Sebuah puisi tentang pesan (bisikan) yang disampaikan oleh orang bijak dan yang datang dari alam tentang kepedulian manusia terhadap alam adalah bentuk kemanusiaan
Category: Submission
-

Luka Akibat Bisikan Terlupakan
-

Sahabat Mara
(Cerpen) Pada suatu hari Mara sedang liburan di rumah kakek dan neneknya, lalu tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang bernama Putri , putri memiliki sikap ceria, penuh senyum dan sedikit sarkas, yang memiliki sikap sangat terbalik dengan Mara.
Jadi apakah Mara bisa berteman putri ?JUDUL: SAHABAT MARA
Hari ini gerimis, hawanya dingin sekali sampai kaca di jendela pun berembun, Mara melihat dari balik jendela, semakin lama hujan semakin deras. Tiba tiba Ibu mengetuk dari balik pintu kamar Mara sembari berkata “Mara ayo turun kita kan akan pergi ke rumah kakek dan nenek” Mara menjawab perkataan ibunya “baik Bu”. saat di mobil Mara hanya melihat hujan yang yang terus menerus semakin deras. Lama kelamaan akhirnya Mara tertidur di perjalanan menuju rumah kakek dan nenek. Setibanya di rumah kakek dan nenek, ibu membangunkan Mara dan menyuruhnya untuk turun dari mobil, saat turun dari mobil kakek dan nenek menyambut kedatangan Mara dengan senyum yang sangat lebar sedangkan mara membalas senyuman itu dengan ekspresi yang datar. Setelah menurunkan barang barang dari mobil, lalu dibawa ke satu kamar kecil yang cukup sederhana, sebenarnya Mara cukup kesal ketika mendengar ia harus tidur bersama ibunya karena hanya ada dua kamar di rumah itu.
Hari pertama dirumah kakek dan nenek Mara bangun sangat pagi karena di bangunkan oleh nenek di pagi hari, nenek menyuruh Mara untuk ikut bersama kakek, yaa awalnya Mara menolak tapi setelah dibujuk beberapa kali akhirnya dia ikut juga bersama kakek. Setelah berpamitan dengan Ibu dan nenek, Mara dan kakek berjalan kaki menuju daerah yang memiliki cukup banyak pemukiman. Mara penasaran tujuan mereka kemana, akhirnya dia bertanya pada kakek, “kakek kita mau pergi kemana?”, lalu kakek pun menjawab “kakek ingin mengajakmu pergi melihat lihat pemandangan indah sambil menuju ke pasar“, ya bagi Mara jarang sekali untuk melihat gunung, sawah, dan pemandangan alam lainnya. Sebelum pergi sebenarnya Mara merasa cukup kesal karena ia tidak diperbolehkan Ibunya untuk membawa ponsel tapi setelah melihat pemandangan alam yang indah dia cukup menikmatinya.
Saat telah setengah perjalan menuju pasar kakek bertemu dengan temannya yang sering dipanggil dengan sebutan “Abah” oke itu pasti kata yang terdengar aneh di telinga Mara, kakek menyuruh Mara untuk salim kepada abah, dan siapa sangka abah membawa cucunya yang usianya sepantaran dengan Mara, kakek langsung menyuruh Mara untuk berkenalan dengan anak itu sembari kakek dan abah mengobrol. Awalnya anak itu dulu yang berkenalan duluan “hai nama kamu siapa?, kalau nama aku Putri“, dan Mara pun menjawab seramah mungkin yang ia bisa, “oh, kalo nama gue Mara” seketika wajah Putri terlihat bingung setelah mendengar kalimat Mara. “Eh kamu ko wajahnya gitu kaya yang kaget?“, Mara langsung bertanya pada putri karena dia bingung melihat wajah Putri yang kaget, Mara memang sering menggunakan kata gue ketika mengobrol dengan orang yang sepantaran dengannya. Dan Putri pun langsung menjawab pertanyaan Mara, “ya iyalah gimana nggak kaget orang kamu memanggil dirimu sendiri dengan sebutan gue, itu tuh keren banget tauu“.
