Category: Submission

  • PARUH DAN SEPASANG CAKAR

    PARUH DAN SEPASANG CAKAR

    CERITA FABEL BERJUDUL PARUH DAN SEPASANG CAKAR, TENTANG SEORANG HEWAN KUCING RAPUH YANG DIBULLY OLEH TEMANNYA YANG SERAKAH DENGAN WILAYAH. NAMUN ADA SOSOK BURUNG KAKAK TUA YANG MEMBANTUNYA SELAMAT DARI MAUT, SINGKAT CERITANYA MEREKA DIBERIKAN NASIHAT OLEH SANG BURUNG BERPARUH DAN PADA AKHIRNYA SADAR LALU MEMINTA MAAF. KARYA INI DITULIS SECARA MANDIRI SEBAGAI BENTUK MENGEKSPRESIKAN NILAI-NILAI KEHIDUPAN MELALUI TOKOH HEEWAN

    JUDUL CERPEN: Paruh dan Sepasang Cakar

    OLEH: Ni Made Pradnya Wati

    “Maww…rrr! Minggir! Tukang penjarah makanan! sejengkal pelataran yang dipijak tungkaimu adalah wilayah kekuasaan kami. dan tiada ruang bagi cakar kotormu untuk mencari makanan di sekitaran sini!” Gertak Jigo berapi-api. Suaranya menggelegar menembus cakrawala, menyiratkan murka yang teramat besar.

    Diikuti oleh Yiki dan Wony, ketiga kucing tamak itu langsung merangsek maju, mendorong, serta mencabik tubuh si Husi. Hingga ia terpojok pasrah di sudut dinding halaman, kilatan kuku runcing mereka seketika meninggalkan luka yang begitu perih di kulit mungilnya.

    Lewat untaian suara yang amat lirih, mengharap belas kasih. “Mee..ow.. tolong ma..afkan kelancanganku, sama sekali tak terpikir di benak bahwa ini adalah kawasan kalian. Aku benar-benar terpaksa mengambil makanan yang bukan hakku, lantaran kelaparan yang teramat mendera. Tolong biarkanlah aku pergi, Husi berjanji tidak akan pernah kembali lagi kemari.”

    Sebaliknya, ratapan pilu ini justru disambut oleh gelak tawa terbahak-bahak penuh ejekan. Alih-alih menaruh iba, Wony yang angkuh kembali mengempaskannya hingga terjatuh tersungkur di atas tanah. Ketiga kucing penguasa itu tiada henti mengintimidasi Husi yang tak berdaya di tepi jalan tersembunyi, tempat kawanan itu biasa menghadang mangsa.

    Tepat saat si Jigo hendak melayangkan cakaran mematikan berikutnya, tiba-tiba sepasang sayap kokoh mengepak membelah udara senja. Birda, sang burung kakaktua, terbang menukik tajam di antara mereka. Ia menyaksikan sosok kucing yang sedang kesakitan meminta bantuan. Tanpa membuang waktu, makhluk bersayap itu langsung melesat menolong dengan kesigapan, ia membusungkan dada, lalu memekik kencang dan nyaring, sehingga membuat gendang telinga para predator ganas itu bergetar hebat.

    Namun, upaya itu tidak mencekam sanubari Jigo dengan kengerian yang justru membuat dirinya merasa tertantang. Menggunakan kekuatan andalannya, ia kembali beraksi, melompat pada tiang tinggi didekatnya dan berusaha mencengkram kepak kokoh sang burung.

    “Maoww… Berani sekali kau ikut campur, makhluk udara!” geram si predator, sembari menghantamkan cakar tajamnya ke arah sasaran.

    Akan tetapi, seringan kepakan pusaran, Birda mengibaskan sayapnya lebar-lebar, meliuk tangkas. Ia mampu menghindari gempuran senjata jemari dari Jigo. “Krrrt…Cakarmu hanya membelah angin kosong! Makhluk darat.” Sembari menggoyangkan sayapnya. “Sebenarnya aku tidak ingin menyerangmu, aku hanya ingin menolong temanmu yang sedang kau sakiti” tuturnya tenang di atas ketinggian. Ucapan itu nyatanya membuat Yiki dan Wony mengambil kesempatam mengompori Jigo untuk terus melawan dan menepis amanatnya, kedua sekutu predator ini meremehkan petuah Birda.

    “Ayo Bos jangan biarkan dirimu kalah dari seorang burung kakaktua, itu adalah mangsa kita! Ujarannya itu hanya manipulasi…” Akibat hasutan dua teman licik, saat itu juga bara amarah di dalam dadanya pun kian berkobar, Jigo bangkit melancarkan serangan dahsyat.

