Maroon saksi mimpi Jingga,Si disleksia visual yang bercita-cita menjadi seorang desainer

Maroon saksi mimpi Jingga,Si disleksia visual yang bercita-cita menjadi seorang desainer

Maroon, Saksi Mimpi Jingga mengisahkan perjuangan Jingga, seorang penyandang disleksia visual yang bercita-cita menjadi desainer, mimpi yang tampak bercampur dengan keterbatasannya. Di tengah keraguan dan stigma, ia membuktikan bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk meraih impian. Bunga mawar tidak perlu mekar seperti bunga matahari untuk tetap indah setiap orang bersinar dengan keunikan dan berputar masing-masing.

MAROON SAKSI MIMPI JINGGA, SI DISLEKSIA VISUAL YANG BERCITA-CITA MENJADI SEORANG DESAINER

Di suatu sekolah menengah atas, saat senja mulai menyapa dan lorong-lorong sekolah perlahan lengang, selalu menjadi waktu paling sunyi bagi Jingga, seorang siswi berusia 17 tahun yang hidup berdampingan dengan disleksia visual dan bercita-cita menjadi seorang desainer. Ketika dunia mulai memejamkan mata, hanya ada satu teman yang setia mendengarkan seluruh keluh kesahnya, sebuah buku harian bersampul merah tua yang ia beri nama Maroon. Ketika bel pulang sekolah menggema, senja perlahan menumpahkan semburat keemasan di ufuk barat, langit seolah sedang melukis kanvasnya dengan sapuan kuas terakhir sebelum malam tiba. Lorong-lorong sekolah mulai lengang, Di sudut ruangan seni itulah Jingga selalu menghabiskan waktu sepulang sekolah, ditemani Maroon.

Berbagai mimpi berterbangan di pikiran, Bagai laksana kawanan burung yang tak pernah lelah mengepakkan sayap menuju langit yang luas. Satu per satu mimpi itu ia titipkan pada lembaran-lembaran hariannya Si Maroon.Diary kecilnya itu, setiap sore. Maroon tak pernah menghakimi, tak pernah memotong cerita, dan tak pernah bosan mendengarkan setiap kalimat yang Jingga tuliskan. Bagi Jingga, Maroon bukan sekadar buku harian, melainkan seorang sahabat yang selalu hadir untuk menampung harapan, keraguan, dan mimpi-mimpi yang belum sempat ia suarakan kepada dunia.

Setiap sore, Jingga kembali membuka Maroon, diary bersampul cokelat tua yang selalu setia mendengarkan isi kepalanya. Di hadapan halaman kosong itu, ia mulai menuliskan mimpi-mimpinya yang tak pernah berani ia ucapkan kepada siapa pun.

Jingga : “Aku ingin menjadi seorang desainer, Maroon…..!! Aku ingin membuat warna bisa bercerita. Aku ingin membuktikan kepada dunia bahwa Disleksia bukanlah penghalang segalanya”

Ucapan jingga sore itu kepada diary nya Maroon, dengan ambisi yang mengejolak di dada.

Maroon : “Kalau begitu, jangan berhenti mendesain …Ayo buka kanvas elektronik mu itu Jingga ! Mimpi hanya benar-benar hilang saat pemiliknya berhenti memperjuangkannya.”

Kata-kata itu terasa begitu nyata dihati Jingga pada saat ia bercerita pada maroon sibuku diary nya itu.

Keesokan harinya, guru seni memberikan tugas membuat poster digital. Jingga dengan semangat mulai membuka kanvas elektroniknya ,Menarik dan memegang mouse yang ada di hadapanya dengan penuh semangat. Namun, ketika ia mulai menyusun warna dan tata letak, huruf-huruf petunjuk di layar tampak saling bertukar tempat. Mata sulit membedakan bentuk dan arah. Ia salah membaca instruksi sehingga hasil desainnya terasa hancur.

Diruang kelas yang awalnya sunyi itupun mulai terdengar Beberapa teman-temannya yang mulai berbisik dari sudut kelasnya.

“Disleksia visual kok mau bikin desain?”

“Baca instruksi saja susah.”

Suara tawa mereka terdengar lebih nyaring daripada suara klik mouse di ruang komputer.

Sepulang sekolah, Jingga kembali membuka Maroon. Jingga mencari penanya ia mulai menulis dan bercerita kepada Maroon

JIngga: “Benarkah ya? Mungkin aku memang tidak pantas bermimpi sejauh ini.” Dengan nada putus asa jingga bercerita pada maroon

Maroon seolah menjawab dari balik lembarannya.

