Cerpen ini menceritakan tentang seorang remaja yang tanpa sengaja menemukan perpustakaan tua ajaib di Trowulan yang menyimpan arsip dan ingatan Majapahit, hingga ia dipertemukan dengan Buku Tamu yang mengajukan sebuah pertanyaan dan ia belajar bahwa literasi dan budaya bukan sekadar tulisan di atas kertas, tetapi jembatan yang menjaga agar kisah-kisah masa lalu tetap terjaga hingga kini.
Ingatan Hujan
Oleh: Daffa Yuzriyah Egityantoko
Langit di atas Trowulan selalu tampak lebih tua ketika hujan turun. Barangkali karena bata-bata merah peninggalan Majapahit menjadi lebih gelap setelah diguyur air, seolah menyimpan cerita yang enggan hanyut bersama waktu. Aksa tidak pernah benar-benar memikirkannya. Baginya, hujan hanya membuat perjalanan pulang dari sekolah menjadi lebih lambat.
Sore itu, langkahnya terhenti. Di antara toko fotokopi dan kios bunga yang sudah dikenalnya bertahun-tahun, berdiri sebuah bangunan beratap limasan dengan dinding bata merah yang basah oleh hujan. Tanaman merambat menjuntai di sepanjang kusennya, sementara sebuah papan kayu tua bergoyang pelan diterpa angin. Aksa mengernyit, ia hafal Jalan Kenanga di luar kepala, hafal letak setiap toko, retakan trotoar, bahkan pohon asam yang akarnya mulai mengangkat paving di tikungan. Namun bangunan itu, ia yakin belum pernah ada di sana.
Hujan turun semakin deras. Beberapa pengendara berhenti untuk berteduh, tetapi tak seorang pun melirik bangunan itu. Seolah-olah keberadaannya sama biasa dengan hujan sore. Aksa menatap papan kayu yang tulisannya mulai pudar dimakan usia. Ia melangkah lebih dekat. Setetes air jatuh dari ujung atap tepat ketika ia berhasil mengeja huruf terakhir. PUSTAKA MANDALA.
Entah mengapa, dadanya berdebar. Bukan karena takut. Melainkan karena perasaan aneh yang sulit dijelaskan, seolah ada sesuatu yang telah mengenal namanya jauh sebelum ia datang. Pintu kayu itu sedikit terbuka. Dari celahnya mengalir aroma yang asing sekaligus akrab. Bukan sekadar bau buku tua, melainkan wangi daun lontar yang mengering, kayu cendana, dan tanah yang baru saja diguyur hujan. Aksa mengangkat tangan, ragu-ragu mengetuk.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban, ia menunggu beberapa detik. Dengan hati-hati ia mendorong pintu itu. Suara engsel tua berderit pelan. Ruangan di dalamnya jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar. Rak-rak kayu menjulang hingga hampir menyentuh langit-langit. Sebagian dipenuhi buku bersampul kulit, sebagian lagi menyimpan gulungan lontar yang diikat benang merah. Di sudut ruangan berdiri lemari kaca berisi prasasti-prasasti kecil, sementara lampu gantung kuningan memancarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan terasa hangat. Tidak ada seorang pun.
“Halo?” Suara Aksa tenggelam di antara rak-rak. Tak lama kemudian, ting… Sebuah bel kecil dari arah meja baca di tengah ruangan. Aksa menoleh. Bel itu masih bergoyang pelan, seolah baru saja disentuh seseorang. Padahal tak ada siapa-siapa. Napasnya tertahan sesaat.
“Bel itu tidak pernah berbunyi kalau angin yang datang.”
Suara berat itu muncul dari belakangnya. Aksa terkejut hingga hampir menjatuhkan tasnya. Seorang lelaki tua berdiri beberapa langkah darinya. Rambutnya telah memutih seluruhnya, tetapi matanya jernih. Ia mengenakan beskap sederhana berwarna gelap dengan kain batik yang dililit rapi di pinggang. Di tangan kirinya tergenggam sehelai kain yang tampaknya telah lama digunakan untuk membersihkan debu buku.