    Meskipun begitu, seluruh kepungan mereka berujung hampa. Sang burung bersayap indah itu sangatlah lincah, ia mampu menghindari setiap terjangan, meskipun predator terus memanjat dengan cepat ke tempat yang tinggi, bahkan kedua temannya turut membantu menyergap.

    Dalam keadaan yang begitu murka, sang burung kakak tua memberikan gempuran pamungkas kepada lawannya. Memanfaatkan paruhnya yang tajam, untuk mematuk bagian tubuh terlemahnya yaitu mata. Hantaman itu seketika membuat Jigo mengerang perih, bahkan seulas cairan merah pekat mulai mengalir pasrah dari sudut kelopak matanya.

    Kedua temannya mengira Birda bukan apa-apa tetapi pikiran liciknya salah, sekarang mereka telah tahu bahwa burung berparuh itu memiliki kekuatan melebihi diri mereka masing-masing. Sebab sudah tak tahan jika diserang kembali dan pada akhirnya kalah, Jigo pun terpaksa menyingkir kemudian meminta maaf kepada Birda walau tubuhnya terluka karena patukan darinya.

    “Meow… Burung kakaktua yang perkasa, mohon ampunilah kami. Sekarang kami bertiga telah tahu bahwa dirimu adalah unggas pemberani. Kawanan kami akan pergi secepatnya tidak akan mengganggu atau menyerang mu lagi. Aku, Yiki, dan Wony berjanji…” Mereka bertiga menunduk meyakini sang sayap perkasa untuk memaafkannya.

    Karena sudah merasa sentosa bahwa predator akhirnya menyerah Birda turun dengan hati-hati. Ia memberi saran agar semuanya bisa terkendali tanpa perkelahian. “Krrtt… Hei para kucing, aku bukannya ingin menggurui di sini, tetapi hanya ingin kedamaian di antara kalian sesama makhluk berbulu. Aku hanya ingin kalian bertiga berdamai dengan meminta maaf kepada korban yang telah kalian intimidasi.” Setelahnya, ia terbang ke arah belakang, mendorong ketiga kucing itu yang masih ragu. “Aku akan membiarkan kalian pergi jika sudah meminta maaf.”

    Karena dorongan dari si Birda, mereka pun meminta maaf, mengubah perbuatan kasarnya menjadi kelembutan. “Maafkan kami, Husi. Kami sangatlah jahat kepadamu, melukai kulitmu yang rapuh hanya karena keserakahan yang telah menguasai pikiran. Mulai hari ini kami tidak akan melukai dan mengganggumu lagi dan jika engaku ingin ke wilayah ini aku akan jamin tidak ada yang akan mengancammu lagi…”

    Mendengar penuturan itu, butiran air mata jatuh di raut Husi. Walau ragu, ia mencoba mendekat dan mengampuni tingkah mereka yang menyakitinya. “Aku juga meminta maaf kepada kalian. Seharusnya aku tidak seenaknya mencari makanan di sekitaran daerah yang mungkin belum ku kenali.” Husi menundukkan kepalanya. Meski luka itu masih berbekas, ia dengan keikhlasan menyadari kesalahan disertai penyesalan yang mendalam.

    Menyaksikan kemurnian hati Husi, Jigo perlahan mendekat meskipun penglihatannya agak buram ia berusaha mengulurkan cakarnya dan membagi beberapa pasokan makanan untuknya, Yiki dan Wony menyentuh Husi, mengajak sambil berbicara perlahan. “Meow… Husi, ayo ikut bersama kami. Menikmati santapan bersama-sama pasti menyenangkan. Kami masih sangat menyesal telah melukaimu sampai seperti ini.”

    Husi masih Ragu, namun tetap ikut melangkah karena ajakan damai mereka. “Tidak apa-apa, luka ini pasti akan cepat sembuh. Baiklah aku terima undangan kalian. Terima kasih ya semuanya.”

    Husi tak lupa juga berhutang budi kepada Birda yang telah menyelamatkan serta menyadarkan ketiga sesamanya. Ia menunduk dalam-dalam penuh takzim. “Wahai Burung kakaktua, terima kasih banyak telah melindungiku. Engaku benar-benar mulia, tulus kepada siapa pun tanpa memandang perbedaan jenis. Sekali lagi terima kasih, aku pasti akan selalu mengingat kebaikanmu.”