Tiba tiba kakek memutus pembicaraan mereka berdua sambil berkata, “abah akan pergi ke pasar bersama Putri kan jadi sekalian saja kita berjalan kaki bersama ke pasar“, Putri lalu menjawab dengan semangat, “baiklah“, sedangkan Mara masih memandang dengan wajah yang kebingungan karena percakapannya dengan Putri tadi. Saat berjalan kaki ke pasar Putri punya banyak pertanyaan kepada Mara seperti, “mengapa kamu memakai kacamata?“, lalu Mara menjawab, “aku minus karena terlalu sering menggunakan ponsel“. Putri juga merasa aneh melihat Mara yang memiliki gaya berpakaian yang unik dan gaya berbicara yang menurutnya keren. Setelah itu Putri bertanya, “kamu berasal dari mana?“, lalu Mara menjawab “aku berasal dari Kota Bandung“, lalu Putri berkata, “kalo rumahku ada di dekat sini“. Tak terasa, akhirnya kita sampai juga di pasar, sebenarnya ini kali pertama Mara pergi ke pasar jadi dia cukup kebingungan. Saat ingin membeli jajanan di pasar ketimbang bertanya Mara malah mengeluh kepada kakek, “kenapa sih aku gak boleh membawa ponsel padahal jika membawa aku kan bisa searching ini makanan apa“, lalu Putri langsung menjawab pertanyaan Mara dengan nada sedikit kesal, “itu namanya klepon bawel, kamu dari tadi cerewet banget minta ponsel? Emangnya kalo tanpa ponsel kamu bakal langsung sakit terus masuk rumah sakit? Enggak kan ya udah ga usah bawel lagian gak sopan tau kaya gitu“, ya Mara agak kaget sih ketika Putri berkata seperti itu, yaa namun ada benarnya juga sih.
Jadi itulah awal persahabatan mereka.
Download Original File
-

Puisi : Lindungi Gajah, Lindungi Hutan (The poem “Protect the Elephants, Protect the Forest”)
The poem "Protect the Elephants, Protect the Forest" tells about elephants living peacefully and calmly in the forest, until suddenly their lives become unsettled due to humans who like to destroy the forest. The elephants begin to lose their homes and families because many trees in the forest are being cut down.
Judul : Lindungi Gajah, Lindungi Hutan
Karya : Kayisa Azalia
Para gajah tinggal di hutan yang rindang
Mereka hidup di hutan dengan tenang
Setiap hari mereka suka makan pisang
Makan pisang membuat mereka merasa senang
Semua berubah, semenjak manusia datang
Mereka datang dengan wajah yang garang
Gajah dan manusia mulai berperang
Para gajah mulai menghilang
Semua pohon di hutan mulai tumbang
Pohon di hutan mulai berkurang
Kini para gajah hidup tidak tenang
Pohon tempat berlindung mulai menghilang
Di hutan para gajah mulai bimbang
Hutan yang rindang telah berubah menjadi ladang
Keluarga mereka pun pergi menghilang
Sekarang para gajah bingung ke mana tempat mereka pulang?
Download Original File
-

Mama
A poem about the complex emotions of loving a mother whose words and feelings have the power to both hurt and heal.
Mama
Every sigh from you is a wound to me.
Every scream from you is a cut across my heart.
Every gentle touch from you is my peace.
Every smile you wear is my heaven.
Every tear you shed is my hell.
Download Original File
-

Intensitas Diriku
Tidur adalah kemewahan nyata yang jarang bisa dinikmati olehnya. Di balik kata, "Aku gapapa, kok," yang keluar dari mulut seorang remaja biasa, ada malam-malam penuh halusinasi.
