Sudut pandang manusia itu unik. Terkadang pahlawan sekalipun dapat menjadi seorang penjahat bagi segelintir orang. Selama ini Cahya selalu mengagumi neneknya sebagai seorang pahlawan karena beliau menjadi aktivis lingkungan dan menyelamatkan hutan yang hampir pupus sepenuhnya. Namun, kebenaran yang Cahya temukan ternyata mengubah persepsi tentang neneknya sebagai aktivis—mungkin lebih dari itu. Pada akhirnya, perjalanan Cahya menuntun dirinya untuk melihat kegelapan agar dia bisa menjadi 'Cahaya' bagi kehidupan di Kalimba.
Puisi yang dibawakan tentang kerinduan akan seseorang yang raganya masih berkeliaran di dalam kepala. Ketika rindu menyelimuti, hanya sebatas rangkaian kata yang bisa dituliskan tanpa jawaban. Dari mendeskripsikan dirinya begitu sempurna sampai di hari ulang tahunnya. Rasanya lewat puisi ini rindu itu tersampaikan.
Kalimba Membiarkan Dirinya Rapuh Demi Manusia
Dien Silmi Anggia
“Kita perlu punya kemampuan untuk membuang sesuatu, Cahya.”
Pemuda itu menolak untuk percaya.
Ditemani wangi balsam yang menyebar ke seluruh ruangan dan cahaya remang dari lampu kamar nenek, rasanya ingin membuat siapa pun terlelap. Namun, kalimat yang Cahya dengar selanjutnya membuat dia tak lagi merasakan kantuk.
“Kita akan dianggap penjahat selamanya… tergantung pada sudut pandang manusia… uhuk, uhuk. Seperti pencuri yang dianggap pahlawan oleh anak-anaknya… uhuk, uhuk.”
Cahya mengusap lembut punggung nenek saat wanita tua itu terbatuk-batuk. Perlahan raut wajah yang sudah digerus keriput itu tersenyum sembari mengatakan, “Maafkan nenek, ya, Cahya?” lirihnya. Kini, kamar nenek tak lagi mengahadirkan wangi balsam dan minyak kayu putih. Saat Cahya pulang kuliah pun, takkan ada lagi yang menyambutnya. Meski raga nenek terpupus di dalam tanah, namanya—Ivana Bariska—masih tetap terkenang sebagai penyelamat hutan Kalimba.
Sudah menjadi tradisi di keluarga Bariska bahwa seluruh keturunannya harus menjadi aktivis. Cahya tumbuh untuk melaksanakan tugas yang sama. Ketika rindu berkabut membayangkan sosok nenek, dia hanya perlu membuka buku harian yang neneknya tinggalkan di laci kamar—yang dilarang keras untuk dibuka selama ini.
Lembaran demi lembaran tertulis indah semua hari-hari yang nenek lalui ketika sedang berjuang. Banyak pedih yang ia lalui serta cerita yang tidak sempat diceritakan kepada Cahya di dalamnya. Mungkin Nenek malu untuk menunjukkan bakatnya dalam menuliskan setiap kalimat yang dia tulis di buku harian itu. Di bagian halaman terakhir, terdapat kertas yang terlihat dirobek secara sembarangan. Ia menutup dan mendekap buku itu, lalu tertidur lelap di atas kasur. Tak lama dari kabar pilu kematian sang nenek—orang yang Cahya sayangi, muncul sebuah kabar lain yang tak kalah pilu.
koran dikirimkan ke rumah-rumah warga. Biasanya Cahya tak tertarik pada berita koran, tapi kali ini berbeda. Koran menunjukkan berita bahwa hutan Kalimba kembali diusik oleh perusahaan yang ingin menanamkan sawit di sepertiga kawasan hutan. Melihat berita itu, jemari Cahya yang memegang kertas koran bergetar hebat. Wajahnya menjadi kaku, rahangnya mengeras dan giginya menggertak. Selama sepuluh tahun lamanya nenek berjuang menyelamatkan hutan. Tak pernah ia menyerah. Nenek tahu, di hutan itulah warga desa menabur benih kehidupan dan meracik ramuan obat. Hutan itu kaya akan pangan. Bahkan kayu dari tiap pohonnya dijadikan furnitur oleh warga untuk menyambung hidup anak-anak mereka. Setelah hutan tersebut telah diselamatkan serta nenek sudah wafat, perusahaan itu meneruskan proyeknya.