    Untaian kalimat itu membuat hati Birda benar-benar tersentuh. “Sama-sama kucing. Memang sudah kewajiban kita menolong siapapun tanpa melihat perbedaan, tapi kita juga harus berhati-hati. Jangan sampai niat baik tersebut justru berbalik menjadi ancaman bagi diri kita sendiri…” Nasihat bijak Birda seketika menyadarkannya bahwa setiap makhluk hidup berhak dilindungi, dikasihi, dan dihargai.

    Dari segala riuh pertengkaran, permohonan maaf yang telah terucap. Pada akhirnya Birda, Husi, Jigo,Yiki, dan Wony. Tumbuh menjadi karib yang saling mengampuni. Walau mereka terlahir dari jenis darat maupun udara yang jauh berbeda, batasan wujud itu sama sekali tidak menghalangi kemurnian sanubari mereka untuk terus berjalan beriringan, merajut sebuah jalinan persahabatan yang sejati dan abadi di dalam sebuah kota.

    Download Original File

  • Suatu Kisah Tanpa Kabar

    Suatu Kisah Tanpa Kabar

    Berisi tentang seseorang yang mencintai insan lainnya. Akan selalu mencintau bahkan hingga dunia di ujung tanduk atau jiwanya yang akan diambil oleh takdir.

    Suatu Kisah Tanpa Kabar

    Penulis: Anastasya Galuh Puspita Dewi

    Kisah dua insan dan marabahaya,

    dirimu yang bercerita.

    Slalu-ku tunggu hingga akhir dunia.

    Nanti, kita kan menjadi pemerannya,

    semoga terjawab “berliang satu”,

    kala dirimu bertanya.

    Kala matahari menembus massanya,

    kan meledakkan bantara semesta,

    hingga jiwamu runtuh di dalamnya.

    Ragamu kan bersinar bak cahaya.

    Berakhir melayang pada semesta.

    Nadi berhenti Bumi bekerja,

    namun, cakrawala melihatnya.

    “Sayangku, smoga jiwamu tetap sama.”

    “Sayangku, smoga kita slalu bersama.”

    Profil Penulis: Anastasya Galuh Puspita Dewi, manusia yang pernah terlahir di 28 Desember 2011. Duduk pada bangku SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta, duduk pula sebagai pencari jati diri. Anastasya tertarik pada seni dan kreativitas terutama pada bidang menulis, dirinya sedang berjalan menulis novelnya dan menulis beberapa cerita pendek, selain itu bermain gitar juga menjadi salah satu hobinya entah sedang luang atau di tengah-tengah pekerjaan, Ia juga pernah menjuarai pada bidang paduan suara. Selain seni, Anastasya juga tertarik pada bidang penelitian atau Karya Ilmiah Remaja dan telah menjuarai beberapa kompetisi.

    Download Original File

  • Menjelajah Dunia

    Menjelajah Dunia

    Puisi ini lahir karena penulis menyukai negara, yang muncul sejak piala dunia 2022 lalu. Sejak itu, dia mulai mengenal bendera, lanjut negaranya hingga cerita tiap negara.

    Jelajah Dunia

    Ku bentang peta diatas meja

    Penuh warna membias cerita

    Garis, simbol dan nama

    Mengundangku mengenal dunia

    Negara terluas itu adalah Rusia

    Berjuluk Beruang Merah sebagai simbol negaranya

    Masuk dalam negara adidaya

    Terkenal maju dalam banyak lini dunia

    Bentuk yang unik itu adalah Italia

    Pusat sejarah, seni dan mode dunia

    Situs sejarah banyak tertujam disana

    Dari keindahan alam, kekhasan tradisi hingga olahraga sudah mendunia

    Kutatap Jepang dengan sakuranya

    Negara maju, tertib dan bersih ikonnya

    Salam tegap penuh rasa hormat

    Disiplin ketat tertanam dimasyarakat

    Negeri kita Indonesia

    Membentang jauh dilewati Khatulistiwa

    Ragam corak bahasa suku budaya

    Tak kan lekang keindahannya

    Dunia sangatlah luas

    Menggelitik angan terbang bebas

    Suatu saat nanti kubawa diri

    Menjelajah tiap negri dengan hati

    Peta adalah buku

    Negara-negaranya menyimpan cerita

    Dengan gemar mencari ilmu

    Akan kau temui indahnya dunia

    Muhammad Zaidan

    Download Original File

  • Permintaan Tolong yang Tersembunyi dan Terlambat Diketahui

    Permintaan Tolong yang Tersembunyi dan Terlambat Diketahui

    Seringkali kita fokus pada ceritanya, bukan permintaan tolongnya. Puisi ini dibuat berantakan, untuk menampung keresahan ini. Dan puisi ini tidak menghakimi orang lain. Saya cuma teringat dengan kawan saya.