Akhirnya, tubuhnya menyerah. Menenggelamkan dirinya dalam kegelapan yang memburu raga dan batin. Semua yang dilihatnya saat gelap dan sendirian, menjadi kenyataan di depan matanya.
Apakah ini nyata terjadi, atau hanya efek samping dari obat yang diminum saja?“Ayah, apa kau masih disana? Ale rindu bermain sama Ayah..” aku menunggu di teras depan rumahku.
“Sebentar ya, Nak. Ayah masih dinas ke luar kota,” ibu menghapus air mata anaknya, mencoba meredakan kekhawatirannya.
“Ba-baik, Ibu,” tangisku mulai mereda perlahan.
“Masuk ke rumah yuk, Nak.”
Selang beberapa jam setelah ibu mematikan lampu kamarku, terdengar suara decitan dari arah jendela kamar. Korden yang menutupi jendela terbuka, memperlihatkan cahaya kuning dari lampu jalanan. Dari balik selimut, aku bisa mendengar suara mainan yang berserakkan di lantai kamarku bersentuhan dengan sesuatu yang berat
Aku memberanikan diri mengintip di balik selimut, sedikit menahan nafasku. Bayangan hitam kembali terlihat oleh mataku. Ia mencoba membuka pintu kamarku pelan-pelan, tapi tetap saja ada sedikit suara. Sosok hitam itu seketika melihat sekelilingnya dengan waspada, dan… dia melihat ku. Oh tidak!
Untungnya, ibu kembali ke kamarku membawakan obat dan segelas air. Ibu menyalakan lampu kecil disamping kasur, ia menyadari tubuh dan tanganku yang sedikit gemetar. Alih-alih bertanya, ia mengelus pelan punggungku dan memegangi tanganku sampai tubuhku kembali tenang.
Suara engsel jendela dan tirai yang tertiup angin membuatku dan ibu menoleh. Ibu menutup jendela dan tirai dengan wajah bingung, mengingat-ingat apa tadi ia juga lupa menutup jendela kamarku. Wajahnya kembali tersenyum saat melihatku masih terduduk diatas kasur, dan ia ikut duduk disampingku.
“Ale tidur lagi, yuk. Maaf ya, Nak, tadi Ibu lupa membawa obat nya.” Ibu mematikan lampu tidurku, lalu tidur di sampingku, membelakangi pintu kamar.
Saat mataku mulai terpejam, bayangan hitam keluar dari bawah kasur. Mata tajamnya melihatku, mencoba memperingatiku agar tetap mengunci mulutku. Mataku kembali terbuka lebar, dan segera menutup mulutku dengan kedua tangan. Ia lolos begitu saja dari penglihatanku, karena aku terlalu takut membangunkan ibu yang sudah pulas.
Mataku sulit terpejam kembali setelah kejadian tadi berputar di kepalaku. Berkali-kali aku mengganti posisi tidur, berharap bayangan hitam tadi segera menghilang jika aku cepat tertidur. Aku melihat ibu masih pulas tertidur sambil memegangi tanganku, sesekali mengingau acak seperti sedang berbicara dengan orang lain.
Cahaya matahari sudah menyapaku lewat sela-sela tirai jendela kamar, sedangkan tubuhku masih terasa lelah sebab kekurangan istirahat saat malam. Ibu sudah tidak ada disampingku, bisa kulihat semua mainanku sudah berada di kotaknya, dan pintu kamar tidak ditutup rapat. Sebelum turun dari kasur, aku menguncir asal rambutku dan merenggangkan tubuh.
Semua masih normal, sesuai pada tempatnya tanpa berantakkan. Tidak ada barang-barang yang hilang, ataupun rusak di sekitar rumah. Saat ke ruang makan, aku dikejutkan dengan kedatangan ayah yang sedang sarapan. Ayah langsung berdiri dan merentangkan tangannya, kami berpelukkan bersama ibu juga. Pikiranku tentang tadi malam hilang sejenak, digantikan dengan rasa senang saat mendengar ayah akan mengajak kami berlibur di akhir pekan ini.