Maroon : “Yang mereka lihat adalah keterbatasanmu. Yang harus kamu tunjukkan adalah kemampuanmu. Jangan izinkan pendapat orang lain menggambar masa depanmu Maroon !! .”

Hari-hari berlalu. Setiap kali Jingga mencoba bangkit, Kerap ada saja yang meragukannya.Hal itu terasa bak peluru yang selalu menghantam dadanya saat ia mencoba untuk pulih dan bangkit.

Keesokan paginya, ketika jingga ingin membuka Maroon, sebuah poster kecil terselip di antara halamannya.

LOMBA DESAIN TINGKAT NASIONAL (KATEGORI DISABILITAS).

Jingga memandang poster itu cukup lama.

Jingga : “Menurutmu… aku harus mencoba?”

Ucapnya kepada Maroon.

Maroon : “Bukan poster itu datang kepadamu, Jingga. Kesempatanlah yang sedang mengetuk pintumu.”

Dengan tangan gemetar, Jingga mulai mengerjakan desainnya. Ia menuangkan seluruh perasaannya ke dalam warna, garis, dan bentuk. Berhari-hari ia menyempurnakan karya itu hingga akhirnya menekan tombol

Kirim.

LUSA Telah tibaa….

Sejak fajar terbit di balik jendela ruangan, dada Jingga dipenuhi gelombang yang tak mampu ia beri nama. Jemarinya bergetar ketika membuka layar ponsel. Hari itu adalah hari yang selama berminggu-minggu ia menunggu, Pengumuman Lomba Desain Nasional Kategori Disabilitas.

Jingga : “Bagaimana kalau namaku tidak ada?”

Ucapnya Jingga bagian Maroon

Maroon, di atas meja, seolah ikut menatap layar yang sama.

Jingga menarik napas panjang, lalu menekan tombol pengumuman. Daftar nama peserta perlahan bergulir.

“Juara Pertama Lomba Desain Nasional Kategori Disabilitas”…

“Jingga….”

Tepuk tangan bergemuruh. Guru dan teman-temannya berdiri memberikan selamat. Maroon berada di pelukannya.

Tiba-tiba…

“Jingga!”

Suara gurunya membangunkannya. Ia membuka mata. Ternyata ia masih berada di kelas. Laptopnya masih menyala dengan desain yang belum pernah ia kirim. Semua kemenangan itu hanyalah mimpi. Namun gurunya menatap layar cukup lama.

Ibu Guru : “Ini… kamu yang membuat?”

Jingga menggugurkan pelan…..

Guru itu tersenyum bangga tanpa mengatakan apa pun. Beberapa minggu kemudian, seluruh kelas dikejutkan oleh sebuah pengumuman.

“Selamat kepada JINGGAAAA…!! yang berhasil meraih Juara 1 Lomba “Desain Tingkat Nasional Kategori Disabilitas.”

Jingga.

JIngga : “Tapi… aku tidak pernah mengirimkannya.”

Ucapannya dengan Nada kaget, bingung sekaligus bahagia.

Guru itu tersenyum.

Ibu Guru : “Aku yang diam-diam mendaftarkan karyamu. Aku tahu mungkin banyak teman-temanmu yang meremehkanmu. Tapi aku tidak pernah ragu pada bakatmu Jinga… “

Seluruh kelas yang dahulu kala Jingga kini memberikan tepuk tangan. Tak ada lagi yang meremehkan, hanya rasa kagum yang terpacar dari teman-temannya.

Jingga membuka Maroon untuk terakhir kalinya.

Jingga :”Kali ini Aku benar-benar menang

Merah tua.”

Maroon sangat senang mendengar kabar baik itu

Maroon : “Wahhhh selamatttt jingga ku !…Bukan karena kamu menjadi seperti orang lain. Kamu menang karena berani akhirnya menjadi dirimu sendiri jingga.”

Jingga tersenyum. Ia akhirnya mengerti bahwa setiap orang memiliki langitnya masing-masing. Bintang tidak harus bersinar di seluruh alam semesta untuk disebut bersinar. Cukup bersinar di tempat yang memang diciptakan untuknya. Begitu pula dirinya. Disleksia visual bukanlah penghalang untuk bermimpi, melainkan cara yang membuat cahayanya bersinar dengan bentuk yang berbeda.

Unduh File Asli