    Download Original File

  • Tiga sahabat bintang

    Tiga sahabat bintang

    Tiga siswi yang saling bersahabat yang akan berkompetisi bersama, tiba-tiba saling bermusuhan hanya karena masalah sepele. Salah satu dari mereka merencanakan sebuah kejutan rahasia untuk memperbaiki persahabatan

    Download Original File

  • Bahu Yang Tak Pernah Mengeluh

    Bahu Yang Tak Pernah Mengeluh

    Cerita pendek diatas bercerita tentang bagaimana kerasnya hidup sebagai anak pertama. Dan dari cerita di atas kita menyadari satu hal,bahwa: Kadang sosok yang terlihat paling kuat, dia juga lah yang sedang memikul beban yang berat.

    Download Original File

  • Masa Depan

    Masa Depan

    Puisi menceritakan tentang semangat seorang anak untuk mencapai cita-cita nya setelah belajar dari buku-buku yang dia baca.

    Download Original File

  • 1. Jejak Aksara 2. Kartini di Ujung Tempat Sampah

    1. Jejak Aksara 2. Kartini di Ujung Tempat Sampah

    • Penjelasan cerpen: Jejak Aksara
    Kepulangan Gendhis ke rumah masa kecilnya di Solo membawanya pada sebuah kardus tua yang telah lama terkunci. Di dalamnya tersimpan jejak-jejak warisan Mbah Kung yang perlahan membuka kembali kenangan tentang bahasa, permainan, dan aksara Jawa yang hampir ia lupakan. Di tengah pencarian jati dirinya sebagai gadis berdarah campuran Indonesia-Belanda, Gendhis dihadapkan pada satu pertanyaan: mampukah ia menjaga warisan yang nyaris hilang, atau membiarkannya lenyap bersama waktu?

    • Penjelasan cerpen: Kartini di Ujung Tempat Sampah
    Selama tiga bulan, seorang siswi memilih diam saat terus diminta membuang sampah teman sekelasnya. Rasa takut membuatnya mengubur keberanian, hingga suatu hari ia menemukan sebuah kartu bertuliskan pesan R.A. Kartini di ujung tempat sampah. Kalimat sederhana itu mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Sejak saat itu, ia menyadari bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk perlawanan besar, tetapi juga melalui langkah kecil untuk menolak diperlakukan semena-mena dan mulai peduli pada bumi. Sebab, perubahan selalu berawal dari keberanian seseorang untuk bergerak.

    Download Original Files

  • Bersama Choco

    Bersama Choco

    Reza yang di perjalanan pulang bertemu dengan Kucing Coklat yang kerjaannya mencari perhatian. Kucing itu akhirnya menjadi penyelamat, pengubah bagaimana cara dia bersikap, sampai mengubah masa depan Reza. Cerita berakhir dengan Choco yang nantinya akan membersamai Reza mencari versi terbaik dirinya.

    Download Original File

  • Kita Masih Bersama

    Kita Masih Bersama

    Puisi i tentang indahnya rasa kebersamaan dan solidaritas di antara sahabat. Lewat kata-kata yang menyentuh, puisi ini ngejelasin kalau persahabatan itu bukan cuma soal jalan bareng, tapi tentang gimana kita saling nemenin pas lagi senang ataupun susah. Perbedaan yang ada di antara teman-teman justru bikin pertemanan itu jadi makin berwarna, bukannya malah bikin jarak. Inti dari puisi ini mau nyampein pesan kuat kalau walaupun nanti waktu dan jarak bakal misahin tempat duduk atau sekolah kita, kenangan manis yang udah diukir bareng-bareng—mulai dari berjuang, tertawa, sampai bertekad bersama. Selama semangat persaudaraan itu dijaga, kita bakal tetep ngerasa selalu bersama.

    Kita Masih Bersama

    Oleh: M. Aiman

    Kita bukan sekadar nama,

    bukan langkah-langkah yang saling bersusulan.

    Kita adalah sebuah kisah

    yang ditulis oleh tawa,

    dibentuk oleh perjuangan,

    dan dipertebal oleh harapan.

    Saat matahari bersinar,

    kita melangkah dengan senyum.

    Saat hujan turun,

    kita tetap berdiri—

    karena tidak satu pun

    berjalan sendirian.

