Harapan dari Jendela

Harapan dari Jendela

Menceritakan seorang tokoh bernama Ezra yang mengidap penyakit Xeroderma pigmentosum (XP). Yaitu kelainan genetik langka yang ditandai dengan sensitivitas ekstrem terhadap sinar ultraviolet (UV), menyebabkan kerusakan kulit yang parah. Akibatnya, ia tidak bisa keluar rumah dan merasakan bagaimana suasana di luar sana. Akankah Ezra bisa menjalani hidupnya dengan semua keterbatasan itu? Atau ada plot menarik lain yang disajikan dalam cerita ini?

Harapan dari Jendela

Bagaimana sensasi dinginnya salju di luar sana? Bagaimana rasa teriknya mentari kala musim panas? Atau, bagaimana indahnya pemandangan daun jatuh berguguran di musim gugur? Semuanya hanyalah bayangan yang ada di benakku, karena sejak kecil, dunia luar bagaikan dimensi lain yang tidak boleh aku pijaki.

Perkenalkan, namaku Ezra. Aku sudah terbiasa hidup sebagai pengidap penyakit langka yang membuatku tak berkutik melawan matahari, sebentar saja aku terpapar sinarnya, bisa menyebabkan luka serius. Dokter menyebutnya Xeroderma pigmentosum (XP), yaitu kelainan genetik langka yang ditandai dengan sensitivitas ekstrem terhadap sinar ultraviolet (UV), menyebabkan kerusakan kulit yang parah. Seseorang dengan penyakit sepertiku akan mengalami penurunan kemampuan untuk memperbaiki kerusakan DNA karena radiasi UV, yang dapat mengakibatkan gejala seperti bintik-bintik di area yang terkena sinar matahari, kulit kering, dan peningkatan risiko kanker kulit.

Saat dokter memberi tahu kondisiku, betapa tak berdayanya kedua orang tuaku mendengar kabar itu. Sikap mereka berubah menjadi over protektif. Ya, orang-orang biasa menyebutnya strict parents. Aku selalu terkurung dalam rumah bak burung dalam sangkarnya. Dimulai dari homeschooling, jendela rumah yang dilapisi filter UV sampai stok tabir surya yang tak ada habisnya, karena meski tak keluar, aku wajib memakainya setiap hari. Tak lupa dengan kunjungan rutin dokter Ann untuk memeriksa keadaanku secara berkala. Muak, namun aku tahu, ini adalah cara mereka melindungiku. Maafkan aku Ayah, Ibu, aku pun tak ingin seperti ini.

Hari-hariku berjalan seperti radio rusak yang selalu memutar lagu yang sama berulang kali, membosankan. Belajar saat pagi dan siang, sesekali menggambar atau main game di konsol, saat malam hari pun, aku hanya diizinkan keluar sebatas di halaman saja. Lalu apa lagi? Tuhan, tolonglah, beri aku keajaibanmu.

Sampai akhirnya, aku bertemu dengannya. Pertemuan kami diawali dengan ketidaksengajaan. Entah apa yang di benakku pada sore itu, aku mencoba diam-diam membuka jendela kamarku, tiba-tiba pesawat kertas melesat masuk ke kamarku lewat jendela. Dan di seberang sana, aku melihatnya, matanya yang berwarna coklat masih memancarkan binar ceria meski lelah berlari seharian, rambut jagungnya yang dikuncir berantakan seolah-olah memberi tahu seberapa sering ia bermain dan terkena terik matahari, pun dengan warna kulitnya yang agak kecokelatan. ‘Jadi dia enak ya, bisa bebas main keluar. Coba aku jadi dia’ gumamku dalam hati.

“Maaf mengganggu, tapi… aku boleh izin ambil pesawat kertasku? Maaf yaa sudah ngeganggu” suaranya memecah lamunanku.

Aku beranjak dari meja belajarku dan mengambil pesawat kertas yang jatuh di lantai, “Oh, boleh kok, ini”

Sejenak ia menatapku kebingungan, “Makasih yaa, eh kok aku baru liat kamu?,” Ia terlihat seperti sedang menerka-nerka sesuatu “kamu baru pindah kesini ya?”

