seribu surat yang salah mengeja bahagia

seribu surat yang salah mengeja bahagia

cinta bukanlah kata yang dapat ditafsirkan dengan satu arti, karena setiap orang memiliki sudut pandangnya tersendiri tentang cinta. terkadang sekeras apapun usaha yang kita lakukan untuk menafsirkan satu kata cinta, tidak akan mampu melawan takdir yang mengekang.

Seribu Surat Yang Salah Mengeja Bahagia

Untukmu, ini surat ke sembilan ratus sembilan puluh sembilan yang kutulis di umurku yang sudah delapan puluh tahun, kuharap umurku masih sanggup mewujudkan keinginanmu jika akulah orang yang benar benar kau pilih. Benakku seraya melemparkan segulung surat yang telah kuikat dengan jalaran melati ke halaman rumah yang tak berpenghuni. Mataku meraba setiap sudutnya, mengulang kembali memori memori indah yang sebelumnya telah berembun di kepalaku. halaman rumah itu kini telah di banjiri surat surat yang selama ini kukirim untukmu. aku tak peduli orang orang memanggilku gila, dan memarahiku karena terus mengirim surat surat itu kerumahmu setiap kali aku rindu. Asal kau tak marah kepadaku karena tidak melunasi keinginanmu yang meminta seribu surat itu. Sore ini terpaksa kutinggal dirimu yang kaku meringkuk bersama segulung surat jalaran melati baruku, dan melangkah meninggalkan air mataku yang terjatuh menemanimu.

Baru tiga hari berlangsung usai aku mengunjungi rumahmu, namun kau telah memanggil manggilku lewat rasa yang dulu kau ajarkan kepadaku, Rindu. Kuraih pena dengan berlembar-lembar kertas usang di meja, mengingat banyaknya kisah yang ingin kuceritakan padamu, kumulai kisah itu dengan menumpahkan sedikit tinta yang mengukir kalimat.

DEAR EVELYN.

Terima kasih telah menghibur wajah batuku saat kita bersekolah di HBS dulu, disaat yang lain menjauhiku karena status sosialku sebagai pribumi, hanya kaulah noni Belanda yang mau mendekat bahkan menghiburku waktu itu. Rambutmu yang ikal kemerahan, wangi tubuhmu yang seharum melati, juga sikapmu yang ceria dan selalu menghiburku, berhasil membuat hatiku yang sekeras batu pecah dan memancarkan bunga bunga yang menghiasi hari hariku. Meskipun aku belum cukup berani untuk mengekspresikannya kepadamu. Melihat Aku yang bukan siapa siapa di Batavia ini, bukan anak seorang bupati apalagi bangsa kulit putih sepertimu, pastilah keluargamu tidak merestuai jika aku menjalin hubungan denganmu, maaf jika dahulu aku sering mengacuhkan tingkah lakumu yang bertujuan menghiburku. Aku hanya ingin menjadi lulusan HBS yang terpandang agar aku bisa menyetarakan derajatku denganmu lalu aku bebas mengekspresikan cintaku.

Apakah kau masih ingat pertanyaan tak berguna bagiku saat itu, yang kau lontarkan di sela sela waktu belajarku di HBS?.

Salemba, Batavia 1870.

“Eman, jika kamu mencintai seseorang apa yang ingin kau katakan kepadanya?” tanyanya dalam indonesia yang terbata bata.

“menyuruhnya agar ia tak menggangguku saat aku menempuh pendidikan di HBS sampai aku lulus”.

“bagaimana ciri ciri wanita yang kau cintai apakah ia seorang noni?”

“mustahil bagiku untuk mencintai seorang noni, sedang aku bukan orang penting di Batavia”. Jawabku datar. Ingin rasaya aku jujur dan mengatakan bahwa gadis yang di depanku inilah yang kucintai, namun lagi-lagi aku disadarkan oleh kenyataan yang memukulku sebagai seorang pribumi. Wajahnya tampak sedikit murung mendengar jawabanku, namun ia tak pernah melepas senyum manisnya.

“kalau Evelyn, apa yang ingin kamu minta kepada orang yang kamu cintai”. Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Ia merenung mengalihkan pandangannya dariku seraya tersenyum tipis dengan tatapan kosong.

“aku ingin ia selalu berani mencintaiku, lalu aku ingin ia mengirimiku seribu surat yang menceritakan sejauh mana ia bahagia dengan hari harinya tanpa kehadiranku”. Ia menatapku dalam. Aku tahu bahwa itu isyaratnya kepadaku agar aku berani mengungkapkan perasaanku kepadanya tanpa mempedulikan status sosialku, namun aku juga belum berani untuk mengungkapkannya, aku takut hal buruk terjadi jika kami menjalin hubungan ditengah maraknya diskriminasi terhadap pribumi.

Sampai suatu hari aku memberanikan diri mengekspresikan perasaanku padanya setelah kami menerima surat kelulusan dari HBS, sore itu aku mengajaknya ke taman pinggiran kota di Batavia, dan memasangkannya rangkaian mahkota dari jalaran melati yang kubuat sepenuh hati seraya mengatakan “Ik hou heel veel van jou” yang berarti aku mencintaimu dalam Belandaku yang cukup lancar. Ia terkejut dengan wajah yang semringah menatapku cukup lama. Sebelum akhirnya semringah itu berubah panik dan segera menggantikan posisiku berdiri.

