Bapak polah anak kepradah.
Takdir berkata bahwa Tuhan menitipkan bait-bait indah ketetapan-Nya melalui dirinya. Saat belia, Sagara percaya akan keindahan perjalanan hidup–setidaknya begitu–bersama ayahnya. Berliku-liku kehidupan terasa ringan jika dijalani dan direnungi maknanya bersama dengan keluarga tersayang. Termasuk saat terjadi perampasan harga diri kaum petani oleh para borjuis pemilik tambang. Segala itu mengantarkan rasa percaya dalam diri Sagara bahwa memang hidupnya ditulis seindah demikian oleh Tuhan.
Hingga semuanya surut begitu saja. Perbedaan jalan pikir memutus takdir indah keluarga yang ada dalam diri Sagara. Kelokan takdir segera tercipta setelahnya dan menghilangkan ke-TIGA hal krusial di dalam hidupnya.
Hilang Tiga