“Ini buat Ale. Disimpan baik-baik, ya.”
“Terima kasih, Ayah ganteng,” aku mencium singkat pipi ayah, sebelum kabur ke lantai atas.
“Huft..anak cantik itu, ada saja tingkahnya,” batin Ayah, menggelengkan pelan kepala nya.
Bingkisan dari ayah ternyata berisi 2 boneka kelinci rajut berukuran sedang, berwarna coklat dan ivory. Aku bermain sebentar dengan keduanya, boneka ku menjadi pembeli dan aku menjadi penjual minuman. Tak lama, ibu kembali memanggilku untuk segera turun. Aku menaruh kedua boneka itu disamping mainanku yang lain, sebelum turun ke bawah.
Ternyata ibu meminta bantuanku untuk mengupas bawang, sementara ibu memasak lauk makan siang. Kuku tanganku masih bau bawang, padahal aku sudah mencuci tanganku dengan sabun sampai beberapa kali. Kata ibu, baunya akan hilang sendiri walau memang agak lama.
Aku memutuskan duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton film di TV. Awalnya aku menikmati alur film aksi tersebut, sampai ada adegan dimana tokoh utamanya bersembunyi di ruangan gelap. Ia selalu waspada melihat sekeliling, karena musuhnya bisa berkamuflase dengan baik, terutama di tempat gelap.
Ingatan tadi malam berputar kembali. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku menepis cepat pikiranku, kalimat itu kurapalkan dalam hati seperti mantra. Mana mungkin ada pencuri tanpa meninggalkan tanda aneh, bahkan ini ‘terlalu rapi’ untuk rencana pencurian barang. Masih berkutat sendiri dengan pikiranku.
“Ale, ayo makan siang dulu. Mumpung masih hangat lauknya,” ibu menyentuh pundakku. Itu membuatku terkejut, sampai tubuhku kembali bergetar. Aku mulai melakukan teknik pernafasan kotak agar kembali tenang.
Kami sama terkejut, tapi raut wajah ibu terlihat panik. Mungkin ibu lupa kalau aku memang mudah terkejut jika sedang asik dengan pikiranku.
“Hehe..ayok, Bu. Tadi Ale kaget aja, gapapa kok,” aku menunjukkan senyum terbaikku agar ibu tidak khawatir, dan menarik pelan tangan ibu ke ruang makan.
Selesai makan dan mencuci piring, aku masuk ke kamarku mencoba tidur siang dengan lampu menyala. Entahlah, aku juga tidak tahu sejak kapan kebiasaan ini mulai ada saat aku sendirian.
Aku memang mengindap insomnia sejak usia 10 tahun, dan masih mengonsumsi obat tidur setiap malamnya. Biasanya gelap bukanlah masalah utama, karena aku selalu tidur bersama ibu. Tanpa menyadari, sakit ini sudah mencapai puncaknya dibalik kata “Aku gapapa, kok.”
Aku terbangun dengan banyak keringat di punggungku, sesekali mengucek mata ku yang masih mengantuk untuk melihat ke sekeliling. Semuanya gelap, hening, rasanya ini seperti ruangan kosong tanpa sekat. Ada berbagai suara yang terdengar dari segala arah, menambah ketakutanku pada kegelapan.
“Ayah-Ibu..dimana kalian? Ale takut disini. Tolong, siapapun bantu Ale keluar dari sini, hiks-hiks..” tanganku memutih memeluk lutut yang ditekuk, tubuhku bergetar hebat sebab tangis yang tak kunjung berhenti.
Dingin mulai merayap keatas tubuh dari jari kakiku, aku mencoba meneriakkan nama ayah dan ibu sebisaku. Tapi nihil, tidak ada suara yang menjawabku ataupun seseorang yang menghampiriku. Suara aneh kembali terdengar sesaat setelah aku menenggelamkan kepalaku di lutut, mereka mencoba membuatku putus asa.
