Caput tak pernah menyukai kepalanya sebab selalu muncul bunyi
krett..krett…
Saat ia melakukan sesuatu, bunyi itu membuat Caput malu, setiap malam ia memanggil para peri untuk datang ke dalam kamarnya dan mengabulkan permintaannya.
Caput ingin mengganti kepalanya dengan kepala yang lebih keren dan tidak mengeluarkan suara
krett..krett saat itu melakukan sesuatu.Namun ada yang Caput tak tahu bahwa semua kepala memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing.
Caput Dan Peri Kepala
Oleh: Khaira Talita Rumi
Namanya Caput, Caput anak yang baik, dia bangun pagi sendiri tanpa perlu dibangunkan
ibunya kemudian menjalani hari-harinya yang biasa tanpa perlu dibantu ibunya. Tetapi ada satu hal yang membuat Caput merasa tidak nyaman. Caput tidak menyukai kepalanya sebab ketika ia berjalan sekrup di lehernya akan berbunyi
krett….krettt…..
Suara aneh itu tak jarang mengundang tawa dan ledekan teman teman nya. Caput benci
ketika kepalanya terasa longgar dari waktu ke waktu, oleh karena itu Caput meminta bantuan kepada sang peri
"Peri oh peri bantulah aku, aku tak menyukai kepalaku"
Ucap Caput selalu meminta kedatangan sang peri setiap malamnya.
Di suatu malam seorang peri benar-benar menjawab panggilannya, tubuhnya mungil
begitu juga sayap nya yang mengepak tampak berkilau-kilauan layaknya bintang.
Caput melihat di tangan sang peri ada koper yang begitu besar lebih besar dari tubuh sang peri itu sendiri, di depan Caput sang peri mengaku sebagai peri kepala, lalu Caput bertanya kepada sang peri,
"Apa isi koper besar mu?"
Sang peri tak menjawab ia hanya meletakan kopernya di atas meja belajar Caput membuka tutupnya memperlihatkan tiga kepala di dalamnya.
Yang satunya tampak begitu indah dengan mahkota emas besar dilingkari permata yang
ditaruh diatas kepalanya, yang satunya memberikan nuansa lebih gelap memakai tudung coklat berbahan dasar kulit, yang terakhir tampak jauh lebih konyol dengan afro warna warni campuran merah biru dan kuning.
Caput menatap tiga kepala itu dengan begitu kagum, terutama kepala pertama yang dihiasi dengan mahkota,
"Kepala apa itu? Mahkota besar apa yang ia pakai? peri oh peri aku ingin memakai yang
itu" Tanya Caput kepada sang peri.
"Kepala ini milik sang raja, seorang raja jelas memakai mahkota besar yang indah di atas
kepalanya, apa kau yakin?"
Jawab sang peri, melihat Caput yang tampak bersemangat sang peri tak dapat melawan ia melepaskan sekrup di leher Caput mengganti kepala lama Caput dengan kepala sang raja yang baru.
Alih-alih sempat bercermin menikmati keindahan mahkota emas miliknya tubuh Caput
tersungkur ke atas lantai kamar, lehernya tak kuat mengangkat kepala bermahkota yang begitu berat,
"Peri oh perii!!! Kepala ini terlalu berat untukku, aku tak bisa berdiri menggunakan kepala ini!"
Sang peri memiringkan kepalanya bertanya pada Caput
"kepala ini memang berat karena memikul mahkota yang besar,"
"Lalu jika bukan kepala yang ini? Kepala seperti apa yang ingin kau pakai?"
Caput menunjuk ke arah kepala kedua, masih dengan posisi tubuh yang tak bisa bangun
dari lantai akibat bobot mahkota yang begitu berat.
"Peri oh peri, izinkan aku memakai kepala yang tampak keren dengan tudung itu!"
Ucap Caput, sang peri mengiyakan permintaan Caput melepaskan sekrup pada lehernya kemudian memasang kepala kedua ke leher Caput, kepala kedua memang terasa jauh lebih ringan daripada kepala sang raja.
Namun begitu terkejutnya Caput ketika melihat kamar yang seharusnya menjadi tempat tidur nya yang nyaman berubah menjadi gubuk tua yang reot, kasur yang tak lagi dibuat dari bisa empuk melainkan papan kayu yang hanya dialaskan seprai putih berdebu.
Caput melihat ke arah sang peri yang tampaknya juga kebingungan ketika Caput melihat
ke arah luar ia tidak melihat halaman rumah jalan setapak yang diisi lampu lampu jalan melainkan sebuah hutan belantara dipenuhi pohon pohon lebat.
Tak ada lagi suara kendaraan yang berlalu lalang melainkan suara burung hantu yang berkokok ringan di tengah malam.
Caput memutuskan untuk membiarkan situasi sekarang, setidaknya kepala yang kedua
jauh lebih ringan dan tak lagi mengeluarkan suara
krett..krett…
Namun semuanya menjadi jauh lebih aneh ketika Caput pergi keluar menggunakan kepala yang kedua, ketika ia menyusuri hutan belantara yang lebat Caput tahu bahwa seharusnya tempat ini adalah sebuah trotoar di samping jalan raya.