“Lalu siapa yang membunyikannya?” tanya Aksa pelan.
Lelaki tua itu tersenyum tipis. “Seorang tamu.”
“Tapi saya tidak melihat siapa pun."
“Karena tamu itu adalah kamu.” Aksa terdiam.
Lelaki tua itu berjalan mendekati meja, mengembalikan bel kecil ke tempatnya. “Selamat datang di Pustaka Mandala.” Aksa mengangguk pelan.
“Aku hanya penjaganya.”
Penjaga itu berjalan perlahan menuju meja kayu di sudut ruangan. Dari laci yang telah kusam dimakan usia, ia mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit cokelat tua. Sudut-sudutnya mulai mengelupas, tetapi permukaannya tetap terawat seolah selalu disentuh dengan hati-hati. Ia meletakkannya tepat di hadapan Aksa.
“Silakan isi.”
Aksa membuka halaman pertama. Keningnya berkerut. Tidak ada kolom nama, tidak ada alamat, tidak ada tanda tangan seperti buku tamu pada umumnya. Di tengah halaman kosong itu hanya tertulis satu kalimat dengan tinta hitam yang tampak masih baru “Cerita apa yang membawamu kemari?”
Aksa mengangkat wajahnya. “Saya tidak mengerti.”
Penjaga hanya tersenyum tipis. Senyum yang membuat kerutan di wajahnya terlihat semakin dalam.
“Kalau begitu, mungkin memang belum saatnya kau menjawab.” Ia menutup buku itu perlahan.
“Tidak semua orang datang ke sini karena tahu apa yang sedang mereka cari. Kadang, mereka baru memahaminya setelah pulang.”
Aksa masih memandangi sampul buku itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perpustakaan ini bukan tempat untuk mencari jawaban. Melainkan tempat yang mengajarkan bahwa setiap jawaban selalu lahir dari sebuah pertanyaan.
Rak-rak tinggi menjulang hampir menyentuh langit-langit. Buku-buku tersusun rapi dengan ukuran, warna, dan bentuk yang berbeda-beda. Sebagian tampak baru, sebagian lain terlihat begitu tua hingga sampulnya mulai memudar. Aksa berjalan perlahan di antara lorong-lorong rak. Tangannya berhenti pada sebuah buku bersampul cokelat yang menarik perhatiannya. Ia mengulurkan tangan. Belum sempat ujung jarinya menyentuh sampul buku itu. Sebuah buku lain yang terbungkus kain biru tua meluncur pelan dari rak paling atas. Tidak jatuh dengan suara keras. Buku itu seolah sengaja diletakkan tepat di hadapannya. Aksa terkejut dan memungutnya. Kain pembungkusnya terasa hangat, seakan baru saja dipegang seseorang.
“Kenapa bisa jatuh sendiri?” gumamnya.
Penjaga yang sejak tadi berdiri di balik meja hanya berkata, “Jangan memilih buku.”
Aksa menoleh. “Biarkan bukunya memilihmu.”
“Memangnya buku bisa memilih?”
“Lebih sering daripada manusia mau mengakuinya.”
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara hujan yang mengetuk jendela-jendela kayu, seolah ikut menyetujui perkataan itu.
Perlahan, Aksa membuka kain biru yang membungkus buku itu. Di baliknya tersimpan sebuah naskah lontar yang telah menguning dimakan usia. Permukaannya dipenuhi aksara Jawa Kuno yang tersusun rapi. Saat halaman pertama dibuka denting gamelan mengalun pelan dari kejauhan. Disusul bunyi pahat yang memukul batu, suara langkah kaki, percakapan yang samar. Lalu aroma kayu cendana memenuhi udara, bercampur wangi tanah yang baru saja tersiram hujan. Huruf-huruf Jawa Kuno di atas daun lontar mulai bergerak perlahan. Bergeser lembut seperti dedaunan yang tertiup angin. Satu demi satu berubah menjadi kalimat yang dapat dipahami Aksa.