“Ughh..silau nya,” aku menyipitkan mata. “Eh, tunggu. Cahaya apa ini?” aku segera berlari mengejar cahaya misterius itu dengan susah payah dan tubuh menggigil. “Tunggu aku..”
Cahaya itu semakin jauh saat aku berusaha mengejarnya, kakiku mulai kelelahan hingga akhirnya terjatuh diatas tanah penuh daun berguguran, tapi tidak ada satupun pohon disana. Masih gelap, namun berbagai suara aneh sudah tidak terdengar lagi olehku.
Anehnya, ada bau hangus bercampur dengan besi berkarat yang menyengat ketika menyentuh daun yang berguguran. Seolah ada makhluk yang ingin menandakan wilayahnya, atau meracuni pernafasanku. Sekarang kepalaku mulai sakit dan kesulitan bernafas, aku meyakinkan diri untuk tetap bertahan sebentar lagi.
Siluet hitam pekat sedang mengawasiku di kejauhan, ia selalu semakin dekat setiap aku mengedipkan mata. Tubuhnya tinggi namun terlihat membungkuk, dengan mata tajam yang selalu membuat bulu kudukku berdiri. Rasa dingin yang familier langsung merayap naik, bersamaan dengan suara jantungku yang bertalu-talu.
Dia memangkas ruang hampa hingga tidak ada jarak diantara kami, menatapku penuh intimidasi dalam keheningan di kegelapan. Otakku sudah memberi sinyal untuk mundur dan berlari sekencang mungkin, tetapi seluruh ototku sudah menegang menolak patuh. Jangankan untuk berlari atau berteriak, bernafas pun rasanya terlalu kaku untuk kulakukan.
Gelap. Itulah yang kulihat saat jarak kami terlalu dekat, sebuah ruang gelap tempat wajah seharusnya berada, sangat kontras dengan sekeliling kami. Dia tidak berkedip ataupun bersuara, di sekitarnya suhu terasa turun dan suara menjadi teredam.
“aku akan terus mengawasimu, Ale.” Suaranya terdengar menggema berulang dari berbagai arah, sebelum sosoknya menghilang di sunyinya kegelapan.
Suaraku menguap begitu saja ketika kuingin menjerit, berganti dengan rasa sakit yang menghujam leherku oleh cekraman sepasang tangan tak berwujud. Meremas kuat jalur nafasku, dan membawa paksa tubuhku naik setinggi mungkin dalam hitungan detik. Ia menghempaskanku tanpa belas kasihan, membiarkan tubuhku menghantam keras medium di bawah sana.
Ada sebuah seringai samar yang kulihat dalam intesitas gelap tak berujung. Makhluk itu tidak berjalan, melainkan merayap menjauhi tubuhku. Apakah ini nyata? Bahkan tubuhku terasa seperti tertindih timah panas. Berada diambang batas antara ketiadaan dan realitas yang mulai menipis.
Bip…Bip…Bip…
Sayup-sayup ritme monoton yang konstan menusuk keheningan, membawaku melihat cahaya kembali. Orang-orang menyaksikanku membuka mata, ada yang memanggil dokter dan suster juga. Mereka melihatku seperti baru saja kembali dari ambang kematian, sedangkan aku merasa sebaliknya, terlahir kembali menjadi sosok lain.
Tubuhku menjadi rumah yang asing saat masa pemulihan. Aku hampir saja kehilangan keseimbangan sebelum fisioterapis sigap menahan lenganku. Setiap gerakan kecil yang kulakukan selalu menjadi tantangan tersendiri yang harus kupelajari.
Rasa takutku terhadap gelap tidak benar-benar hilang. Sampai aku mulai menanyakan diriku sendiri ketika ketakutanku tidak lagi didefinisikan sebagai seseorang yang mengindap Nyctophobia. Lantas, apa yang selama ini mengawasiku atau yang membuatku takut?