Ketika ia melihat kucing yang seharusnya tampak menggemaskan di sudut taman kota, kucing itu berubah menjadi macan dengan tatapan ganas yang siap menerkam ia kapan saja.
Caput lari terbirit-birit pulang ke rumahnya kemudian memanggil sang peri untuk yang
kedua kalinya,
"Peri oh peri, kepala yang ini memang keren tetapi membuat sekelilingku menjadi menyeramkan kepala apa ini?"
seruk Caput memanggil manggil peri kepala.
Peri kepala datang kembali dengan koper besarnya seperti sebuah kejutan, ia berkata pada
Caput, "Kepala itu adalah kepala seorang pemburu, pemburu selalu hidup dalam kewaspadaan di hutan yang gelap"
Ucap sang peri sembari terbang berputar putar di sekeliling Caput.
"peri oh peri, aku tidak ingin kepala yang ini, bagaimana dengan kepala dengan afro
warna-warni? kepala apa itu?"
Caput bertanya kepada sang peri penuh rasa heran.
Sang peri kembali membuka koper besarnya seperti sebuah keajaiban,
"Kepala ini adalah kepala seorang badut, badut melihat dunia dengan begitu menyenangkan orang orang juga ikut senang"
Caput mendengarkan penjelasan snag peri begitu detail, Caput terpikir soal teman-teman
nya sudah lama ia punya keinginan untuk membuat teman temannya tertawa lepas
"Peri oh peri izinkan aku memakai kepala yang itu"
Sang peri mengendurkan sekrup pada leher Caput kemudian memasang kepala badut diatas leher Caput dengan seksama.
Benar saja begitu Caput membuka mata, Caput melihat bagaimana seluruh perabotan di
dalam kamarnya kini punya mata dan mulut layaknya manusia mereka tertawa melemparkan lelucon dan bahagia,
Caput menatap mereka dengan bingung sekaligus kagum, ketika memakai kepala badut kemampuan memberikan lelucon Caput menjadi meningkat seluruh perabotan di rumah Caput berliuk liuk tertawa riang.
Caput senang ia akan memakai kepala ini untuk pergi ke sekolah.
Di sekolah Caput dilihat, dari sepanjang lorong orang orang melihat Caput ikut tertawa
ketika mendengar gaya bicara Caput yang terdengar lucu, ketika Caput melakukan sesuatu yang tidak lucu mereka juga ikut tertawa membuat caput heran tetapi Caput tak mempermasalahkannya ia suka ketika teman temannya tertawa dengannya.
Lama kelamaan teman-temannya menjadi aneh disaat Caput tidak sedang mengumandangkan lelucon teman-teman Caput tetap tertawa renyah menunjuk nunjuk ke arah seolah selama ini yang ditertawakan bukan leluconnya tetapi dirinya sebagai badut.
Kepala badut adalah kepala yang Caput gunakan paling lama tetapi selama itu Caput juga
merasa aneh, kepala itu ringan, semua hal tampak begitu lucu dan bahagia di matanya, tak ada juga bunyi-bunyi seperti
krett…krett…
yang keluar saat ia berjalan tetapi tetap menimbulkan pertanyaan kenapa ia merasa tak cocok dengan semuanya.
Karena itu Caput berjalan dengan langkah gontai masuk ke dalam rumahnya, ketika ia
duduk di kasur yang empuk bergelombang penuh tawa Caput menghela napas berkata lirih memanggil sang peri
"peri…oh peri…tolong kembalikan kepalaku.."
Ucap Caput berkali kali memanggil sang peri
"peri..oh..peri…"
berharap kali ini sang peri menjawab panggilannya sekali lagi.
WOSHH!
Sang peri lagi lagi muncul dengan keajaiban dengan koper besar yang sama ia bersandar
pada udara menatap kasihan Caput
"Bukankah kau sendiri yang bilang kau membenci kepala lama mu?"
tanya sang peri penasaran.
"Aku memang membenci kepala lama ku, tetapi sebanyak apapun aku mengganti tak ada
kepala yang benar-benar membuat aku menjadi seperti aku.."
Ucap Caput sembari menghela napas panjang.
Sang peri tersenyum sendu membuka koper besarnya, mengendurkan sekrup pada leher Caput, memasukan kepala badut bersama dua kepala lainnya kemudian memasang kembali kepala lama Caput.
Kali ini sang peri memasang sekrup pada kepala Caput dengan sangat presisi dan ketat
sehingga Caput tak akan lagi merasa longgar.
"Sekrup di leher mu memang longgar Caput, tetapi selama ini kau selalu meminta mengganti kepala mu bukan mengencangkan sekrup lama mu"
bisik sang peri hangat.
Caput terdiam begitu rasa hangat menjalar di sekitar lehernya, kepalanya benar tak lagi
berbunyi krett..krett…
seperti sebelumnya, Caput sadar bahwa selama ini mungkin memang alasan kenapa kepala lamanya selalu berbunyi itu karena Caput tak pernah mengencangkan sekrupnya.
Caput memeriksa wajahnya ia mengendurkan dan mengencangkan alisnya melipat keatas kebawah mulutnya merasa sudah apa Caput tersenyum kali ini tampak jauh lebih ringan.
"Peri oh peri..ini baru kepalaku, terima kasih”
Tamat