Sebuah puisi kontemplatif bilingual yang mengeksplorasi labirin pikiran akibat overthinking dan prasangka. Karya ini menyoroti ironi kecemasan modern, di mana musuh terbesar seseorang sering kali adalah dunia yang mereka ciptakan sendiri di dalam kepala.
Overthinking Syndrome
Aku tak pernah benar-benar mengerti,mengapa kau begitu lihaimengkalkulasikan kemungkinan terburuk,seolah the worst scenarioadalah satu-satunya realitas.
Kau menyebutnya being realistic,padahal yang kau rawathanyalah prasangkayang menyamar menjadi logika.
Seseorang terlambat membalas pesan,"They don't care about me."
Seseorang lupa menyapamu,"They must hate me."
Mereka tertawa di belakangmu,"They're talking about me."
Mereka diam ketika kamu bercerita,"I'm not worth listening to."
Mereka sibuk dengan urusan mereka tanpa memperhatikanmu,"I've been replaced."
Padahal,tidak semua jeda adalah penolakan,tidak semua diam adalah kebencian,dan tidak semua tawaditujukan kepadamu.
Ironisnya…
Kau ingin didengar,tetapi tak pernah benar-benar mendengarkan.
Kau ingin dimengerti,tetapi terlalu cepatmenyalahartikan orang lain.
Kau ingin dihargai,namun lupabahwa respect goes both ways.
Kau menuntut kepercayaan,sementara setiap ketulusanselalu kau ragukan.
Kau meminta orang lain untukselalu memahami isi hatimu,tetapi kau tak pernah mencoba untukmemahami isi hati mereka.
Maybe…
bukan duniayang terlalu sering mengecewakanmu.
Mungkin perspektifmuyang terlalu terbiasamencari celah untuk terluka.
Kau sibukmenghitung probabilitas luka,hingga lupabahwa kebaikanjuga memiliki kemungkinan.
Not everyone is against you.
Tidak semua orangsedang menghakimimu.
Tidak semua keheninganadalah penolakan.
Tidak semua jarakberarti kehilangan.
Dan tidak semua orangmemiliki niat burukseperti yang kaubayangkan.
Sebab prasangkatak pernah benar-benar melindungi.
Ia hanya membangunsebuah labirinyang kauanggap sebagai rumah,lalu membiarkanmutersesat di dalamnya.
Think twice.Feel less, understand more.Karena terkadang,musuh terbesarbukanlah dunia yang kaulihat,
melainkan duniayang kaubentukdi dalam kepalamu sendiri.