Bertahun-tahun kemudian, aku menjadi psikolog sekaligus penulis buku yang dikenal dengan buku bertema kesehatan mental. Untuk menyembuhkan diriku sendiri, dan membantu orang lain memahami luka batin mereka.
Aku mendengarkan mereka tanpa menghakimi. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bebas dari luka masa lalu, mereka pasti mempunyai bayangannya masing-masing, yang membedakan hanyalah cara mereka berdamai dengannya.
Suatu malam, listrik apartemenku kembali padam. Aku tersenyum tipis seraya berkata pelan, “aku sudah tidak takut.”
Tetapi dari pantulan cermin lemari, ada yang ikut tersenyum. Bukan, itu bukanlah pantulan wajahku. Intensitas gelap itu disana, tidak bergerak, tidak mendekat, ataupun menghilang. Ia hanya berbisik pelan,“sampai jumpa lagi, Ale… ketika kau mulai membohongi perasaanmu sendiri.”
Sosoknya yang datang di kegelapan bukanlah sebagai musuh. Karena aku tahu… ia adalah pengingat agar diriku tidak kehilangan jati diri lagi.
“Mungkin gelap memang tidak diciptakan untuk ditakuti, melainkan sebagai tempat di mana seseorang akhirnya berani melihat dirinya sendiri tanpa adanya kebohongan.”
Download Original File
-

INDAHNYA PERSAHABATAN DALAM KEBERAGAMAN
Bercerita tentang persahabatan anak-anak dengan segala perbedaannya, baik budaya, agama maupun etnis. Namun perbedaan tersebut tak menyurutkan mereka untuk tetap berteman dan melakukan hal-hal postitif karena seungguhnya keberagaman itu indah.
Download Original File
-

Guruku
Gilang is 6 years old kindergarten child trying to express his feelings toward his teachers who helps him a lot in school.
He wrote that his teachers had taught him to count, read, write, experience sport, play together, and still they guide him to manage his raw emotion during early childhood.Download Original File
-

Mantra Perut Bumi
Seorang remaja di Desa Wogo tanpa sengaja menemukan manifestasi panas bumi yang selama ini tersembunyi di balik ladang warga. Penemuan itu membawanya pada fakta tentang proyek geothermal yang kembali dihidupkan, memicu konflik antara harapan akan kemajuan dan ketakutan kehilangan tanah warisan. Melalui dokumentasi yang ia buat, suara warga akhirnya terdengar, membuka jalan bagi dialog dan pembangunan yang lebih berpihak pada masyarakat.
Download Original File
-

broken to became one
menceritakan tentang kisah para remaja di SMA, perjalanan tiga tahun sekolah menghadapi berbagai rintangan dan pengalaman baru yang seru
Broken to Became One
Karya : Habel Priyaguna
Kalau ada satu hari yang nggak bakal pernah bisa aku lupain, mungkin itu adalah tanggal 20 Juli. Hari itu menjadi langkah awal dari perjalananku sebagai siswa SMA. Jujur aja, aku gugup. Berdiri di depan gerbang sekolah yang tinggi bikin jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku memandang sekeliling, melihat siswa-siswa lain yang sibuk mencari kelasnya masing-masing. Semuanya terasa baru dan asing. Aku Cuma bisa menarik napas dalam-dalam sambil berharap semoga tiga tahun ke depan jadi perjalanan yang menyenangkan.
Belum juga rasa gugup itu hilang, tiba-tiba seseorang memanggil namaku dari arah kejauhan. Ternyata Ayu. Aku langsung tersenyum lebar karena nggak nyangka kami bakal sekolah di tempat yang sama lagi. Kami saling bertanya soal kelas yang didapat, dan ternyata kami sama-sama masuk kelas X-F. Rasanya lega banget karena setidaknya aku nggak benar-benar sendirian di hari pertama sekolah. Kami pun masuk kelas bersama sambil sesekali bercanda untuk menghilangkan rasa canggung.