“Sialan!” geramnya seraya membuang koran itu ke sembarang tempat.
Kemudian hari-hari berlalu dijalani Cahya seorang diri semenjak kepergian nenek dan orang tuanya yang meninggal sejak lama. Dengan tekad dan keberanian, pemuda itu mengumpulkan relawan untuk membantunya menyelamatkan hutan Kalimba. Di pikirannya, perjuangan nenek tidak boleh sia-sia. Setiap keluarga Bariska mempunyai darah aktivis yang mengalir di tubuh mereka, Cahya akan meneruskan tekad itu.
Setiap diundang menjadi pembicara, Cahya akan mengajak orang-orang untuk ikut menyoroti isu hutan Kalimba. Orang-orang bertanya, kenapa Cahya memutuskan menjadi aktivis, dia menjawab dengan alasan yang dapat membuat orang terkesima seperti mengatakan alasan bagaimana alam memberikan kita napas kehidupan, tetapi sebenarnya dalam hati Cahya, dia hanya ingin mengucapkan kalimat sederhana yaitu, “Ini adalah tradisi keluarga Bariska.” Dia tidak punya alasan lain.
Relawan sudah terkumpul serta Cahya sedang libur kuliah. Mereka akhirnya akan pergi ke hutan Kalimba. Di sana mereka akan mempublikasikan kegiatan pembabatan hutan agar lebih banyak mata yang mengetahuinya sehingga isu ini mencuat ke permukaan dan bisa segera diselesaikan oleh instansi pemerintah.
Menyusuri hutan dengan pepohonan menjulang tinggi, menyeberangi sungai seluas mata memandang, akhirnya mereka tiba di desa Kalimba dengan sambutan tonggeret dan kicauan burung. Mereka bertanya rumah ketua desa kepada para warga yang bertemu di tengah jalan setapak. Setelah mengikuti penunjuk yang diberikan, mereka tiba di depan pintu rumah ketua desa tersebut. Saat meminta izin kepada ketua desa untuk membuka posko, Cahya sedikit dibuat bingung oleh air wajah yang dibuat oleh ketua desa tersebut.
“Boleh enggak ya, Pak?” tanya Cahya memastikan. Ketua desa itu memasang muka kebingungan, dia berkata,
“Mungkin kalian belum mengerti kondisinya—“
“Saya sudah mengerti, Pak,” Cahya memotong dengan cepat.
“Saya mencoba menolong desa ini,” ujarnya. Ketua desa hanya bisa menghela napas berat. Dia memegang gagang pintu dan hendak menutupnya.
“Tidak, Nak. Kau belum tahu apa-apa.”
Brak! Pintu itu tertutup. Berkali-kali Cahya memanggil dan mengetuk pintu tersebut, tetapi sudah tidak ada jawaban lagi.
“Gimana nih, Cah?” tanya salah satu anggota saat mereka berjalan menjauhi rumah ketua desa. Cahya tak menjawab, dia sibuk dengan kepalanya sendiri. Di sisi jalan, Cahya melihat warga tengah berbincang ramah dengan salah satu orang laki-laki memakai rompi yang di belakang rompinya tertera gambar dan tulisan PT Tarimbun Abadi. Cahya mengenali nama PT itu, itu nama perusahaan yang membabat hutan Kalimba.“Apakah itu strategi mencuci otak warga agar setuju dengan proyek kalian? Sungguh ironis,” ucap batin Cahya.
Dengan berat hati mereka tinggalkan desa itu dan pergi ke suatu kota bernama Kalitung yang jaraknya tidak begitu jauh dari desa dan hutan tersebut. Setelah itu, dilanjut mencari penginapan dan memikirkan rencana untuk esok hari.
Malam tiba dengan cepat. Kota masih dipenuhi kendaraan lalu-lalang serta angin menyelimuti kota dengan dingin yang menusuk tulang, tetapi Cahya memutuskan untuk berjalan-jalan di luar penginapan. Trotoar jalan terlihat terang dengan berbagai pencahayaan dari lampu kota dan gerai toko di sana, salah satunya adalah pencahayaan dari ATM bank dengan kursi besi panjang di sampingnya. Cahya bertemu seorang gadis umurnya sekitar empat belas tahun yang tengah duduk di kursi panjang tersebut sambil memainkan kakinya sendiri.