Aku tertawa sejenak mendengar pertanyaannya, “Ahaha, engga kok aku bukan pindahan. Cuma aku memang ga pernah keluar rumah aja.” Jawabku.

Ia memiringkan kepalanya, “Kok bisaa? Memang kamu gak bosen di kamar terus?” Bagi orang sepertinya, pasti tersiksa sekali jika harus terkurung di kamar meski itu hanya satu hari.

Aku menghela nafas sejenak sebelum menjelaskan kondisiku. Ini akan menjadi penjelasan yang panjang, batinku. Anehnya, kupikir ia tidak akan tertarik mendengar ceritaku yang membosankan itu, namun ia malah fokus sekali menyimakku, masih dengan mata berbinar yang tak pernah pudar. Di akhir cerita, ia mengajakku berteman dan berjanji akan selalu ke jendelaku untuk saling berbagi cerita. Arunika namanya, gadis kecil ceria yang mudah berteman dengan siapa saja meski itu orang baru sekali pun, seperti diriku.

Hari-hariku yang membosankan berubah semenjak kehadirannya, jendela kala itu menjadi spot favoritku menunggu ia hadir membawakan cerita tentang dunianya, sesekali ia membawakan gambar, foto, ataupun benda-benda baru yang ia dapatkan dari luar. Pernah saat itu ia membawakanku satu ember kecil berisi salju sebagai mainan kami saat musim dingin, atau memberiku scrapbook koleksi daun dan bunga yang ia kumpulkan selama musim semi dan gugur. Cukup untuk mengobati rasa penasaranku tentang suasana di sana. Sepertinya Tuhan menjawab doaku.

Seiring waktu berlalu, aku sudah menerima keadaanku yang seperti ini. Arunika telah membantuku untuk belajar arti bersyukur dan ikhlas menjalani apa yang ada. Dan pada malam musim panas ini, tiba-tiba ia mengajakku keluar. Mustahil, ucapku. Namun ia bersikeras dan bilang akan memintakan izin supaya aku bisa keluar rumah pada malam ini. Ajaib, orang tuaku mengizinkanku, entah kata-kata apa yang ia sampaikan. Sudahlah, bukankah ini kabar baik? Akhirnya aku bisa keluar dari penjara berkedok rumah itu. Tapi… Hei, ke mana ia akan membawaku pergi?

Setelah beberapa menit kami berlari, akhirnya kami berhenti di bukit dekat rumahku. “Akhirnyaa. Eh, maaf ya aku tiba-tiba maksa ajak kamu keluar, aku… Cuma mau nunjukin pemandangan itu.” Ucapnya sambil menunjuk langit malam di atas sana. Aku terkesiap, hamparan awan yang seperti semburat cahaya biru itu bersinar terang di tengah malam yang sunyi. Meski matahari sudah tak terlihat, awan itu tetap memancarkan pesonanya, sinarnya menyerupai jejak sutra halus terbentang di angkasa yang sangat tinggi. Sungguh pemandangan yang terasa seperti mimpi.

“Itu namanya awan noktilusen, awan bercahaya yang cuma bisa diliat waktu malam musim panas.” Jelasnya, dengan pandangan yang tak lepas dari langit. “Mungkin kamu gak bisa keluar rumah dan ngerasain gimana rasanya semua suasana musim di luar sana, tapi setidaknya kali ini kita bisa liat pemandangan seindah malam hari di musim panas ini, bagus kann?”

Aku mengangguk dan tersenyum, “Makasih ya Aru, udah ngajak aku liat pemandangan seindah ini”

Ia berbalik menatapku, tapi dengan tatapan yang sulit kutafsirkan. “Sebenernya aku mau pamit sama kamu. Besok, aku bakal pindah dari sini, orang tuaku mendapatkan promosi kerja dan harus pindah ke kantor pusat. Aku pikir ini waktu yang tepat untuk mengucapkan salam perpisahan. Maaf ya kalo selama ini aku belum bisa jadi sahabat yang baik buat kamu. Kenangan di bawah langit malam ini, bakal terus aku ingat sebagai momen terindah kita.”