    Perbedaan bukanlah jarak,

    melainkan warna

    yang menyatukan perjalanan.

    Genggaman tangan menjadi janji:

    bahwa setiap langkah

    akan selalu ditemani seorang teman di sebelahnya.

    Mungkin waktu akan memisahkan tempat,

    tapi ia tidak akan mampu

    menghapus kenangan.

    Sebab persahabatan yang sejati

    Jarak tidak mengukur seberapa dekat tindakanmu,

    bukan karena kekuatan otot,

    Dan ketika hari ini

    menjadi kenangan esok hari,

    biarkan dunia tahu

    bahwa kita pernah berjalan bersama,

    berjuang bersama,

    tertawa bersama.

    Selama semangat itu masih hidup

    selama persaudaraan dijaga

    satu kalimat akan selalu bergema

    "Kita masih bersama"

    Download Original File

  • Kill And Eat

    Kill And Eat

    Cerita ini seru sekaligus ngeri banget, menceritakan tentang Maudy yang gak sengaja masuk ke toko buku aneh dan nemu buku tentang psikopat. Gak lama setelah itu, dia dapet kabar kalau sahabatnya, Lili, meninggal dengan kondisi yang mengenaskan banget. Pas Maudy main ke rumah sahabatnya yang lain bernama Vanya, dia malah nemuin kenyataan yang bikin syok berat: ternyata Vanya dan ibunya itu psikopat kanibal yang udah ngebunuh dan masak dagingnya Lili! Maudy dijebak dan harus taruhan nyawa di ruang bawah tanah yang penuh potongan tubuh manusia. Walaupun Maudy akhirnya kalah, tapi di detik-detik terakhir dia cerdik banget karena diem-diem berhasil ngelakuin live streaming pakai HP-nya. Akhirnya, kejahatan sadis Vanya terbongkar dan ditonton sama ribuan orang secara langsung!

    Kill And Eat

    “How do psychopaths eat their prey?" Maudy melihat salah satu buku tua dan usang yang terletak di rak buku paling pojok. Rak itu mungkin kumpulan buku-buku yang tidak laku karena masih tertata rapi dengan debu-debu yang dapat mengundang bersin pada setiap orang yang mendekati rak tersebut, hal itu berlaku juga kepada maudy.

    “ Gila, kok bisa ya ada buku yang judul nya ngeri gini, ihhh merinding gua”

    Maudy berlari kecil menuju kasir dan menunjukan buku yang akan ia beli.

    “ Ini aja mba?” Maudy mengangguk pelan, wajah kakek-kakek penjaga kasir itu membuat maudy tidak nyaman.

    “ Mba nya baru pertama kali ya ke toko buku ini?” Kakek itu tertawa kecil.

    “Iya, emang kenapa” Maudy menjawab dengan nada tidak enak.

    “ Hihihiiii nggak ada apa-apa sdih mba, yaa berarti mbak nya belum terbiasa aja”

    Kakek itu sudah membungkus buku yang maudy beli dan memberikan struk nya.

    “ asal tau ya mba, toko buku ini meskipun keliatan nya sepi tapi sebenarnya rame kok, mba nya aja yang ngga liat soalnya toko ini tuh bukan rame sama orang, hehehe” Maudy mengambil buku dan struk nya, sembari melihat senyum kakek itu yang menunjukan gigi nya, maudy terkejut dan berlari karena melihat gigi kakek tersebut sangat menjijikan ditambah dengan dua belatung didalamnya.

    “ Ih gila ya! Gua udah dikerjain lagi aja! Eh, tapi ini buku asli, struk nya juga…”

    Maudy melihat toko buku itu yang masih kelihatan normal.

    “ Kayaknya kakek itu aja deh yang gila”

    “ Kriiing kriiing..” Ponsel maudy berbunyi.

    “Assalamu'alaikum, maudy” Yang menelpon adalah salah satu dari lima sahabat maudy bernama Varrel.

    “ Iya, kenapa rel?”

    Dengan nada terisak Varrel mengabarkan sebuah kabar duka.

    “ maud, lili, lili maud… ..lili meninggal… .”

    Tubuh maudy seketika lemas, kaku, air mata nya mengalir dengan deras tanpa ia sadari.

    “ Maud, lo kerumah lili ya? Kita semua udah disini, gua nyuruh shaqi buat jemput lo, lo harus liat gimana kondisi lili maud”

    “ Emang lili meninggal kenapa rel?! Tadi pagi kita masih video call- an loh!” Emosi maudy mulai tidak bisa terkendali saking syok nya. Dari jauh ia melihat lampu motor yang ia kenali, itu adalah motor shaqi yang akan menjemput nya.