“Halo, lagi ngapain?” Cahya menghampiri dan bertanya, dia khawatir gadis itu butuh teman.
“Lagi nunggu papa di ATM,” balasnya dengan ramah.
“Lagi mau jalan-jalan, ya?” Pemuda itu berbasa-basi. Gadis itu menggeleng, “Aku mau nemenin papa ke suatu desa gitu, deh.”
Tak lama kemudian, ayah dari gadis tersebut datang. Cahya menyambut dengan senyuman.
“Ayo, Nak. Permisi, Mas,” ucap ayahnya. Sebelum ayah dari gadis tersebut pergi, Cahya sempat melihat bordir di jasnya bagian saku dada, terpampang logo PT Tarimbun Abadi. Cahya mengepalkan tangannya sendiri dengan kuat sambil berusaha tersenyum saat gadis itu melambai padanya.
Setelah para anggota organisasi berunding, mereka memutuskan untuk pulang kembali ke kota mereka, melakukan banyak hal dari belakang layar dan menyisakan dua orang lagi yang akan tinggal di kontrakan desa. Cahya dan wakil ketua organisasi akan menetap di sana. Hari-hari berlalu di desa, suasana pagi selalu disambut dengan mentari yang terbit di ufuk timur dan hirupan udara yang lebih baik dibanding di kota, sampai-sampai Cahya lupa bagaimana rasanya udara segar itu sendiri.
Hari ini tugas Cahya adalah mengambil foto dari proyek penggundulan hutan. Terdengar suara dari kejauhan memanggil, “Kakak!” Raga dari suara itu mendekat, Cahya menoleh, mendapati gadis yang ia temui beberapa hari sebelumnya di kota Kalitung
“Kakak juga ke sini ternyata,” ujarnya cekikikan. Cahya sudah tidak heran, desa yang gadis itu maksud pastilah desa Kalimba, lelaki itu yakin ayahnya yang mengajak. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol. Sampai mereka menemukannya di dekat hutan yang datarannya lebih tinggi sehingga Cahya dapat melihat kendaraan proyek telah dinyalakan dan akan memulai kembali operasi pembabatan hutan.
“Kakak pasti mau menghentikan mereka, ya?” tanya gadis itu. Pemuda tersebut mengangguk pelan, ia tidak bisa berbicara lantang karena ayahnya bagian dari perusahaan yang menjalankan proyek tersebut.
“Aku juga enggak suka…” Cahya melirik gadis tersebut, terlihat raut wajahnya yang murung.
“Tapi, ini semua yang terbaik—“
“Tidak ada yang terbaik kalau mereka merusak sumber daya alam,” Cahya memotong. Ucapannya menjadi lebih tegas. Percakapan terhenti sejenak sebelum gadis itu lanjut berbicara,
“Siapa nama kakak?”
“Cahya, Cahya Bariska.”
“Bariska…?”
“Iya, itu nama marga. Dulu ada orang yang menyelamatkan hutan ini, berasal dari marga Bariska.”
Wajah sang gadis menjadi sedikit terkejut—sama seperti ekspresi ketua desa saat itu. Seolah dia mengetahui sesuatu yang tidak Cahya ketahui. Keesokan harinya ia bertemu gadis itu kembali di tempat yang sama. Cahya bertanya siapa nama gadis tersebut, dia menjawab, “Mia.”
“Kakak, kenapa jadi aktivis?” Cahya sering mendengar pertanyaan itu, tetapi kali ini dia menjawab berbeda, dia ingin jujur.
“Karena kakak harus melanjutkan tradisi keluarga Bariska yang menjadi aktivis.”
“Jadi, bukan kemauan kakak sendiri?” Pertanyaan gadis itu cukup membuat ia terdiam.
“Aku pun tidak tahu.”
***
Saatnya Cahya dan wakil ketua organisasi untuk pulang. Mereka akan serahkan sisanya kepada publikasi media. Sebelum pulang, Cahya mampir ke tempat dia dan Mia sering mengobrol, ia berharap bisa bertemu untuk berpamitan dan benar saja, gadis itu sedang duduk di bawah pohon sambil membaca sebuah koran lusuh yang tampaknya sudah lama tersimpan di rak berdebu. Mata mereka bertemu dan saling mengukir senyuman.