Suasana kelas masih terasa sepi hingga Pak Bayu masuk dan memperkenalkan diri sebagai wali kelas sekaligus guru Bahasa Indonesia kami. Beliau meminta kami memperkenalkan diri satu per satu. Tapi belum sempat semuanya dimulai, pintu kelas tiba-tiba terbuka keras. Ada dua siswa datang terlambat, yaitu Farel dan Reza. Mereka bukannya langsung minta maaf, malah saling menyalahkan soal siapa yang bikin telat. Satu kelas langsung tertawa melihat tingkah mereka, sementara Pak Bayu hanya menggelengkan kepala sebelum akhirnya menyuruh mereka duduk. Dan momen sederhana itu justru jadi awal kami mulai saling mengenal.
Hari-hari berikutnya berjalan begitu cepat. Minggu berganti bulan, dan tanpa sadar kami yang awalnya masih asing mulai akrab satu sama lain. Kelas yang dulu terasa sunyi kini selalu dipenuhi tawa. Ada yang sering bikin lelucon, ada yang selalu jadi tempat curhat, ada yang rajin belajar, dan ada juga yang hobi mengerjai teman-teman. Dan dari sekadar teman sekelas, kini perlahan berubah menjadi keluarga kecil yang saling mendukung dalam banyak hal.
Hingga suatu hari Pak Bayu memberi tugas kelompok tentang sejarah Ciayumajakuning. Kami langsung sibuk membentuk kelompok, membagi tugas, mencari referensi, hingga menyiapkan presentasi. Dan di tengah kesibukan itu, aku mulai menyadari kalau ada salah satu dari temanku yang diam-diam menyukai seorang cowok di kelas kami. Dia nggak pernah mengungkapkan perasaannya kepada siapa pun. Setiap kali cowok itu lewat, sorot matanya selalu berbeda. Namun rasa itu tetap dipendam sampai kami naik ke kelas sebelas.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya sekolah mengadakan pertunjukan drama antarkelas dengan tema kearifan lokal. Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya kelas kami sepakat memilih cerita Mapag Sri. Semua langsung sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang mengurus kostum, properti, naskah, sampai latihan. Awalnya semua berjalan lancar. Kami berlatih bersama dengan penuh semangat karena ingin memberikan penampilan terbaik untuk kelas kami.
Namun, perlahan muncul masalah yang nggak pernah kami duga sebelumnya. Iren sang tokoh utama yang bertugas mengatur latihan mulai bersikap terlalu keras. Mungkin sebenarnya niatnya baik, dia ingin semuanya berjalan sempurna. Tapi lama-kelamaan caranya membuat banyak orang merasa nggak nyaman. Kalau ada yang terlambat langsung dimarahi, kalau ada yang nggak bisa datang latihan karena ada urusan lain tetap dipaksa hadir, dan bahkan pendapat teman-temannya juga sering kali nggak didengarkan. Hingga suasana yang tadinya penuh semangat berubah menjadi canggung. Aku bahkan bisa merasakan jarak di antara kami mulai muncul sedikit demi sedikit.
Hari pertunjukanpun akhirnya tiba. Drama kami berjalan dengan baik dan mendapat tepuk tangan dari banyak orang. Tapi di balik keberhasilan itu, aku melihat Iren duduk sendirian. Wajahnya tampak murung. Mungkin saat itu dia mulai sadar kalau sikapnya selama latihan telah membuat teman-temannya menjauh.