Aku terkejut, jadi ini alasan ia tiba-tiba mengajakku keluar sampai mati-matian meminta izin kepada orang tuaku. Sedih? Tentu saja, tapi apa boleh buat, people come and go katanya. Siklus seperti ini pasti akan sering terjadi. “Nggak Aru, kamu gak perlu minta maaf, kamu udah jadi satu-satunya sahabat terbaikku. Makasih yaa buat semua waktu yang udah kamu habiskan cuma untuk buat aku mengerti tentang dunia di luar sana. Jangan lupain aku ya, Aru.” Itu adalah kata terakhirku sebelum berpisah dengannya. Karena esoknya, dini hari sekali sebelum aku bangun, ia sudah pergi meninggalkan kota ini.

Bohong jika aku bisa menjalani hari-hariku seperti biasa setelah kepindahannya. Jendela yang selama 4 tahun ini terbuka lebar kembali tertutup seperti awal aku tak mengenalnya. Sesekali aku mengisi lembar kosong scrapbook pemberiannya, meski tak bisa melanjutkan koleksi tanamannya, aku masih bisa menggantinya dengan menggambar pemandangan yang kulihat dari jendela. Melihat aku yang semakin menutup diri, orang tuaku pun sekarang mengizinkanku keluar malam saat musim panas. Dan itulah rutinitas yang aku lakukan setiap musim panas sampai sekarang.

Waktu perlahan berlalu menghapus luka kekosonganku. Tak terasa sudah 10 tahun semenjak perpisahan itu, usiaku sudah 22 tahun. Aku bekerja sebagai komikus sekarang, cocok dengan kondisiku yang tidak bisa keluar rumah. Secangkir kopi dan layar tablet sudah menjadi temanku melewati hari-hari sibuk mengejar deadline yang tak ada habisnya itu.

Dalam pengerjaan komikku yang keempat ini, entah mengapa aku merasa buntu. Aku terdiam memikirkan bagaimana caranya memulai bab awal dari proyekku. Rasanya ide-ide dalam kepalaku telah habis terpakai di tiga karya sebelumnya, berkali-kali aku menggoreskan pena di kanvas dan menghapusnya lagi. Kemana perginya imajinasiku yang dulu begitu mudah mengalir itu? Di tengah lamunanku, suara benturan kecil datang mengalihkan atensiku.

Tuk!

Sepertinya ada sesuatu yang menabrak jendela. Aku beranjak dari meja kerjaku untuk memeriksa benda apakah gerangan yang telah menimbulkan suara dan menghancurkan lamunanku di kala sore itu.

Aku terperanjat, jantungku berhenti sejenak, ternyata benda itu adalah pesawat kertas. Namun fokusku tertuju pada jalan di seberang sana, rasanya persis seperti pertemuan pertama kami. Penampilannya tak banyak berubah, masih dengan binar mata yang sama dan senyum cerianya, hanya garis wajahnya kini tampak lebih tegas dan dewasa. Rambutnya yang dulu sering berantakan kini tertata lebih rapi dan elegan. Perlahan kenangan 10 tahun lalu mulai merasuki otakku, tentang pertemuan pertama kami, hari-hariku yang penuh warna bersamanya, sampai perpisahan di bawah langit malam itu.

“Maaf mengganggu, tapi… aku boleh izin ambil pesawat kertasku? Maaf yaa sudah ngeganggu” Ucapnya, sengaja sekali ia menirukan kata-kata yang sama saat awal kami bertemu.

Lidahku kelu untuk menjawabnya, seakan terbelenggu oleh ribuan kata yang mendadak berhenti di tenggorokan. “A-aru?” Dari banyaknya kalimat yang aku siapkan jika suatu saat bertemu kembali dengannya, pada akhirnya lidahku hanya mampu mengeja tiga huruf nama panggilannya.

Ia tersenyum, “Iya Ezra. Ini aku, Aru.”

***

Download Original File