“Kakak akan pulang.”
Mia mengangguk, “Semoga selamat sampai tujuan,” balasnya. Cahya mengeluarkan kamera dari tasnya, ia berniat mengambil foto bersama sang gadis.
“Kakak, fotonya jangan disebar ke media.” Sebelum melakukan hal itu, Cahya sudah ditegur lebih dulu.
“Oh, maaf. Kamu enggak suka difoto, ya?” Mia menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab dengan tegas, “Foto dari proyek ini maksudnya.” Cahya maupun gadis itu sama-sama terdiam. Pemuda tersebut mengendalikan emosinya dalam diam, berprasangka ayahnya yang menyuruh Mia mengatakan hal itu.
“Bilang pada ayahmu, tidak perlu mencampuri urusan kami.”
“Ini bukan permintaan Papah!” Suaranya melengking. Tentu saja pemuda itu tidak akan menuruti keinginan seorang gadis polos yang tidak tahu apa-apa.
“Kalau begitu, kenapa?” Cahya memastikan.
“Kalian memang tidak tahu kebenarannya.”
“Yaudah, kasih tahu sekarang.” Seketika percakapan ini menjadi tempat saling adu suara tegas.
“Kak, alasan kakak jadi aktivis lingkungan karena faktor keturunan Bariska saja ya?” Mia menggenggam koran di tangannya lebih kuat.
“Jadi, kakak tidak benar-benar peduli lingkungannya, ya?”
“Tidak begitu—“
“Padahal aktivis juga harus punya rasa kemanusiaan. Kakak perlu belajar dari keturunan Bariska sebelumnya.”
Sebelum Cahya melanjutkan perkataannya, gadis itu memberikan koran yang ada di tangannya, lalu berlari menuruni bukit kecil. Cahya membaca koran yang diberi oleh gadis tersebut. Matanya dengan cepat berubah menjadi sangat tajam, keningnya mengerut, wajahnya begitu kaku melihat berita koran satu tahun lalu yang tidak pernah ia lihat di kotanya. “Ivana Bariska Menandatangani Kontrak Setuju Akan Proyek Penggundulan Hutan Kalimba Setelah Sepuluh Tahun Berjuang.”
“Apa ini? Kenapa? Hal ini tidak ada di buku harian nenek ataupun di cerita nenek!” Dengan emosi yang menyulut, Cahya pergi dari desa dan ingin segera pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan pikiran Cahya kosong mencoba mencerna semuanya. Tidak terasa, sampailah dia di rumah nenek. Bertanya akan seribu pertanyaan. Setelah mencari tahu, ternyata penanaman pohon sawit dapat membuka lowongan pekerjaan yang layak untuk orang di desa. Tertulis di koran, rakyat yang kelaparan, pengangguran, anak-anak putus sekolah, dan bencana ekonomi lainnya. Nenek yang sedang memperjuangkan hutan berpikir beribu-ribu kali untuk setuju akan proyek itu sebagai kepala aktivis lingkungan nasional.
Cahya yakin ada petunjuknya. Ia mencari ke setiap sudut kamar nenek, mengobrak-abrik pakaian yang tersisa di lemari hingga ia menemukan secarik kertas di dalamnya. Saat dicocokkan, kertas itu adalah robekan pada buku harian di halaman paling belakang. Pada tulisannya, nenek pun perlu mengalami keputusan yang membuang salah satunya. Antara lingkungan yang tak bersalah dan rasa kemanusiaan setelah melihat kondisi ekonomi di sana. Warga sepakat untuk tidak mempublikasikan hal ini ke media karena mereka berpikir masyarakat luar akan ada yang tidak setuju dengan itu. Mungkin, ini adalah yang nenek maksud. Tentang pencuri sebagai pahlawan anak-anaknya yang kelaparan.
Cahya membacanya dengan perasaan campur aduk. Perlahan pertanyaan terakhir Mia berputar dalam kepalanya. Selama ini, Cahya hanya mementingkan tradisi yang sudah menjadi seperti ‘ritual’ bagi setiap anggota keluarga Bariska. Padahal aktivis hanya gelar nama, apa artinya gelar tanpa aksi?