Tubuhnya masih berada di perpustakaan. Namun pikirannya seperti berdiri di ambang sebuah ingatan yang sangat tua. Di hadapannya terbentang halaman Trowulan. Orang-orang berjalan mengenakan kain panjang. Beberapa perempuan sedang menjemur daun lontar. Anak-anak membawa kendi tanah liat. Para penulis duduk bersila, menggoreskan pisau kecil di atas lembaran lontar dengan penuh ketelitian. Di bawah pendapa kayu, seorang mpu tua mengajari murid-muridnya.
Dengan suara tenang ia berkata, “Kerajaan akan runtuh. Tetapi cerita tidak boleh ikut runtuh.”
Seorang murid mengangkat kepala. “Lalu siapa yang akan menjaganya, Guru?”
Sang mpu tersenyum. “Mereka yang bahkan belum lahir.”
Kalimat itu membuat dada Aksa menghangat. Perlahan, pemandangan di hadapannya memudar. Suara gamelan menjauh, disusul aroma cendana yang menghilang sedikit demi sedikit. Ketika ia menutup halaman terakhir, perpustakaan kembali sunyi. Hanya suara hujan yang masih setia turun di luar jendela. Namun kalimat sang mpu terus bergema di dalam benaknya. “Kerajaan akan runtuh. Tetapi cerita tidak boleh ikut runtuh.”
***
Sejak hari itu, Aksa selalu berharap hujan turun. Setiap kali langit mulai mendung, langkahnya akan mengarah ke jalan kecil menuju Pustaka Mandala. Ia membaca kisah demi kisah, tentang kerajaan, pelaut, pedagang, hingga rakyat biasa yang namanya tidak pernah tercatat dalam buku sejarah. Semakin banyak membaca, semakin ia sadar bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan nama raja. Sejarah adalah kehidupan yang diwariskan melalui cerita.
Namun suatu hari musim berubah. Langit menjadi cerah. Hujan berhenti turun, tapi Aksa tetap datang ke tempat yang sama. Namun yang ia temukan hanyalah tanah kosong yang ditumbuhi ilalang. Seolah perpustakaan itu tak pernah ada. Ia berdiri cukup lama di sana. Angin sore berembus pelan, menggerakkan rerumputan liar yang tumbuh di atas tanah. Barangkali semua itu hanya mimpi, pikirnya. Namun sesekali aroma cendana masih tercium di antara embusan angin, membuatnya ragu untuk mempercayai pikirannya sendiri. Aksa akhirnya berbalik dan melangkah pulang. Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan sebuah tempat yang bahkan tak pernah bisa ia buktikan keberadaannya kepada siapa pun.
Hari-hari berlalu, tapi Aksa tetap memikirkan perpustakaan itu. Suatu sore ia mengikuti kegiatan di kawasan Trowulan. Bersama beberapa temannya, ia membantu membersihkan area situs sambil mendengarkan penjelasan seorang pemandu. Di dekat sebuah gapura bata merah, seorang anak kecil menarik ujung baju ayahnya.
“Yah, ini dulu rumah siapa?”
Ayahnya menggeleng pelan. “Ayah juga tidak tahu.”
Pertanyaan sederhana itu membuat Aksa terdiam. Begitu banyak orang melintasi jejak sejarah setiap hari, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mengenalnya. Bata-bata merah itu tetap berdiri, sementara cerita yang pernah hidup di antaranya perlahan memudar dari ingatan banyak orang. Saat itulah ia teringat ucapan penjaga.
“Perpustakaan tidak menunggu hujan.”
Ia sempat bertanya dalam hati, “Lalu menunggu apa?”
Kini ia mengerti. Yang ditunggu bukanlah hujan. Melainkan seseorang yang masih mau menjaga cerita agar tidak ikut hilang bersama waktu. Dan untuk pertama kalinya, Aksa tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak perlu mencari perpustakaan itu lagi. Ia harus menjadi alasan perpustakaan itu tetap ada.