    “ Gua kesana sekarang, shaqi udah datang.”

    “ Oke, kita semua bakal nunggu kalian”

    15:00, akhirnya maudy daan shaqi pun sampai di rumah maudy yang sudah dihadiri banyak orang, maudy lekas mendatangi orang tua nya lili dan memeluk nya, juga melihat jasad sahabat nya dengan kondisi. Mengenaskan, Lagi-lagi maudy menangis kencang. Jasad lili hanya tersisa kepala dan tangan kirinya, dua mata, dua telinga, dan hidung nya terpisah dari kepalanya. Maudy berteriak

    “ Siapa Yang berani buat lo kayak gini hah?!! Siapa orang nya?! Biar gua bunuh juga……” Suasana yang amat dramatis terjadi, Vanya memeluk maudy dengan erat, semua orang menangis meratapi kepergian lili dengan keadaan di luar logika.

    ***

    “Maudy, Vanya, Varrel, Shaqi, makasih banyak ya, udah jadi sahabat terbaik buat lili, tante sama om akan pindah ke Singapura dan memulai hidup baru, kalian sehat-sehat ya, dan.. Jangan pernah ngelupain lili ya?” Mereka semua mengangguk dan memeluk ibu lili untuk terakhir kali nya.

    Mereka terus mencoba menghentikan tangis, dan Vanya memulai obrolan jdengan suasana yang canggung.

    “Hmm… biasanya lili yah yang paling rame orang nya hehe… . . Oh iya, Maud, main ke rumah gua yuk? Lu belum pernah kan? Ayolahh sekali- sekali…”

    Maudy mengangguk, dibalas dengan pelukan Vanya.

    “ Kita nggak di ajak nih?” Sahut Shaqi.

    “ Ihh… kalian mah lain kali aja, kita mau ngomongin tentang perempuan, jadi… next Time ya, oke?”

    “ Yaudah kita cabut duluan ya? Bye nya, maud”

    “ Bye”

    “Bye”

    10 menit kemudian mereka pun sampai di rumah Vanya, Maudy melihat takjub dengan kemegahan dan kemewahan rumah vanya.

    “ Kok lu ngga pernah cerita sih kalau rumah lu gede? Ih jahat banget deh”

    “ Hehe… sori ya, rencana nya gua mau ngasih suprise pas gua ultah tapi ya gapapalah lagian lili udah pergi, jadi udah nggak suprise. Oh, lu masuk dulu aja gua mau markirin mobil dulu, itu ada satpam gua pak roni, bilang aja sahabat nya Vanya, oke?”

    Maudy mengangguk dan keluar dari mobil, ia berjalan menuju gerbang.

    “ Pak, saya temennya Vanya, mau main”

    Satpam itu mengangguk dingin. Maudy kembali terus melangkah dan mengetuk pintu, tapi sebelum ia melakukan nya, pintu itu sudah terbuka secara perlahan. Sedikit aroma busuk menusuk hidung Maudy, ia segera menutup nya dan mengucapkan salam.

    Tidak ada yang membalas nya, ia perlahan menoleh ke belakang dengan wajah sedikit cemas, dan saat itu juga pak roni sudah berada di belakang dengan wajah yang pucat.

    “ Kamarnya non Vanya ada di lantai 2 paling pojok, mau saya antar?”

    Maudy menggeleng, perasaannya tidak enak, ia pun berlari kecil meninggalkan pak roni.

    Sesampainya Maudy di depan kamar Vanya, ia langsung membuka pintu tanpa memikirkan etika, pikirannya sudah mulai kacau. “ Va, Vanya? Kok lu disini sih? Bukannya… . Ia… habisnya lo lama, jadi gua duluan deh, tadi lo dikasih tau Pak Roni kan? Ia itu gua yang nyuruh.”

    Potong Vanya dengan senyum yang manis.

    Tapi lagi-lagi Maudy tidak habis pikir dengan apa yang sedang Vanya kerjakan.

    “ Vanya lo ngapain ngegesekin tangan lo pakai pisau? Lihat tuh berdarah semua”

    Maudy menghampiri Vanya dan mengambil pisau tersebut.

    “ Mau gua obatin?…. Gausah!”

    Jawab Vanya dengan nada yang tegas, dan itu membuat Maudy terkejut.