“Aku benar-benar peduli lingkungan? Kapan?” Ia bertanya ke diri sendiri. Selama ini dia tak punya jawaban pasti kenapa dia menjadi aktivis, dia bahkan tidak memperhatikan lingkungan terdekatnya sendiri, dia hanya bergerak karena merasa nenek dikhianati, padahal nenek yang mengambil keputusan untuk hutan itu. Masyarakat di sana tentunya punya keputusan yang sama sulitnya pada saat itu hingga ketua desa tak dapat mengizinkan Cahya dan relawan menghentikan proyek tersebut. Neneknya benar, kita perlu punya kemampuan membuang sesuatu. Jika kita ingin memilih, kita perlu membuang yang tidak kita pilih.
Berita di koran yang diberikan oleh Mia tidak pernah sampai ke kota tempat tinggal Cahya. Berita itu tenggelam tanpa perhatian mata tertuju ke sana. Hal itu menyebabkan kesalahpahaman terhadap PT Tarimbun Abadi. Pasti ada dalangnya di balik itu semua, tetapi yang terpenting adalah akhirnya Cahya tahu kebenarannya—bahwa itu semua adalah keputusan warga desa Kalimba itu sendiri.
Cahya membatalkan rencana publikasi dan rencana lainnya. Para anggota relawan kebingungan, tetapi dia belum mau menjelaskannya sekarang. Waktu demi waktu berlalu. Setelah memikirkan banyak program, Cahya menjalankan program satu rumah satu pohon untuk masyarakat desa, memastikan ada hutan yang tersisa dan membatasi wilayah hutan yang tidak boleh diusik proyek, dan berbagai rencana yang akan Cahya buat bersama anggota organisasinya. Tidak mudah menjalankannya. Namun, proses akan membuahkan hasilnya.
Pemuda itu telah menemukan alasan dan tujuan mengapa dia mencintai dan ingin menyelamatkan alam. Pada pagi itu, Cahya membuat kebun serta taman kecil-kecilan di halaman belakang rumah Nenek. Harapannya, tindakan kecil akan membawanya pada awal langkah yang besar. Sudah tidak ada lagi alasan yang Cahya buat sendiri untuk pertanyaan “Mengapa anda ingin menjadi aktivis?” Kini, ia dapat menjawab dari hati yang jujur.
tidak mungkin disebut penyelamat hutan Kalimba, tetapi justru di sanalah Cahya merasa terselamatkan—dia sangat berterima kasih kepada Mia, gadis kecil yang justru menyadarkannya—Cahya belajar satu hal, jika impian tanpa arah, itu hanya akan menjadi angan-angan. Jika melangkah tanpa tujuan, itu hanyalah pelarian. Ini bukan sekedar tentang menyelamatkan alam, tetapi juga tentang manusia yang mencari arah tujuan.
“Nek, andai nenek masih hidup, giliran Cahya yang akan bercerita tentang pengalaman di hutan Kalimba.”
Sempurna Adalah Rumahmu
Dien Silmi Anggia
Kau adalah suasana di pagi hari saat tengah hujan gerimis turun ke muka bumi dan tidak ada kesibukan yang menanti.
Hanya menyantap pagi dengan meminum segelas kopi hangat dan menghirup bau tanah yang baru diguyur hujan.
Kau adalah seperti perasaan saat kemarin menghadapi hari yang berat,
Lalu hari ini disambut dengan segudang kebahagiaan tanpa masalah yang harus dihadapi.
Kau adalah segala perasaan bahagia dan rasa puas di hati yang tidak bisa tergambarkan oleh kata-kata.
Semua itu adalah ungkapan untuk sebuah kata 'Sempurna’.
Beribu-ribu kata indah yang ku ucapkan tidak akan pernah menggambarkan bentuk keindahanmu.
Berbagai kata sempurna dari berbagai bahasa tidak akan pernah merepresentasikan sepenuhnya kesempurnaanmu.
Kau adalah definisi dari kata sempurna itu sendiri.
Masih ku ingat setiap perkataan yang keluar dari mulutmu hanya untuk membuatku merasa tenang,
Tatapan matamu yang lembut serta sentuhan dari jari-jemari mu yang meninggalkan bekas rindu.