***
Beberapa minggu kemudian, Aksa mengajak teman-temannya mengadakan sebuah pameran kecil di kawasan Trowulan. Mereka meminjam beberapa meja kayu. Menghiasnya dengan foto-foto peninggalan Majapahit. Menyusun buku-buku sejarah. Menampilkan drama pendek tentang kehidupan pada masa kerajaan. Di sudut lain, beberapa siswa membacakan cerita rakyat dan kutipan dari naskah kuno. Awalnya hanya sedikit orang yang datang. Namun perlahan, anak-anak mulai berkumpul. Mereka duduk di atas tikar sambil mendengarkan dengan mata berbinar. Seorang ibu berhenti di tengah perjalanan pulang dan ikut menyimak. Seorang kakek tersenyum pelan ketika mendengar kisah yang pernah diceritakan kakeknya dahulu.
Saat pembacaan cerita mencapai kalimat terakhir, langit yang sejak pagi cerah berubah mendung. Setitik air jatuh di atas bata merah. Rintik hujan turun perlahan. Seolah langit sedang ikut mendengarkan. Aksa mendongak, tanpa sadar ia tersenyum. Entah mengapa, Aksa merasa sebuah pintu baru saja terbuka. Di bawah rintik hujan, Aksa kembali menyusuri jalan kecil yang telah begitu dikenalnya. Di ujung jalan itu, bangunan tua dengan dinding kayu kembali berdiri. Bel kecil di atas pintunya bergoyang pelan ketika ia masuk. Rak-rak buku tampak lebih penuh daripada sebelumnya. Beberapa buku yang dulu belum pernah ia lihat kini tersusun rapi di sana. Penjaga berdiri di tempat yang sama. Seolah waktu tidak pernah bergerak.
“Lihat.” Ia menunjuk rak paling ujung.
Di sana terdapat sebuah buku baru. Sampulnya masih polos, belum bergambar, belum berwarna. Hanya ada satu tulisan di punggungnya. AKSARA MAHENDRA. Aksa terdiam.
“Aku belum pernah menulis buku.”
Penjaga tersenyum. “Kau sudah.”
“Lewat apa?”
“Lewat cerita yang kau hidupkan kembali.”
Aksa memandangi buku itu cukup lama. Ia mulai memahami bahwa tidak semua buku ditulis dengan pena. Sebagian ditulis melalui tindakan. Melalui orang-orang yang memilih menjaga ingatan agar tidak hilang. Penjaga kemudian mengeluarkan sebuah kunci tua dari balik mejanya. Logamnya telah kusam, tapi bentuknya masih kokoh. Ia meletakkannya di telapak tangan Aksa.
“Suatu hari nanti akan ada anak lain yang berdiri di depan pintu ini ketika hujan turun.”
Aksa menggenggam kunci itu. “Dan kalau hari itu tiba?”
Penjaga memandang hujan di luar jendela. “Jangan memilihkan buku untuknya.”
Aksa mengangguk pelan. Penjaga melanjutkan, “Biarkan bukunya yang memilih.”
Tak lama kemudian… Ting… Bel kecil di atas pintu berbunyi dan Aksa menoleh. Di depan pintu berdiri seorang anak perempuan berseragam SMP. Rambutnya basah oleh hujan. Napasnya masih tersengal, seolah ia berlari untuk mencari tempat berteduh. Tatapannya dipenuhi kebingungan. Persis seperti dirinya dulu. Aksa tersenyum kecil. Ia melangkah mendekati pintu, membukanya lebar, lalu mempersilakan gadis itu masuk.
“Selamat datang.”
Di luar, hujan masih turun pelan di atas bata-bata merah Trowulan. Air mengalir di sela-selanya, membawa aroma tanah yang sama seperti hari ketika Aksa pertama kali menemukan Pustaka Mandala. Seperti hujan yang selalu menemukan jalan pulangnya, setiap cerita pun akan menemukan pembacanya.
— TAMAT —