    “ Eh, maaf ya…. Hmmmm… gimana kalau kita makan malam aja sama keluarga gua? Sama Nyokap”

    Maudy tidak menjawab langsung, ia merasakan kejanggalan dari sikap Vanya

    “ Ayo, Nyokap gua udah masak loh, sengaja karena ada lu. Ayo ah”

    Vanya meraih tangan Maudy dan mereka berlari kecil menuruni tangga.

    “Mah, ada… Maudy, sahabat aku yang suka aku cerita itu loh”

    Maudy tersenyum, ibu Vanya sedang mengiris cabai dan langsung menatap Maudy dengan tatapan kagum.

    “Maudy, tante”

    Maudy menyalami ibu Vanya.

    “ Duduk Maudy… . Kamu cantik yah”

    “ Hehe makasih tante bisa aja deh”

    Suasana hati Maudy mulai membaik.

    Meja makan itu penuh dengan hidangan mewah dengan porsi yang banyak pula.

    “ Ini.. Apa nggak kebanyakan ya tante? Kayaknya nggak akan habis deh”

    Vanya dan ibu nya saling tatap dan tersenyum.

    “ Gapapa Maudy, daging di rumah kita emang banyak banget, jadi kalau ini nggak habis bisa di buang, kan ada yang baru”

    “Oh… gitu ya tante. Hmm.. Oke”

    Maudy memulai suapan yang pertama, ia pura- pura mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibu Vanya.

    Maudy melahap daging tersebut, tidak bisa berhenti.

    “ Mmmmm… ini enak banget Vanya, tante, daging apa ini?”

    Vanya dan ibu nya lagi-lagi saling tatap dan tersenyum.

    “ Itu daging sapi, Maudy” Jawab Vanya

    “ Daging sapi? Masa sih? Hmm.. Tekstur nya beda yah dikirain aku daging unta.”

    “ Ya bukanlah Maudy..” Kali ini ibu nya Vanya yang menjawab

    “ Tante tau kenapa daging ini tuh eeeenak banget”

    “ Oh, kenapa tante?” Maudy sangat antusias, ia berpikir bisa membuat nya juga di rumah dari resep ibu nya Vanya.

    “Iya lah enak.. Ini kan daging sahabat kamu Maudy. Hihihihihi…”

    Bersamaan saat Maudy menelan daging nya, ia menjatuhkan pisau dan garpu, ia sangat tidak mengerti dengan apa yang ibu Vanya katakan, ia pun langsung menoleh ke Vanya, ia masih berpikir positif

    “ Itu daging nya Lili, Maudy”

    Maudy menutup mulut setelah memuntahkan semuanya, ia sudah curiga mengapa rasa daging nya sangat berbeda

    “ Sekarang lo tau kan kenapa seluruh anggota tubuh Lili yang ada Daging nya itu hilang semua? Hahahaha… karena daging nya Lili udah di perut kita, Maudy”

    Tanpa menjawab apa pun Maudy langsung mengacak-acak semua yang ada di meja makan. Maudy memberontak, ia melempar gelas kaca ke arah Vanya.

    “ Aaaaaaaaaa mamah, sakiiit”

    “Vanya!” Maudy menahan ibu Vanya.

    “ Apa yang kalian lakukan ini udah lebih dari kriminal! Jadi kalian yang bunuh Lili? Itu sahabat lo juga Vanya! Apa motif kalian hah?”

    Dengan wajah yang berdarah- darah dan serpihan kaca yang menempel di wajah nya Vanya bangkit kembali

    “ Gausah sok jagoan lo! Sahabat? Sejak kapan gua nganggep kalian tuh sahabat? Gua… . Cuman pengen daging kalian aja”

    Vanya mencekik Maudy, wajah nya sangat mengerikan. Tapi beberapa saat kemudian Maudy menampar nya, dan menendang nya sampai mental, di kamar nya memang banyak sekali penghargaan taekwondo yang ia dapatkan sejak SMA.

    “gua nggak akan biarin kalian, gua bakal lapor polisi… .. Ahh!”

    Ibu Vanya memukulnya dari belakang menggunakan panci bekas daging-daging yang di mutiasi, masih banyak sekali darah nya.

    Maudy membuka mata, kepala nya masih sangat pusing, ia berada di ruang bawah tanah yang dingin. Di hadapan nya terdapat 4 kulkas transparan yang isi nya potongan daging dan anggota tubuh manusia lain nya. Maudy pun berteriak saking syok nya.

    “ Aaaaaaaaaaaaa!”

    Napas nya tidak teratur, pikiran nya campur aduk, rasanya lemas sekali tapi ia tahu bahwa ia harus segera melarikan diri.