Tidak ada yang lebih baik dari itu.
Engkau bagai rumah yang telah menanti diri ini pulang.
Aku tahu kau tidak akan bertanya mengenai hari-hari lelah yang ku lalui.
Kau hanya akan menyediakan bahumu untuk aku bisa bersandar, mengeluarkan segala isi hati
Menyiapkan telinga untuk mendengar segala kesalku dan membiarkanku tidur dalam dekapanmu sepanjang malam,
Sembari berusaha melupakan berbagai perasaan buruk yang menghantui.
Untungnya ada dirimu yang bisa membuatku lupa akan semua yang telah ku lalui.
Untungnya ada dirimu, yang akan selalu menjadi abadi dalam taman bunga hatiku.
Bagaimana aku bisa meninggalkanmu sedangkan kau adalah tempat berkeluh kesah paling sempurna yang pernah ku temui?
Bagaimana aku bisa meninggalkanmu saat dunia ini begitu gelap dan yang tersisa hanyalah setitik cahaya hangat darimu?
Jika reinkarnasi itu memang ada, aku akan berharap untuk dapat hidup kedua kalinya hanya untuk melihat kembali sosok paling indah yang diciptakan Tuhan, yaitu dirimu.
Jika keberadaan dirimu sudah lenyap, aku akan terus mencari kehidupan yang terdapat kita berdua di dalamnya.
Aku akan terus mencarinya bahkan jika aku harus melebur dengan ketiadaan dan sisa-sisa harapan ini.
Akan ku temukan kembali dirimu beserta dengan senyum hangat itu.
Aku ingin tertawa, tertawa lagi untuk ribuan kalinya. Aku akan menangis, menangis lagi bersamamu untuk ratusan kalinya.
Aku ingin mengucapkan betapa beruntungnya aku bertemu denganmu untuk kesekian kalinya.
Kau adalah alasan kenapa aku ingin terus berada di bumi hanya untuk menyaksikan senyummu, karena jika di surga nanti kau akan menjadi milik bidadari.
Selamat Ulang Tahun, Tuan
Dien Silmi Anggia
Hari ini hari ulang tahunmu.
Apakah ada yang sudah mengucapkan kepadamu seperti yang selalu kulakukan dulu?
Katakan, bagaimana kehidupanmu setelah hilangnya ragaku?
Pernahkah kau merasa sepi saat tengah sendiri di malam hari hari?
Atau justru, kau merasa hidup lebih baik setelah aku pergi?
Banyak sekali pertanyaan dari dalam lubuk sanubari ini untukmu.
Aku masih dapat mengingatmu di sela-sela ingatan yang terbesit sekilas dalam kepala ini.
Nampaknya, kau sudah mulai menyalakan percik api tuk membakar memori tentangku.
Aku hanya ingin mengatakan sesuatu sebelum semuanya benar-benar akan terhapus dan menyatu dengan ketiadaan.
Hiduplah sebagaimana mestinya.
Berbahagialah, tuan. Kau berhak mendapatkannya.
Rajut lah semua impianmu bersama orang baru.
Aku tahu kau tidak akan pernah lagi bertanya soal keadaanku,
Tetapi aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku sudah menaiki kapal baru
Tak seperti bersama mu dahulu, yang kapalnya mengalami kebocoran di tengah lautan.
Mengharuskan ku untuk tenggelam seorang diri,
Sedangkan kau diselamatkan orang lain.
Bualanmu terasa manis sekali, tetapi sekarang terasa basi.
Apa kau pernah berpikir untuk berdoa pada sang Maha Kuasa untuk mengulang?
Episode melupakanmu begitu menyakitkan pada awalnya sehingga ingin ku cabik dan robek semua halaman dalam cerita bersamamu.
Aku merasa egois jika meminta kau merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasakan saat kau meninggalkan jiwa ini sendirian.
Namun, aku harap kau tidak mengulangi perlakuan busukmu itu kepada orang lain.
Kini, kita berlayar dengan kapal masing-masing.
Do’akan setiap perjalanan yang kita lalui,
Semoga itu menjadi berkah bagi kita
Selamat ulang tahun, dari orang yang pernah menjadi separuh hidupmu.