Keesokan harinya, Iren berdiri di depan kelas. Dengan suara yang pelan dan tangan yang sedikit gemetar, ia meminta maaf kepada kami semua. Ia sangat mengakui kalau selama latihan terlalu memaksakan kehendaknya dan tanpa sadar sudah menyakiti perasaan teman-temannya. Awalnya masih ada yang belum bisa menerima permintaan maaf itu. Beberapa teman masih menyimpan rasa kecewa. Tapi Yusa mengingatkan kami kalau setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Aku pun juga ikut mengatakan kalau sebentar lagi kami akan menjadi siswa kelas dua belas. Mungkin rasanya sayang kalau kenangan kami harus dipenuhi dengan rasa marah dan dendam. Perlahan suasana mulai mencair. Satu per satu teman akhirnya memaafkan Iren, hingga senyum kembali muncul di wajahnya, dan sejak saat itu hubungan kami mulai membaik lagi.
Memasuki kelas dua belas, kami kembali menjalani hari-hari seperti biasanya. Belajar bersama, mengobrol di kantin, mengerjakan tugas kelompok, sampai bercanda saat jam istirahat. Rasanya seperti menemukan kembali keluarga yang sempat kehilangan arah, dan di tengah kesibukan menghadapi tahun terakhir sekolah, aku mengusulkan agar kami pergi berlibur ke sebuah vila sebelum lulus. Tanpa berpikir panjang, semua langsung setuju. Hingga kami pun mulai menabung sedikit demi sedikit sambil membayangkan serunya liburan bersama.
Namun, beberapa hari sebelum keberangkatan, aku melihat salah satu temanku berubah menjadi pendiam. Belakangan aku tahu alasannya. Selama ini dia diam-diam menyukai seorang cowok di kelas kami sejak kelas sepuluh. Dia bahkan sudah menyiapkan hadiah untuk menyatakan perasaannya. Namun sayangnya, semua harapannya hancur ketika melihat cowok itu sedang bersama perempuan lain yang ternyata sudah menjadi pilihannya. Hadiah yang dibawanya jatuh ke tanah, sementara air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Melihat kejadian itu membuatku sadar kalau tidak semua perasaan bisa berakhir seperti yang kita harapkan.
Meski begitu, hari keberangkatan ke vila tetap tiba. Semua menikmati perjalanan dengan penuh tawa. Kami bermain, berfoto, menikmati pemandangan, dan menghabiskan waktu bersama. Hanya dia yang masih terlihat murung. Untungnya Farel datang menghampirinya. Dia nggak banyak bicara, hanya duduk menemani di sampingnya. Dan saat itu aku sadar kalau kadang kehadiran seseorang jauh lebih berarti daripada seribu kata penghiburan.
Menjelang sore, aku memandangi teman-temanku yang sedang tertawa bersama. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri, ternyata Tiga tahun berlalu begitu cepat. Dulu kami pernah menjadi orang asing, lalu berubah menjadi sahabat, kami juga pernah tertawa bersama, saling mengejek, bertengkar, saling menyakiti, lalu saling memaafkan. Hingga semua kenangan itu membentuk kami menjadi pribadi yang lebih dewasa. Aku akhirnya mengerti kalau persahabatan bukan berarti tidak pernah memiliki masalah, namun tentang bagaimana kita memilih untuk tetap bertahan dan memperbaiki semuanya bersama-sama.
Kini masa SMA kami telah usai. Masing-masing dari kami akan melanjutkan perjalanan hidupnya sendiri. Namun apa pun yang akan terjadi nanti, aku yakin kenangan tentang kelas ini akan selalu hidup di dalam ingatanku. Dulu mungkin kami pernah retak karena perbedaan dan kesalahpahaman, tetapi kami juga belajar bagaimana cara menyatukan kembali hubungan yang sempat renggang, dan mungkin, itulah arti sebenarnya dari Broken to Became One yaitu retak untuk kemudian kembali merekat, hingga akhirnya kami sadar bahwa kami bukan hanya sebatas teman sekelas, melainkan keluarga yang dipertemukan oleh waktu.
Download Original File
-

Pintu-Pintu Dalam Rumah
tells about the secret behind finance that always flows non-stop
Download Original File