    “ Ha-hp gua… . .” Maudy terus mencari nya, wajah nya sudah sangat kacau apalgi dengan kedua tangan dan kaki nya yang terikat mati.

    Suara langkah kaki terdengar, itu adalah Vanya dan Ibu nya, mereka sudah ganti baju dan berdandan, Maudy dapat melihat wajah asli Vanya yang terlihat lebih menyeramkan.

    “ Kenapa Vanya? Ke, kenapa lo tega ngelakuin ini ke Lili dan gua? Kita best friends forever kan? Lo yang bilang sendiri pas kita muncak. Tapi.. Sekarang lo sadis banget ke kita..”

    Vanya mendengarkan tanpa merubah raut wajah nya yang menyeramkan.

    “ Gua, ngedeketin kalian, karena kalian semua itu enak. Daging kalian enak!”

    Ibu Vanya mengambil pisau besar mengasah nya tepat di depan Maudy

    “ Se, semua? Maksudnya?”

    Vanya membenarkan rambut nya yang panjang.

    “ Iya, target gua itu bukan lo sama Lili aja, tapi Varrel dan Shaqi juga, tapi nanti. Gua dan nyokap belum puas sama daging perempuan, dan kita bakal puas setelah makan daging lo Maud, hahahahaha”

    Tubuh Maudy semakin lemas, ia tahu bahwa ajak nya akan menjemput sebentar lagi, tapi disaat Vanya dan Ibunya sedang sibuk mengasah dan tertawa, akhir nya Vanya menyadari bahwa handphone nya berada persis di belakang nya.

    Ia terus mencoba agar bisa meraih nya diam- diam dan live- streaming dia platform apa saja, agar kelakuan keji Vanya dan Ibunya bisa tertangkap basah.

    “ Mau ngapain lo?!”

    Vanya menyadari Maudy sedang mengutak- atik handphone nya.

    “ Apa! Gua masih sanggup buat ngelawan lo Nya Hiaah!”

    Maudy bangkit, meski tubuh nya di ikat, ia mendorong Vanya dengan kepala nya dan mengejar nya, ia menggigit sebilah pisah dan mencoba menusuk Vanya, tapi usaha itu tentu saja mentah, Vanya dengan mudah meraih pisau itu dan menusuk perut Maudy.

    “ Aaaaaaaah!” Maudy berteriak kesakitan, tapi masih tidak menyerah, ia menggigit rambut Vanya dan meludahi nya, setelah Vanya teralihkan, giliran Maudy yang menggigit pipinya hingga berdarah, Vanya terjatuh dan lagi- lagi Maudy menyerang nya tanpa ampun, Menginjak, menendang segala cara ia lakukan untuk memberontak.

    “ Aahh! Aah! Maudy, Maudy cukup! Gua gua… . . Gua apa! Lo lebih pantas mati dari pada gua tau gak!”

    Sebelum serangan terakhir nya, Maudy sudah terlambat. Sepersekian detik kemudian kepalanya ditusuk dengan pisau besar yang sangat tajam oleh ibu nya Vanya, dan sekarang giliran Maudy yang telah gugur.

    “ Kamu gapapa, sayang?” Tanya ibunya penuh kasih sayang

    “ Gapapa mah, besok kita akan makan enak” Vanya tersenyum, ia melihat foto mereka berlima di puncak gunung yang ia letakan di ruang bawah tanah itu, di foto itu, wajah Lili dan Maudy di coret dengan tanda x. Ia dan ibu nya pun kembalii ke atas. “ Roni, tolong bereskan makan siang kita!”

    Saat mereka melangkah terus ke atas, tanpa mereka sadari, bahwa rencana Maudy berhasil, ada ribuan orang yang menonton live kejadian tadi, termasuk Varrel dan Shaqi.

    Tamat

    ***

    Ahmad Amar adalah seorang siswa kelas 9 yang bersekolah di Madrasah berbasis pesantren di Kota Bandung.

    Download Original File

  • Kesetiaan Cahaya di Setiap Langkah

    Kesetiaan Cahaya di Setiap Langkah

    Sang Cahaya di atas cahaya, yaitu Tuhan memiliki kesetiaan atas cintaNya kepada kita, tanpa batas dan tak pernah pudar ssedikitpun terlepas bagaimana kita dan apakah kita menyadarinya atau tidak. Maka, bukankah wajar bagi kita untuk mencintaiNya, dengan cara melaksanakan kewajiban kita sebagai individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan.

    Download Original File