Ik hou nog meeer…

Suara ledakan memecah keheningan Batavia sore itu.

Aku menarik nafas panjang. Mengubrak abrik kertas serta tinta yang ada di mejaku sebelum akhirnya aku menangis meraung raung karena rasa bersalah yang tak kunjung pergi dari trauma masalalu.

Paginya aku menulis ulang surat yang ke seribu, menggantikan surat yang kemarin malam kuubrak abrik dengan tinta di atas mejaku, sudah kucoba untuk berhati hati memulainya dengan mengukir kalimat dear evelyn dengan pena, namun selalu kata maaf yang muncul di kepalaku seusai nama evelyn disebut. kuulang terus menerus sampai aku berhasil membelenggu kata maaf di dkepalaku pada surat yang ke dua puluh.

DEAR EVELYN.

Apakah kau telah membaca surat suratku disana, apakah kau bahagia?, ini surat yang ke 1000 kubuat untukmu, kau tahu sejak kau pergi tidak ada lagi orang yang menggangguku belajar, aku belajar dengan tenang sekarang, tenang yang lama lama menghanyutkanku pada kehampaan. Brang!. Aku menjatuhkan wadah tinta, membuat tinta yang di dalamnya tergenang diatas lantai. Kupandangi cukup lama tinta itu yang mengalir di bawah meja. Darah?, Evelyn. ucapku tanpa sadar, pertanda bayangan itu membuka kembali luka dikepalaku.

Salemba, Batavia 1870

Rangkaian melati yang kubuat sepenuh hati itu jatuh bersamaan tubuhnya yang limbung kebelakang, Mataku terbelalak melihat tubuh evelyn berlumuran darah akibat peluru pistol yang bersemayam tepat didadanya.

“Akkkhhh, Jahanam!!!, aku berteriak membopong tubuh evelyn yang terkulai lemas dengan lumuran darah yang mewarnai gaun putih miliknya, berkali-kali kutepuk pipinya agar ia sadar namun ia hanya menjawab dengan ringkihan sakit. Aku menangis sejadi jadinya, membawanya kesana kemari tanpa tahu tujuan yang pasti, bagai orang kehilangan akal sehatnya, sampai akhirnya aku berhenti ketika mendengarnya memanggil namaku dengan nada yang terputus putus, ia tersenyum saat kupandangi wajahnya dengan iba.

“mmeer vvan jou”. Ucapnya terbata bata. Kini lengkaplah sudah kalimat itu menjadi Ik hou nog meer van jou yang berarti aku bahkan lebih mencintaimu. Kalimat indah yang pertama dan terakhir kalinya di dalam hidupku.

Terengap engap aku menarik nafas agar trauma itu lepas menghantui isi kepalaku, namun semakin aku ingin menghilangkannya semakin ia melekat di benakku, aku merasa ada yang salah dan kurang dalam hidupku setiap kali trauma itu menghampiriku, namun aku tak dapat mencerna jelas apa maksud perasaan kurang dan salah yang ingin di sampaikan trauma itu kepadaku. Kugali gali ingatanku sampai akhirnya aku tak kuasa menahannya dan memutuskan tidak menghiraukan kejanggalan itu dengan meminum dua butir obat penenang yang sudah kusiapkan untuk kondisi seperti ini, sampai akhirnya aku dapat bernafas dengan tenang meski tangisku belum juga usai, namun aku tetap terus melanjutkan surat ke seribu agar aku dapat memenuhi keinginan Evelyn, kurangkai kata demi kata seraya menahan rasa sakit di kepala akibat trauma yang terus membayang. Sampai akhirnya sakit itu berkurang seusai aku berhasil menyelesaikan surat ke seribu di tengah malam.

Aku tak mengerti mengapa rasa bersalah yang bersemayam di dalam diriku tak kunjung lepas meski surat ke seribu telah kusampaikan pada tanah yang memeluk Evelyn, rasa gelisah juga bersalah yang membuatku murung ini terus menerus membuntutiku seakan aku belum menyelesaikan apapun selama ini, hingga akhirnya aku mencoba bercerita kepada ahli jiwa untuk pertama kalinya dihidupku, kuceritakan semua masalah dan traumaku padanya yang selama ini menghantui isi kepalaku setiap saat. Membuatnya melontarkan satu pertanyaan kepadaku.

“tuan mengatakan surat ke seribu telah tuan antarkan pada makam Evelyn, berarti tuan telah mengabulkan keinginannya, lantas hal apa yang membuat tuan tidak dapat bahagia sampai sekarang?”.jelasnya dalam belandaelanda.

Suaraku tercekat, dadaku sesak, membuat hening sesaat.

Bahagia. Ucapku pelan dengan tatapan kosong.

“tidak”. Aku menggeleng.

“aku tidak mengabulkan keinginannya, Evelyn ingin menerima seribu surat dari orang yang dicintainya dengan menceritakan kebahagiaan tanpa kehadirannya, bukan kesedihan”.

Download Original File