semua menikmati perjalanan dengan penuh tawa. Kami bermain, berfoto, menikmati pemandangan, dan menghabiskan waktu bersama. Hanya dia yang masih terlihat murung. Untungnya Farel datang menghampirinya. Dia nggak banyak bicara, hanya duduk menemani di sampingnya. Dan saat itu aku sadar kalau kadang kehadiran seseorang jauh lebih berarti daripada seribu kata penghiburan.
Menjelang sore, aku memandangi teman-temanku yang sedang tertawa bersama. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri, ternyata Tiga tahun berlalu begitu cepat. Dulu kami pernah menjadi orang asing, lalu berubah menjadi sahabat, kami juga pernah tertawa bersama, saling mengejek, bertengkar, saling menyakiti, lalu saling memaafkan. Hingga semua kenangan itu membentuk kami menjadi pribadi yang lebih dewasa. Aku akhirnya mengerti kalau persahabatan bukan berarti tidak pernah memiliki masalah, namun tentang bagaimana kita memilih untuk tetap bertahan dan memperbaiki semuanya bersama-sama.
Kini masa SMA kami telah usai. Masing-masing dari kami akan melanjutkan perjalanan hidupnya sendiri. Namun apa pun yang akan terjadi nanti, aku yakin kenangan tentang kelas ini akan selalu hidup di dalam ingatanku. Dulu mungkin kami pernah retak karena perbedaan dan kesalahpahaman, tetapi kami juga belajar bagaimana cara menyatukan kembali hubungan yang sempat renggang, dan mungkin, itulah arti sebenarnya dari Broken to Became One yaitu retak untuk kemudian kembali merekat, hingga akhirnya kami sadar bahwa kami bukan hanya sebatas teman sekelas, melainkan keluarga yang dipertemukan oleh waktu.